
Kerajaan Kediri, atau sering juga disebut sebagai Panjalu, adalah salah satu kerajaan Hindu terbesar di Jawa Timur yang berpusat di tepian Sungai Brantas. Kerajaan ini merupakan penerus dari Kerajaan Kahuripan (turunan Wangsa Isyana dari Medang Kamulan) yang dibelah oleh Raja Airlangga.
Profil Singkat Kerajaan
- Nama Kerajaan: Kediri (Panjalu).
- Hubungan dengan Medang Kamulan: Kediri adalah kelanjutan dinasti Wangsa Isyana yang didirikan Mpu Sindok (Kerajaan Medang periode Jawa Timur).
- Corak Agama: Hindu (terutama aliran Siwa), namun toleransi terhadap Buddha juga berkembang.
- Lokasi: Berpusat di Dahanapura (Daha), sekarang menjadi wilayah Kota dan Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Wilayahnya membentang di sepanjang daerah aliran Sungai Brantas.
Sumber Sejarah
Untuk merekonstruksi sejarah Kediri, para sejarawan mengandalkan dua jenis sumber utama:
1. Sumber Dalam Negeri
Sumber ini berupa peninggalan tertulis (prasasti) dan karya sastra (kitab) yang ditulis oleh para pujangga keraton.
- Prasasti: Prasasti Banjaran (1052 M), Prasasti Padlegan (1117 M), Prasasti Hantang (1135 M), Prasasti Jaring (1181 M), dan Prasasti Kamulan (1194 M).
- Karya Sastra: Kitab Kakawin Bharatayuddha, Kitab Hariwangsa, Kitab Gatotkaca Sraya, dan Kitab Smaradahana.
2. Sumber Luar Negeri
Berita dari Cina sangat penting untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi masyarakat Kediri di mata dunia internasional.
- Kronik Chu-Fan-Chi: Ditulis oleh Chao Ju-kua (1225 M), menggambarkan kedahsyatan angkatan laut Kediri dan komoditas perdagangannya.
- Kronik Ling-wai-tai-ta: Ditulis oleh Chou Ku-fei (1178 M), yang menyebutkan bahwa di dunia ini ada dua kerajaan yang sangat kaya dan hebat, yaitu Kerajaan Arab (Bani Abbasiyah) dan Kerajaan Jawa (Kediri).
Daftar Raja yang Memerintah
Berikut adalah urutan raja-raja yang tercatat pernah memerintah Kediri:
- Sri Samarawijaya (Raja pertama setelah pembelahan kerajaan Airlangga).
- Sri Jayawarsa.
- Sri Bameswara.
- Sri Jayabaya (Membawa Kediri ke puncak kejayaan).
- Sri Sarweswara.
- Sri Aryaswara.
- Sri Gandra.
- Sri Kameswara.
- Sri Kertajaya (Raja terakhir).

Awal Mula dan Berdirinya Kerajaan
Konteks Sejarah, Politik, Sosial-Ekonomi, Hukum, dan Militer
Sejarah berdirinya Kerajaan Kediri tidak lepas dari peristiwa pembagian takhta Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan pada tahun 1042 M. Untuk menghindari perang saudara antara kedua putranya, Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan, Airlangga membagi wilayahnya menjadi dua: Janggala (ibukota Kahuripan) dan Panjalu (ibukota Daha/Kediri). Pembagian ini konon dilakukan oleh Mpu Bharada dengan menuangkan air kendi dari udara yang membelah sungai Brantas. Panjalu diberikan kepada Sri Samarawijaya, sedangkan Janggala kepada Mapanji Garasakan. Inilah titik awal lahirnya entitas politik yang kemudian kita kenal sebagai Kerajaan Kediri.
Pada masa-masa awal pembentukannya, kehidupan politik Kediri diwarnai oleh ketegangan yang konstan dengan saudara mudanya, Janggala. Meskipun niat awal Airlangga adalah perdamaian, kedua kerajaan ini terlibat dalam perang saudara yang berkepanjangan selama beberapa dekade. Selama masa pemerintahan raja-raja awal seperti Sri Jayawarsa dan Sri Bameswara, fokus utama kerajaan adalah konsolidasi kekuatan internal dan upaya menundukkan Janggala. Legitimasi kekuasaan raja sangat ditekankan melalui gelar-gelar keagamaan, di mana Raja dianggap sebagai titisan dewa (biasanya Wisnu atau Siwa) untuk menjaga keteraturan dunia (Dharma).
Secara geografis, letak Kediri sangat strategis karena dibelah oleh Sungai Brantas. Sungai ini bukan hanya sumber irigasi yang vital, tetapi juga jalan raya utama lalu lintas perdagangan masa itu. Wilayah pedalaman Kediri yang subur menjadikan kerajaan ini memiliki basis ekonomi agraris yang sangat kuat. Pertanian padi menjadi komoditas utama yang menjamin ketahanan pangan rakyat dan stabilitas kerajaan. Surplus hasil pertanian ini kemudian dibawa ke pelabuhan-pelabuhan sungai untuk diperdagangkan, menciptakan siklus ekonomi yang sehat antara wilayah hulu dan hilir.
Selain pertanian, aspek sosial ekonomi Kediri sangat maju dalam bidang perdagangan maritim. Berita dari Cina (Ling-wai-tai-ta) menyebutkan bahwa Kediri memiliki pelabuhan dagang yang ramai, kemungkinan besar di Hujung Galuh (sektar Surabaya sekarang) atau Canggu. Para pedagang Kediri berinteraksi dengan saudagar dari Arab, India, dan Tiongkok. Komoditas ekspor andalan meliputi kayu cendana, lada, pala, gading gajah, dan hasil bumi lainnya. Sistem transaksi tidak lagi hanya barter, tetapi sudah menggunakan mata uang yang terbuat dari emas dan perak, serta uang kepeng Cina, menunjukkan tingkat monetisasi ekonomi yang tinggi.
Struktur masyarakat Kediri terbagi berdasarkan sistem kasta Hindu, namun pelaksanaannya di Jawa tidak sekaku di India. Masyarakat dibagi menjadi kaum bangsawan (kerabat raja), kaum agama (Brahmana dan Resi), serta rakyat jelata yang terdiri dari petani, pedagang, dan seniman. Kehidupan sosial masyarakat tergolong teratur dan makmur. Rakyat mengenakan kain sampai di bawah lutut dan membiarkan rambut terurai. Rumah-rumah penduduk tertata rapi dan bersih, mencerminkan tingkat kesejahteraan yang relatif merata berkat stabilitas ekonomi kerajaan.
Dalam bidang hukum, Kerajaan Kediri dikenal memiliki sistem peradilan yang tegas dan keras. Catatan Tiongkok menyebutkan bahwa hukum di Jawa (Kediri) sangat menjunjung tinggi kejujuran. Hukuman bagi penjahat, terutama pencuri dan perampok, sangat berat, bahkan bisa berupa hukuman mati. Ketegasan hukum ini menciptakan rasa aman bagi rakyat dan para pedagang asing yang singgah. Sistem birokrasi kerajaan juga sudah tersusun rapi dengan adanya pejabat tinggi seperti Rakryan Mahamantri i Hino, i Sirikan, dan i Halu yang membantu raja dalam administrasi pemerintahan.
Kekuatan militer Kediri adalah salah satu yang paling disegani di Asia Tenggara pada masanya. Raja memiliki pasukan pengawal elit dan angkatan laut yang tangguh untuk mengamankan jalur perdagangan rempah-rempah. Kediri mampu mengontrol perairan laut Jawa dan bagian timur Nusantara. Dalam aspek pertahanan darat, mereka memiliki pasukan gajah dan infanteri yang disiplin. Kekuatan militer inilah yang akhirnya memungkinkan Kediri untuk memenangkan persaingan melawan Janggala dan menyatukan kembali warisan Airlangga di bawah panji Panjalu.
Puncak dari evolusi politik dan militer ini terlihat pada slogan terkenal “Panjalu Jayati” yang berarti “Panjalu Menang”. Slogan ini terukir dalam Prasasti Hantang (1135 M) pada masa Raja Jayabaya. Prasasti ini menandakan kemenangan mutlak Kediri atas Janggala. Dengan kemenangan ini, dualisme kepemimpinan berakhir, dan Kediri menjadi kekuatan tunggal yang dominan di Jawa. Stabilitas politik pasca penyatuan ini menjadi landasan bagi masa keemasan kebudayaan dan sastra yang akan datang kemudian.

Secara keseluruhan, kehidupan di Kerajaan Kediri merupakan perpaduan harmonis antara kekuatan agraris pedalaman dan dinamika perdagangan maritim. Keseimbangan antara hukum yang tegas, militer yang kuat, dan ekonomi yang makmur menciptakan lingkungan yang kondusif bagi berkembangnya peradaban tinggi. Hal ini dibuktikan dengan warisan budaya tulis (kastra) yang sangat produktif, yang tidak mungkin lahir dari masyarakat yang kacau atau miskin. Kediri meletakkan dasar-dasar kebudayaan Jawa Kuno yang kelak akan diteruskan oleh Singasari dan Majapahit.
Puncak Kejayaan
Masa keemasan Kerajaan Kediri tercapai pada masa pemerintahan Sri Jayabaya (1135–1157 M). Di bawah kepemimpinannya, Kediri berhasil menyatukan kembali Janggala yang sebelumnya terpisah. Wilayah kekuasaannya meluas hingga ke seluruh Jawa dan pengaruhnya terasa sampai ke pulau-pulau sekitarnya.


Kejayaan Jayabaya tidak hanya dalam bidang politik dan militer, tetapi juga dalam bidang kebudayaan. Ia dikenal sebagai pelindung sastra dan budaya. Pada masanya, aktivitas kesusastraan berkembang pesat. Jayabaya juga sangat terkenal dengan ramalannya yang disebut Jangka Jayabaya, yang berisi prediksi tentang masa depan Nusantara yang masih sering dibahas hingga era modern.
Akhir Kerajaan
Keruntuhan Kerajaan Kediri terjadi pada masa pemerintahan Raja Kertajaya (1194-1222 M). Meskipun Kertajaya adalah raja yang kuat, ia terlibat konflik serius dengan kaum Brahmana. Raja Kertajaya menuntut agar kaum Brahmana menyembahnya layaknya seorang dewa, sebuah permintaan yang dianggap melanggar ajaran agama oleh para pendeta. Merasa terancam dan tidak dihormati, kaum Brahmana melarikan diri ke wilayah Tumapel (yang saat itu merupakan daerah bawahan Kediri) dan meminta perlindungan kepada Ken Arok, seorang pemimpin revolusioner yang baru saja menggulingkan akuwu Tumapel. Melihat peluang ini, Ken Arok yang berambisi memerdekakan Tumapel mendukung para Brahmana dan memberontak melawan Kediri. Puncak konflik ini terjadi dalam Pertempuran Ganter pada tahun 1222 M. Pasukan Kediri di bawah Kertajaya berhasil dikalahkan telak oleh pasukan Ken Arok. Kekalahan ini menandai berakhirnya riwayat Kerajaan Kediri sebagai penguasa tanah Jawa, dan posisinya digantikan oleh Kerajaan Singasari (Tumapel) yang didirikan oleh Ken Arok. Kediri kemudian turun statusnya menjadi wilayah kadipaten di bawah kekuasaan Singasari.
Peninggalan Kerajaan dan Kesusastraan
Kediri dikenal sebagai masa “Zaman Keemasan Sastra Jawa Kuno”. Berbeda dengan masa sebelumnya yang lebih banyak meninggalkan candi besar, peninggalan utama Kediri adalah karya sastra (Kakawin) yang bermutu tinggi.
1. Kesusastraan (Kitab/Kakawin)
- Kakawin Bharatayuddha: Ditulis oleh Mpu Sedah dan diselesaikan oleh Mpu Panuluh (zaman Jayabaya). Mengisahkan perang besar keluarga Bharata, yang sebenarnya merupakan kiasan perang saudara antara Panjalu dan Janggala.
- Kakawin Hariwangsa & Gatotkaca Sraya: Ditulis oleh Mpu Panuluh.
- Kakawin Smaradahana: Ditulis oleh Mpu Dharmaja (zaman Kameswara). Mengisahkan terbakarnya Dewa Kamajaya dan Dewi Ratih, yang juga menyebut nama raja Kameswara dan permaisurinya.
- Kakawin Lubdaka: Ditulis oleh Mpu Tanakung, berisi tentang perburuan dan pembebasan jiwa.

2. Candi dan Situs Fisik
Meskipun tidak sebanyak masa Mataram Kuno, terdapat beberapa situs yang dikaitkan dengan era Kediri:
- Candi Penataran: (Bagian awal/dasar diperkirakan dibangun pada masa Kediri sebelum dilanjutkan Majapahit).
- Candi Tondowongso: Ditemukan di Kediri, situs luas yang menunjukkan kompleks pemujaan.
- Situs Adan-Adan: Struktur bangunan bata kuno dan arca yang ditemukan di wilayah Kediri.
3. Tradisi
- Wayang: Cerita-cerita dari kakawin zaman Kediri menjadi sumber lakon pewayangan yang terus hidup dalam budaya Jawa hingga saat ini.
Daftar Pustaka
- Poesponegoro, M. D., & Notosusanto, N. (2008). Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno. Jakarta: Balai Pustaka.
- Muljana, Slamet. (2006). Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Yogyakarta: LKiS.
- Boechari. (2012). Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
- Groeneveldt, W.P. (2009). Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Jakarta: Komunitas Bambu.
