
Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara yang mencapai puncak kejayaan pada abad ke-14. Kerajaan ini berdiri pada 1293 M dan runtuh pada 1527 M, meninggalkan warisan luas dalam sejarah Indonesia.
Corak Agama
Kerajaan Majapahit bercorak Hindu-Buddha, di mana agama Siwa dan Buddha menjadi agama resmi yang dianut secara berdampingan oleh masyarakatnya. Kerajaan ini toleran terhadap keberagaman, dengan Islam mulai berkembang di kalangan masyarakat pesisir meskipun belum mendominasi. Toleransi ini tercermin dalam karya sastra seperti Kitab Sutasoma yang memuat semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.
Lokasi dan Peta
Ibu kota Majapahit terletak di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, dekat Sungai Brantas yang strategis untuk perdagangan dan pertanian. Pada puncak kejayaan, wilayahnya membentang hampir seluruh Nusantara termasuk Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara hingga Maluku, serta Semenanjung Malayu seperti Pahang, Kelantan, dan Tumasik (Singapura). Peta wilayah kekuasaan Majapahit menunjukkan struktur mandala dengan 98 negeri bawahan, dari Jambi hingga Timor.
Sumber Sejarah
Sumber sejarah Majapahit berasal dari naskah lontar seperti Kitab Negarakertagama (1365 M) karya Mpu Prapanca yang mendeskripsikan kejayaan Hayam Wuruk, Kitab Pararaton, dan Kitab Sutasoma. Prasasti-prasasti seperti Sukamerta, Kudadu, dan Canggu menjadi bukti tertulis tentang pemerintahan dan wilayah. Catatan asing termasuk Yingya Shenglan oleh Ma Huan (penerjemah Zheng He) dan kronik Dinasti Ming memberikan perspektif luar tentang kehidupan sosial-ekonomi Majapahit.
Sumber Dalam Negeri
Sumber dalam negeri utama adalah prasasti lokal seperti Prasasti Waringin Pitu, Balawi, Karang Bogem, dan Biluluk yang mencatat peristiwa pemerintahan serta pembangunan. Naskah kuno Jawa seperti Nagarakertagama dan Pararaton ditulis oleh pujangga istana, mendetailkan silsilah raja dan ekspansi wilayah. Candi-candi seperti Penataran dan Bajang Ratu juga berfungsi sebagai sumber arkeologi dengan relief yang menggambarkan kehidupan kerajaan.
Sumber Luar Negeri
Catatan Tiongkok dari Dinasti Ming, seperti Yingya Shenglan (1416) oleh Ma Huan, menggambarkan Majapahit sebagai kerajaan kuat dengan armada laut dan upacara kerajaan mewah. Catatan Portugis oleh Tomé Pires (1513) dan Duarte Barbosa mencatat kekuatan militer Majapahit dengan 200.000 pasukan dan teknologi meriam. Ibnu Battuta (abad ke-14) menyebut “Mul Jawa” sebagai negeri luas dengan perempuan pejuang dan kapal perang.
Prasasti Peninggalan Kerajaan
Majapahit meninggalkan puluhan prasasti yang menjadi bukti administratif dan religius. Beberapa utama meliputi Prasasti Kudadu, Sukamerta, Prapancasapura, Waringin Pitu, Wurare, Balawi, Parung, Biluluk I-IV, Karang Bogem, Katiden, Canggu, dan Jiwu. Prasasti ini sering ditulis dalam aksara Jawa Kuno dan berisi perintah raja tentang tanah, pajak, atau upacara.
| Prasasti | Tahun (perkiraan) | Isi Utama |
|---|---|---|
| Sukamerta | 1297 | Penobatan Raden Wijaya |
| Kudadu | 1313 | Wilayah administratif |
| Canggu | 1358 | Ekspansi Hayam Wuruk |
| Waringin Pitu | Abad 14 | Pembagian wilayah |
Daftar Raja yang Memerintah
Majapahit memiliki sekitar 16 raja dari 1293 hingga 1527, dengan masa keemasan di era Hayam Wuruk.tirto+1
| No. | Nama/Gelar | Masa Pemerintahan |
|---|---|---|
| 1 | Raden Wijaya (Kertarajasa) | 1293–1309 |
| 2 | Jayanagara (Kalagemet) | 1309–1328 |
| 3 | Tribhuwana Wijayatunggadewi | 1328–1350 |
| 4 | Hayam Wuruk (Rajasanagara) | 1350–1389 |
| 5 | Wikramawardhana | 1389–1429 |
| 6 | Suhita | 1429–1447 |
| 7 | Kertawijaya (Brawijaya I) | 1447–1451 |
| 8 | Rajasawardhana (Brawijaya II) | 1451–1453 |
| 9 | Purwawisesa (Brawijaya III) | 1456–1466 |
| 10 | Suraprabhawa (Brawijaya IV) | 1466–1468 |
| 11 | Kertabhumi (Brawijaya V) | 1468–1478 |
| 12 | Girindrawardhana (Brawijaya VI) | 1478–1489 |
| 13 | Patih Udara (Brawijaya VII) | 1489–1527 |
Raja-raja terkenal Kerajaan Majapahit meliputi pendirinya Raden Wijaya, penguasa masa keemasan Hayam Wuruk, serta Tribhuwana Wijayatunggadewi yang pertama kali memerintah sebagai ratu. Mereka dikenal karena kontribusi besar dalam pendirian, ekspansi wilayah, dan puncak kejayaan kerajaan.
Raja Pendiri
Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana) mendirikan Majapahit pada 1293 setelah mengalahkan Jayakatwang dan mengusir pasukan Mongol, memerintah hingga 1309 dengan fokus konsolidasi kekuasaan. Ia membangun ibu kota di Trowulan dan menekan pemberontakan internal seperti Ranggalawe untuk stabilitas awal.
Masa Transisi
Jayanegara (1309-1328), putra Raden Wijaya, menghadapi masa sulit penuh pemberontakan seperti Sadeng dan Nambi, tetapi berhasil mempertahankan kerajaan meski dibunuh tabibnya Tanca. Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328-1350), putri Jayanegara, menjadi ratu pertama yang efektif, menunjuk Gajah Mada sebagai patih dan memulai ekspansi Sumpah Palapa.
Puncak Kejayaan
Hayam Wuruk (Rajasanagara, 1350-1389) adalah raja paling terkenal yang memimpin Majapahit mencapai keemasan dengan wilayah 98 negeri bawahan, perdagangan maritim makmur, dan Nagarakertagama sebagai bukti keagungan. Didampingi Gajah Mada, ia menyatukan Nusantara melalui diplomasi dan militer, menciptakan era damai dan kemakmuran.
Raja Akhir Terkenal
Girindrawardhana (Brawijaya VI, 1478-1489) dan Kertabhumi (Brawijaya V, 1468-1478) terlibat konflik suksesi yang mempercepat kemunduran, dengan Raden Patah (putra Brawijaya) mendirikan Demak. Patih Udara (Brawijaya VII, hingga 1527) menjadi raja terakhir yang menyaksikan kehancuran ibu kota oleh pasukan Demak.t
| Raja Terkenal | Masa Pemerintahan | Prestasi Utama |
|---|---|---|
| Raden Wijaya | 1293-1309 | Pendiri & usir Mongol |
| Tribhuwana | 1328-1350 | Sumpah Palapa & ekspansi |
| Hayam Wuruk | 1350-1389 | Puncak kejayaan Nusantara |
| Brawijaya V | 1468-1478 | Konflik akhir suksesi |
Awal Mula Berdirinya Kerajaan
Kerajaan Majapahit bermula dari runtuhnya Singhasari akibat pemberontakan Jayakatwang (Adipati Kediri) yang membunuh Raja Kertanegara pada 1292; Raden Wijaya, menantu Kertanegara, melarikan diri ke Madura dibantu Arya Wiraraja. Pada 1293, Wijaya membuka hutan Tarik di tepi Sungai Brantas, mendirikan desa Majapahit (dari buah maja pahit), dan memanfaatkan invasi Mongol untuk mengalahkan Jayakatwang sebelum mengusir Mongol. Ia dinobatkan sebagai Kertarajasa Jayawardhana pada 10 November 1293, menandai berdirinya kerajaan baru dengan pusat di Trowulan.
Kehidupan Politik: Awal pemerintahan Wijaya diwarnai pemberontakan seperti Ranggalawe, Sora, dan Nambi, yang ditekan untuk konsolidasi kekuasaan; Halayudha sebagai patih akhirnya dihukum mati atas konspirasi. Politik berbasis mandala dengan negeri bawahan mengirim upeti, diperkuat Sumpah Palapa Gajah Mada pada 1336 di era Tribhuwana.
Kehidupan Sosial: Masyarakat terdiri bangsawan (satria), brahmana, dan rakyat jelata; perempuan aktif seperti ratu penguasa dan pejuang, dengan toleransi agama Hindu-Buddha. Upacara kerajaan seperti puspa sembah menunjukkan struktur sosial hierarkis tapi inklusif.
Kehidupan Ekonomi: Berbasis agraris (sawah irigasi Sungai Brantas) dan maritim; perdagangan rempah, beras, dan tekstil ke Tiongkok, India; pajak upeti dari 98 negeri bawahan mendukung kemakmuran.
Kehidupan Hukum: Hukum adil berdasarkan adat Jawa dan Hindu-Buddha; dharmmadhyaksa menangani kasus agama, dengan prasasti sebagai bukti peradilan raja.
Kehidupan Militer: Tentara profesional 30.000 prajurit (bhayangkara) dengan tombak, keris, kuda, gajah perang; armada jong hingga 400 kapal untuk ekspansi, diperkenalkan mesiu dari Mongol.
Pada era Jayanagara (1309-1328), pemberontakan berlanjut tapi stabil di bawah Tribhuwana (1328-1350) dengan Gajah Mada; Hayam Wuruk (1350-1389) menyempurnakan sistem dengan ekspansi Nusantara. Politik terpusat tapi fleksibel, sosial harmonis multietnis, ekonomi boomi via pelabuhan Canggu, hukum ketat tapi adil, militer unggul dengan cetbang.
Puncak Kejayaan dan Masa Keemasan
Puncak kejayaan Majapahit terjadi pada masa Tribhuwana (1328-1350) dengan penaklukan awal, tapi masa keemasan sejati di era Hayam Wuruk (1350-1389) didampingi Gajah Mada. Saat itu, wilayah mencapai 98 negeri dari Sumatra hingga Maluku, kemakmuran dirasakan rakyat via perdagangan dan pertanian. Ekspansi Palapa gagal total, ditandai Nagarakertagama yang memuji keagungan.
Akhir Kerajaan
Setelah Hayam Wuruk wafat (1389), Majapahit mengalami kemunduran akibat perang saudara seperti Perang Regreg (1404-1406) antara Wikramawardhana dan Wirabhumi, melemahkan kendali atas bawahan. Konflik suksesi berlanjut di era Suhita, Kertawijaya, hingga Brawijaya V (1468-1478), dengan pemberontakan Girindrawardhana dan munculnya Demak di bawah Raden Patah (putra Brawijaya V). Islam menyebar di pesisir, bawahan lepas seperti Malaka; pada 1517 Pati Unus menyerang, dan 1527 Sultan Trenggana menghancurkan ibu kota Daha, mengakhiri Majapahit dengan pelarian ke Bali dan Blambangan. Faktor internal (perebutan takhta) dan eksternal (kebangkitan Islam) menyebabkan runtuhnya, menandai era kerajaan Islam di Jawa.

Struktur Kerajaan
Struktur pemerintahan Majapahit terpusat dengan raja di puncak, dibantu dewan penasihat seperti Bhattara Saptaprabhu. Wilayah dibagi bhumi (kerajaan pusat), nagara (provinsi oleh rajya/bhre), dan desa.
| Tingkatan | Jabatan/Pejabat | Tugas Utama |
|---|---|---|
| Pusat | Raja & Rakryan Mahamantri | Pengambilan keputusan tertinggi |
| Gajah Mada (Mahapatih) | Eksekutif militer & ekspansi | |
| Daerah | Dharmmadhyaksa | Hukum agama |
| Rakryan Mantri Pakira-kiran | Kebijakan administratif |

Batas Wilayah Utama
Pada masa keemasan, Majapahit menguasai Jawa sebagai pusat, Sumatra timur dan barat (termasuk Jambi, Palembang, Samudra Pasai, Lamuri), Kalimantan (Kapuas hingga Pasir), Semenanjung Melayu (Pahang, Kelantan, Tumasik/Singapura, Kedah), Bali, Nusa Tenggara (Sumbawa hingga Timor), Sulawesi (Luwuk, Buton), hingga Maluku (Ambon, Seram). Wilayah ini lebih luas dari Indonesia modern kecuali Papua barat laut, dicapai melalui Sumpah Palapa Gajah Mada yang menaklukkan Sumatra, Jawa, dan wilayah timur.
Pembagian Wilayah
Struktur kekuasaan menggunakan sistem mandala: bhumi pusat (Jawa Timur), nagara (provinsi oleh adipati), dan desa watan. Negeri bawahan mengirim upeti tahunan, dengan hubungan diplomatik ke Siam, Kamboja, dan Champa.
| Kepulauan/Region | Wilayah Bawahan Utama |
|---|---|
| Sumatra | Jambi, Palembang, Minangkabau, Samudra, Lamuri |
| Kalimantan | Tanjung Kutei, Pasir, Barito, Sambas |
| Semenanjung Melayu | Pahang, Kelantan, Tumasik, Kedah |
| Bali-Nusa Tenggara | Bali, Sasak, Dompo, Bima, Sumba |
| Sulawesi-Maluku | Luwuk, Buton, Ambon, Seram, Timor |
Peta rekonstruksi modern menunjukkan garis pengaruh maritim hingga Malaka, meski kontrol langsung lebih longgar di wilayah periferi.
Peninggalan Kerajaan
Peninggalan fisik meliputi Candi Bajang Ratu, Penataran (Blitar), Tikus, Wringin Lawang, dan gapura Trowulan yang menunjukkan arsitektur punden berundak. Prasasti dan keris sebagai artefak; tradisi seperti wayang, gamelan, dan Sumpah Palapa bertahan hingga kini. Situs Trowulan kini UNESCO candidate dengan kanal irigasi kuno.
Kesusastraan
Kesusastraan Majapahit kaya kakawin Jawa Kuno: Kitab Negarakertagama (Mpu Prapanca, 1365, 98 pupuh tentang Hayam Wuruk), Sutasoma (Mpu Tantular, asal Bhineka Tunggal Ika), Pararaton (silsilah raja), Arjunawiwaha, Kunjarakarna, dan Parthayajna. Karya ini campuran sejarah, filsafat, dan epik Hindu-Buddha, diakui UNESCO sebagai Memory of the World.
Wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit mencapai puncak luasnya pada masa Hayam Wuruk (1350-1389), meliputi hampir seluruh Nusantara dan sebagian Semenanjung Melayu. Informasi ini terutama bersumber dari pupuh 13-14 Kitab Nagarakertagama karya Mpu Prapanca, yang mencantumkan 98 negeri bawahan.
Kerajaan Majapahit meninggalkan banyak candi sebagai peninggalan bersejarah yang menunjukkan kejayaan arsitektur Hindu-Buddha abad ke-14 hingga 15. Candi-candi ini sering berbentuk gapura, petirtaan, atau teras bertingkat, terutama di kawasan Trowulan, Mojokerto, dan sekitarnya.
Candi Bajang Ratu
Candi Bajang Ratu di Trowulan, Mojokerto, berbentuk gapura paduraksa setinggi 16,5 meter dengan relief menyerupai pintu masuk kerajaan untuk bangsawan. Dibangun abad ke-14 untuk menghormati Jayanegara, candi ini memiliki arca Nandi dan motif makara yang khas Majapahit.
Candi Tikus
Candi Tikus di Trowulan merupakan petirtaan (pemandian suci) berdenah segi empat dengan kolam dan pancuran air untuk ritual kerajaan pada masa Hayam Wuruk. Strukturnya underground dengan terowongan seperti sarang tikus, ditemukan 1914 oleh bupati lokal.
Candi Penataran
Candi Penataran di Blitar, situs terbesar Majapahit, terdiri dari kompleks teras dengan relief Ramayana dan relief pemujaan raja, sering dikunjungi Hayam Wuruk. Dibangun sejak abad 12 tapi berkembang di Majapahit, menampilkan arsitektur punden berundak
Candi Lainnya Terkenal
- Candi Wringin Lawang (Trowulan): Gapura pintu masuk dengan relief gajah dan ksatria.
- Candi Brahu (Trowulan): Tempat kremasi raja Brawijaya abad ke-15.
- Candi Sukuh & Cetho (Karanganyar, Jawa Tengah): Teras bertingkat dengan relief erotis dan kosmologi Hindu akhir Majapahit.
| Candi | Lokasi | Fungsi Utama |
|---|---|---|
| Bajang Ratu | Trowulan, Mojokerto | Gapura kerajaan |
| Tikus | Trowulan, Mojokerto | Petirtaan ritual |
| Penataran | Blitar | Pemujaan raja |
| Brahu | Trowulan, Mojokerto | Kremasi |
Tradisi
Upacara Sraddha (pemuatan arwah) dan konsep “Bhinneka Tunggal Ika” yang lahir dari toleransi Siwa-Buddha.
Daftar Pustaka
- Muljana, Slamet. (2005). Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit. Yogyakarta: LKiS.
- Pigeaud, Th. G. Th. (1960). Java in the 14th Century: A Study in Cultural History. The Hague: Martinus Nijhoff.
- Ricklefs, M.C. (2008). A History of Modern Indonesia since c. 1200. Stanford University Press.
- Munoz, Paul Michel. (2006). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Singapore: Editions Didier Millet.
