
Kerajaan Tarumanegara berdiri sebagai salah satu pilar sejarah tertua di Nusantara, khususnya di wilayah Jawa bagian barat. Sebagai kerajaan Hindu yang berkembang pesat antara abad ke-4 hingga ke-7 Masehi, Tarumanegara tidak hanya meninggalkan prasasti, tetapi juga cetak biru peradaban yang memengaruhi struktur sosial dan politik di Indonesia di masa depan.
Profil Dasar dan Lokasi
- Corak Agama: Hindu aliran Vaishnava (pemuja Dewa Wisnu). Hal ini dibuktikan dengan adanya simbol telapak kaki Raja Purnawarman yang diibaratkan sebagai kaki Dewa Wisnu pada beberapa prasasti.
- Lokasi: Berpusat di wilayah Jawa Barat, mencakup wilayah Bekasi, Bogor, hingga Jakarta. Secara geografis, kerajaan ini terletak di antara aliran sungai-sungai besar, dengan Sungai Citarum sebagai arteri utamanya.
Sumber Sejarah
Keberadaan Tarumanegara divalidasi oleh dua pilar sumber sejarah utama yang saling menguatkan:
1. Sumber Dalam Negeri Terdiri dari tujuh prasasti utama yang ditemukan di wilayah Jawa Barat dan Jakarta. Prasasti-prasasti ini menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta. Keberadaan artefak seperti kompleks percandian Batujaya di Karawang juga menjadi bukti fisik kemajuan arsitektur masa itu.
2. Sumber Luar Negeri Berita dari Tiongkok menjadi rujukan eksternal yang vital. Pendeta Buddha Fa-Hien dalam catatannya Fa-Kuo-Chi (414 M) menyebutkan adanya negeri bernama Ye-po-ti (Jawa) di mana penganut Hindu sangat banyak, namun penganut Buddha sedikit. Selain itu, catatan Dinasti Sui dan Dinasti Tang menyebutkan adanya utusan dari To-lo-mo (Tarumanegara) yang datang membawa upeti pada tahun 528, 535, 666, dan 669 M.
Daftar Prasasti Penting
- Prasasti Ciaruteun: Ditemukan di Ciampea, Bogor. Menampilkan ukiran laba-laba dan telapak kaki Raja Purnawarman.
- Prasasti Jambu: Terletak di perkebunan Jambu, Bogor. Berisi pujian atas kegagahan Raja Purnawarman.
- Prasasti Kebon Kopi: Menampilkan tapak kaki gajah Airawata (kendaraan Dewa Wisnu).
- Prasasti Muara Cianten: Ditemukan di Bogor, namun aksaranya berupa ikal (piktograf) yang belum sepenuhnya terjemahkan.
- Prasasti Pasir Awi: Berada di bukit Pasir Awi, Bogor.
- Prasasti Cidanghiang: Terletak di Lebak, Banten. Menyebutkan keagungan Raja Purnawarman sebagai panji seluruh raja.
- Prasasti Tugu: Prasasti terpanjang yang ditemukan di Jakarta Utara, menjelaskan pembangunan saluran air Gomati dan Chandrabaga.

Cerita Sejarah: Dinamika Kehidupan Tarumanegara
Sejarah Tarumanegara bermula pada tahun 358 M, didirikan oleh Maharesi Jayasinghawarman yang berasal dari India setelah wilayahnya di India Selatan runtuh akibat invasi. Sebagai pelarian politik sekaligus pemuka agama, ia berhasil memadukan budaya lokal dengan nilai-nilai Weda, membentuk fondasi kerajaan yang stabil. Jayasinghawarman kemudian memberikan takhta kepada putranya, Dharmayawarman, yang memperluas pengaruh kerajaan ke wilayah pesisir. Namun, puncak kejayaan baru benar-benar tercapai di tangan raja ketiga, Purnawarman, yang dikenal sebagai raja yang cakap dan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya.


Dalam kehidupan politik, Tarumanegara menerapkan sistem monarki absolut yang terpusat. Raja Purnawarman bukan sekadar penguasa, tetapi dianggap sebagai titisan dewa di bumi yang memiliki otoritas penuh atas hukum dan wilayah. Keberaniannya dalam memimpin ekspansi militer membuat Tarumanegara berhasil menguasai hampir seluruh wilayah Jawa Barat, mulai dari Banten hingga Cirebon. Struktur birokrasinya cukup rapi, dengan pembagian tugas antara urusan keagamaan, pemerintahan pusat, dan pengawasan wilayah-wilayah kecil di bawah perlindungan kerajaan.
Daftar Raja Kerajaan Tarumanagara
| No | Nama Raja | Masa Pemerintahan | Keterangan & Peristiwa Penting |
| 1 | Jayasingawarman | 358 – 382 M | Pendiri Tarumanagara; menantu Raja Dewawarman VIII (Salakanagara). Maharesi dari India yang mengungsi karena daerahnya ditaklukkan Magada. Pusat pemerintahan pindah dari Rajatapura ke Tarumanagara. Dipusarakan di tepi kali Gomati (Bekasi). |
| 2 | Dharmayawarman | 382 – 395 M | Dipusarakan di tepi kali Candrabaga. |
| 3 | Purnawarman | 395 – 434 M | Membangun ibu kota baru bernama Sundapura (397 M). Membawahi 48 raja daerah dari Pandeglang hingga Purbalingga. Menetapkan Ci Pamali sebagai batas kekuasaan. |
| 4 | Wisnuwarman | 434 – 455 M | |
| 5 | Indrawarman | 455 – 515 M | |
| 6 | Candrawarman | 515 – 535 M | Terjadi letusan dahsyat Gunung Krakatau (535 M) yang menyebabkan tsunami besar dan berdampak global. |
| 7 | Suryawarman | 535 – 561 M | Fokus ke wilayah timur. Menantunya (Manikmaya) mendirikan Kerajaan Kendan (526 M). |
| 8 | Kertawarman | 561 – 628 M | Memiliki putra bernama Rakeyan Sancang (lahir 591 M). Saudara sepupu dari Raja Suraliman Sakti dari Kendan. |
| 9 | Sudhawarman | 628 – 639 M | |
| 10 | Hariwangsawarman | 639 – 640 M | |
| 11 | Nagajayawarman | 640 – 666 M | |
| 12 | Linggawarman | 666 – 669 M | Raja Tarumanagara terakhir. Memiliki dua putri: Manasih (istri Tarusbawa) dan Sobakancana (istri Dapunta Hyang, pendiri Srivijaya). |
Era Transisi: Pecahnya Tarumanagara (670 M)
Setelah Linggawarman, kekuasaan diteruskan oleh menantunya yang kemudian mengubah identitas kerajaan.
| Nama Penguasa | Masa Pemerintahan | Perubahan Politik & Wilayah |
| Tarusbawa | 669 – 723 M | Mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda (670 M). Hal ini memicu Wretikandayun (Galuh) menuntut pemisahan wilayah. Dengan dukungan Kerajaan Kalingga, wilayah Tarumanagara resmi dipecah menjadi dua: Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan batas Sungai Citarum. |
Secara sosial, masyarakat Tarumanegara terbagi dalam stratifikasi kasta, namun tetap memiliki kohesi sosial yang kuat berkat kepemimpinan yang adil. Kehidupan beragama didominasi oleh Hindu, tetapi kepercayaan asli masyarakat berupa animisme dan dinamisme masih hidup berdampingan secara harmonis. Kedekatan antara rakyat dan raja terlihat dari proyek-proyek publik yang melibatkan ribuan orang, menunjukkan adanya semangat gotong royong yang tinggi di bawah komando otoritas pusat.
Sektor ekonomi merupakan kekuatan utama Tarumanegara, yang bertumpu pada pertanian dan perdagangan maritim. Letaknya yang strategis di dekat Selat Sunda menjadikan kerajaan ini sebagai pelabuhan transit bagi pedagang dari India dan Tiongkok. Komoditas ekspor utamanya meliputi cula badak, gading gajah, dan hasil hutan. Selain itu, hubungan dagang dengan Tiongkok sangat intens, yang dibuktikan dengan catatan sejarah dinasti Tiongkok mengenai kedatangan utusan dari Tarumanegara untuk urusan diplomatik dan perdagangan.
Keberhasilan ekonomi ini didukung oleh infrastruktur hukum dan manajemen air yang visioner. Dalam Prasasti Tugu, diceritakan bahwa Raja Purnawarman memerintahkan penggalian saluran air Gomati sepanjang 12 km (sekitar 6.122 busur) hanya dalam waktu 21 hari. Proyek raksasa ini bertujuan untuk mencegah banjir saat musim hujan dan mengairi lahan pertanian saat musim kemarau. Setelah proyek selesai, raja menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana, yang menunjukkan betapa kuatnya ekonomi kerajaan saat itu.
Dalam aspek militer, Tarumanegara memiliki angkatan perang yang disegani di kawasan Nusantara bagian barat. Kekuatan militer ini tidak hanya digunakan untuk pertahanan, tetapi juga untuk mengamankan jalur perdagangan dari gangguan bajak laut. Simbol telapak kaki pada prasasti-prasasti bukan sekadar hiasan, melainkan proklamasi kekuasaan militer bahwa tanah tempat kaki itu berpijak adalah wilayah kedaulatan Raja Purnawarman yang tak tergoyahkan.
Secara hukum, Tarumanegara telah mengenal aturan-aturan tertulis maupun lisan yang bersumber dari ajaran Hindu. Raja bertindak sebagai hakim tertinggi yang memastikan keadilan berjalan di seluruh wilayahnya. Penekanan pada nilai-nilai kejujuran dan keberanian sangat kuat, yang tercermin dalam prasasti-prasasti yang selalu memuji sifat ksatria sang raja. Hal ini menciptakan stabilitas keamanan yang memungkinkan rakyatnya hidup dengan tenang dan produktif selama berabad-abad.
Akhir Kerajaan
Kemunduran Tarumanegara mulai terasa pada abad ke-7 M, tepatnya setelah masa pemerintahan Raja Linggawarman (raja ke-12). Linggawarman tidak memiliki putra mahkota, hanya memiliki dua putri: Manasih dan Sobakancana. Manasih menikah dengan Tarusbawa yang kemudian mewarisi takhta, sementara Sobakancana menikah dengan Dapunta Hyang Sri Jayanasa, pendiri Kerajaan Srivijaya. Tarusbawa lebih tertarik membangun kembali kemegahan kerajaannya sendiri dan mengubah nama Tarumanegara menjadi Kerajaan Sunda pada tahun 669 M. Pengalihan nama dan pusat kekuasaan ini menandai berakhirnya era Tarumanegara sebagai entitas politik independen, di mana wilayahnya kemudian terpecah menjadi Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.

Peninggalan Kerajaan
Peninggalan Tarumanegara mencakup aspek material dan non-material yang masih dapat kita jumpai:
| Nama Situs | Artefak | Keterangan |
| Kampung Muara | Menhir (3), Batu Dakon (2), Arca batu tidak berkepala, Struktur batu kali, Kuburan tua | |
| Ciampea | Arca Gajah (batu) | Rusak berat |
| Gunung Cibodas | Berbagai Arca (Raksasa, Dewa, Dwarapala, Brahma), Arca Singa perunggu | Arca Brahma duduk di atas angsa (Wahana Hamsa) |
| Tanjung Barat | Arca Siwa (duduk) perunggu | Koleksi Mus.Nas.no.514a |
| Tanjungpriok | Arca Durga-Kali Batu Granit | Koleksi Mus.Nas.no.296a |
| Buni | Perhiasan emas, tempayan, belung, logam, gelang kaca, manik-manik, tulang manusia | Pola pemukiman (settlement pattern) |
| Batujaya (Karawang) | Unur (hunyur) struktur bata, Segaran I – VI, Talagajaya I – VII | Percandian |
| Cibuaya | Arca Wisnu I, II, III, Lemah Duwur Wadon & Lanang | Candi I & Candi II |
- Tulisan & Artefak: Ketujuh prasasti utama (Ciaruteun, Tugu, dsb) serta kompleks candi bata merah di Batujaya dan Cibuaya.
- Gambar & Simbol: Ukiran telapak kaki, bunga teratai, dan simbol Airawata yang menjadi bukti awal estetika seni rupa Hindu di Jawa Barat.
- Tradisi: Sistem irigasi dan tata kelola air yang dirintis Purnawarman tetap menjadi dasar pertanian di wilayah Jawa Barat. Selain itu, nama “Citarum” sendiri diyakini berakar dari kata “Taruma”, yang terus abadi hingga hari ini sebagai nama sungai terpanjang di Jawa Barat.

Daftar Pustaka
- Munoz, Paul Michel. (2006). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Editions Didier Millet.
- Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugroho. (2008). Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno. Balai Pustaka.
- Soekmono, R. (1973). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Kanisius.
- Zahorka, Herwig. (2007). The Sunda Kingdom of West Java: From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with the Royal Center of Bogor. Yayasan Cipta Loka Caraka.
