
Berikut adalah analisis mendalam mengenai detail kronologi, intrik politik, hingga keterlibatan kekuatan asing.
I. Anatomi Konflik: Dualisme Kepemimpinan
Setelah Gajah Mada wafat (1364) dan Hayam Wuruk menyusul (1389), Majapahit kehilangan “perekat” utamanya. Sistem pembagian wilayah yang awalnya dimaksudkan untuk efisiensi administrasi justru menjadi bumerang.
Pembagian Wilayah (Kedaton)
- Kedaton Kulon (Barat): Berpusat di Trowulan. Dipimpin oleh Vikramawardhana. Secara legalitas formal, ia adalah penguasa sah karena menikahi Kusumawardhani (putri mahkota Hayam Wuruk).
- Kedaton Wetan (Timur): Berpusat di daerah Blambangan (Banyuwangi hingga Panarukan). Dipimpin oleh Bhre Wirabhumi. Meskipun anak selir, ia merasa memiliki hak karena secara biologis adalah putra langsung Hayam Wuruk dan secara de facto menguasai jalur perdagangan maritim di timur Jawa.
II. Eskalasi dan Intervensi Asing (Dinasti Ming)
Salah satu faktor yang membuat Bhre Wirabhumi begitu berani menantang pusat adalah dukungannya dari Dinasti Ming (Tiongkok).
Pada tahun 1403, Kaisar Yongle dari Tiongkok mengirim utusan untuk mengakui Bhre Wirabhumi sebagai raja yang setara dengan Vikramawardhana. Bagi Tiongkok, memecah Majapahit menjadi dua kekuatan kecil jauh lebih menguntungkan daripada berhadapan dengan satu imperium besar yang dominan di laut.
Pemicu Utama (1404):
Gesekan pecah saat Bhre Wirabhumi mulai memungut pajak dari wilayah-wilayah yang seharusnya menyetor ke Trowulan. Vikramawardhana menganggap ini sebagai pemberontakan (makar), sementara Wirabhumi menganggapnya sebagai hak kedaulatan.
III. Jalannya Pertempuran (1404–1406)
Perang ini disebut Paregreg karena polanya yang menyerupai pasang surut air laut—terjadi berkali-kali dengan intensitas yang meningkat.
- Fase Awal (1404-1405): Pertempuran terjadi di wilayah perbatasan (sekitar Sedayu dan Gresik). Pasukan Timur sempat memberikan perlawanan sengit karena memiliki keunggulan armada laut.
- Fase Puncak (1406): Vikramawardhana mengerahkan pasukan gabungan besar-besaran yang dipimpin oleh menantunya, Bhre Tumapel. Mereka melakukan manuver “penjepitan” dari darat dan laut menuju pusat pertahanan Timur di Blambangan.
- Kejatuhan Kedaton Wetan: Benteng pertahanan Wirabhumi hancur. Dalam kepanikan, Wirabhumi melarikan diri menggunakan perahu nelayan namun dikejar dan ditangkap oleh Raden Gajah (Bhra Narapada). Ia dieksekusi di tempat, dan kepalanya dibawa ke pusat untuk diarak.
IV. Insiden Berdarah dengan Utusan Tiongkok
Di tengah berkecamuknya perang di Kedaton Wetan, armada besar Laksamana Cheng Ho kebetulan sedang berada di sana. Tragisnya, sekitar 170 orang anak buah Cheng Ho yang sedang berada di pasar terbunuh oleh pasukan Barat (Vikramawardhana) karena salah duga (disangka pasukan bantuan untuk Timur).
Konsekuensi Diplomatik:
Kaisar Ming murka. Vikramawardhana dipaksa membayar denda sebanyak 60.000 tahil emas. Meskipun akhirnya denda tersebut dikurangi, peristiwa ini menguras habis cadangan emas Majapahit yang saat itu sudah menipis akibat biaya perang.
V. Dampak Jangka Panjang: Runtuhnya Hegemoni
Perang Paregreg adalah titik di mana Majapahit kehilangan “taringnya” di mata dunia.
- Krisis Suksesi Berlanjut: Dendam antara keturunan Barat dan Timur terus berlanjut di bawah permukaan, menciptakan ketidakstabilan permanen di istana.
- Lepasnya Wilayah Vassal: Negara-negara bawahan di Sumatera (seperti Palembang dan Melayu) serta di Semenanjung Malaya melihat kelemahan ini dan mulai menyatakan kemerdekaan atau beralih perlindungan ke Tiongkok.
- Hancurnya Struktur Ekonomi: Sawah-sawah terbengkalai karena petani dipaksa menjadi prajurit, dan jalur perdagangan pelabuhan Jawa menjadi tidak aman, membuat pedagang internasional berpindah ke pelabuhan baru: Malaka.
Kesimpulan
Perang Paregreg membuktikan bahwa musuh terbesar sebuah imperium besar bukanlah serangan dari luar, melainkan ego dan perebutan kekuasaan dari dalam. Majapahit tidak langsung runtuh setelah 1406, namun ia hidup sebagai “raksasa yang sakit” hingga benar-benar tumbang pada akhir abad ke-15.
