Peristiwa Westerling di Makassar, yang sering disebut sebagai Pembantaian Westerling atau Korban 40.000 Jiwa, merupakan salah satu babak paling kelam dalam sejarah Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Peristiwa ini terjadi antara Desember 1946 hingga Februari 1947 di wilayah Sulawesi Selatan, dengan puncak kekejaman dimulai pada 11 Desember 1946 di Makassar dan sekitarnya. Dipimpin oleh Kapten Raymond Pierre Paul Westerling, seorang perwira Belanda keturunan Turki-Yunani yang memimpin pasukan khusus Depot Speciale Troepen (DST) atau Korps Pasukan Khusus Belanda, operasi ini dilakukan atas nama “penumpasan pemberontakan” terhadap pejuang Republik Indonesia. Namun, pada kenyataannya, aksi ini berubah menjadi pembantaian massal terhadap ribuan warga sipil tak berdosa, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia, yang dicurigai mendukung perjuangan kemerdekaan. Latar belakangnya bermula dari upaya Belanda untuk merebut kembali kendali atas wilayah timur Indonesia pasca-kekalahan Jepang, di tengah semangat proklamasi 17 Agustus 1945 yang membara. Konferensi Malino pada Juli 1946 yang membentuk Negara Indonesia Timur (NIT) gagal meredam perlawanan rakyat Sulawesi Selatan, yang semakin gencar melakukan gerilya dan sabotase terhadap pasukan kolonial. Dalam kondisi itu, Belanda mengirim Westerling sebagai “ahli kontrapemberontakan” untuk membersihkan wilayah dari “pengacau”, sebuah istilah yang digunakan untuk membenarkan teror sistematis yang akhirnya menewaskan puluhan ribu jiwa dan meninggalkan luka mendalam bagi bangsa Indonesia.

Captain westerling Black and White Stock Photos & Images – Alamy
Potret Kapten Raymond Westerling, sang algojo yang memimpin pasukan DST dalam operasi pembantaian di Sulawesi Selatan pada 1946-1947.
Latar Belakang yang Memantik Api Kekejaman Kolonial
Situasi di Sulawesi Selatan pasca-Proklamasi Kemerdekaan semakin kacau karena Belanda tidak mau mengakui kedaulatan Republik Indonesia dan berusaha membangun negara boneka melalui Konferensi Malino. Pemerintahan NIT yang dibentuk pada Juli 1946 gagal mengendalikan wilayah, terutama karena ekonomi yang runtuh akibat gagal panen dan serangan gerilya dari pejuang Republik yang didukung dari Jawa. Ratusan pejabat pro-Belanda, termasuk orang Eurasia dan Tionghoa, dibunuh oleh kelompok pejuang lokal, sementara garnisun KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) tidak mampu melindungi mereka. Untuk mengatasi ini, Gubernur Jenderal Van Mook dan Panglima KNIL Jenderal Spoor memutuskan untuk menerapkan status darurat perang atau Staat van Oorlog en Beleg (SOB) di Makassar, Gowa, Takalar, dan beberapa daerah lain pada awal Desember 1946. Hal ini memberikan wewenang penuh kepada pasukan Belanda untuk melakukan “Stand Recht” atau penembakan langsung tanpa pengadilan terhadap siapa saja yang dicurigai. Westerling, yang sebelumnya terkenal dengan taktik brutal di Jawa Barat, dipilih sebagai komandan operasi karena pengalamannya dalam perang gerilya. Kedatangannya bersama 120-123 anggota DST pada 5 Desember 1946 di pelabuhan Makassar menjadi awal dari mimpi buruk bagi rakyat Sulawesi Selatan. Pasukan ini, yang dikenal dengan baret hijau dan metode “sweeping” ala Gestapo, langsung membangun markas di Mattoangin dan mulai mengumpulkan intelijen untuk “pembersihan” wilayah.

Pandangan Westerling terhadap Islam
Westerling sedang berpidato di hadapan pasukannya, menggambarkan gaya kepemimpinan yang otoriter dan kejam selama operasi di Makassar.
Kronologi Awal: Kedatangan dan Ledakan Pembantaian Pertama pada 11 Desember 1946
Pada 5 Desember 1946, Westerling dan pasukannya mendarat di Makassar dengan kapal dari Jawa, langsung membangun kamp di Mattoangin untuk persiapan operasi. Enam hari kemudian, tepat pada 11 Desember 1946, status SOB diberlakukan, dan “Dooden Mars” atau Mars Kematian dimulai. Pasukan DST yang berjumlah kecil tapi sangat terlatih ini memulai sweeping pertama di Kampung Batua, sebelah timur Makassar, serta desa-desa kecil seperti Borong, Pattunuang, Parang, dan Baray. Mereka mengumpulkan seluruh penduduk di lapangan rumput, kemudian Westerling secara pribadi memilih siapa yang akan dieksekusi berdasarkan tuduhan sebagai “teroris” atau pendukung Republik. Metode eksekusi kilat ini—menembak di tempat tanpa proses hukum—menewaskan puluhan orang dalam hitungan jam, termasuk pemimpin pejuang seperti yang dicurigai bersembunyi di sana. Pembantaian ini berlanjut hingga pagi 12 Desember, dengan korban awal mencapai 44 jiwa di satu desa saja. Suasana pagi buta itu dipenuhi jeritan, tembakan, dan asap dari rumah-rumah yang dibakar, sementara warga yang selamat dipaksa menyaksikan saudara mereka dibunuh. Aksi ini bukan hanya militer, melainkan teror psikologis yang dirancang untuk mematahkan semangat perlawanan rakyat Sulawesi Selatan.

De Oost: Film tentang aksi pembantaian Westerling di Indonesia disebut ‘simbol keberanian anak muda Belanda’ tapi picu kontroversi – BBC News Indonesia
Ilustrasi korban pembantaian Westerling yang dikumpulkan dan dieksekusi massal oleh pasukan DST di Sulawesi Selatan.
Gelombang Kekejaman yang Meluas ke Seluruh Sulawesi Selatan
Setelah sukses di Makassar, operasi Westerling meluas secara sistematis dalam empat gelombang utama. Pada 17-31 Desember 1946, pasukan DST menyasar Gowa, Takalar, Jeneponto, Polombangkeng, dan Binamu, di mana ratusan warga sipil dibantai dengan cara yang sama: pengepungan desa, pengumpulan penduduk, dan eksekusi tanpa ampun. Gelombang kedua berlanjut hingga 16 Januari 1947 di Bantaeng, Bulukumba, dan Sinjai, sementara gelombang ketiga dan keempat hingga Maret 1947 mencakup Maros, Pangkajene, Barru, Parepare, hingga Polewali dan Mandar. Westerling menggunakan taktik “pengadilan jalanan” di mana ia sendiri bertindak sebagai hakim, jaksa, dan algojo, sering kali dengan bantuan informan lokal yang dipaksa. Korban tidak hanya pejuang, tapi juga keluarga mereka, dengan metode brutal seperti pembakaran hidup-hidup atau penyiksaan sebelum eksekusi. Dalam waktu dua bulan, wilayah Sulawesi Selatan berubah menjadi lautan darah, dengan desa-desa hangus dan ribuan mayat yang tak terkubur. Perlawanan dari tokoh seperti Wolter Monginsidi dan kelompok gerilya lokal sempat muncul, tapi dihadapi dengan kekuatan yang tidak seimbang, membuat peristiwa ini menjadi simbol kegagalan Belanda dalam merebut hati rakyat Indonesia.

Sejenak Mengenang Kekejaman Raymond Westerling – Indonesia Kaya
Relief monumen yang menggambarkan kekejaman pembantaian Westerling, termasuk eksekusi massal dan penderitaan rakyat Sulawesi Selatan.
Puncak Tragedi dan Akhir Operasi yang Penuh Kontroversi
Pada puncaknya, antara Desember 1946 hingga Februari 1947, pembantaian mencapai titik tertinggi dengan korban jiwa yang diperkirakan mencapai 40.000 orang, meskipun angka ini masih menjadi perdebatan hingga kini—beberapa sumber Belanda menyebut lebih rendah, sementara saksi Indonesia menguatkan angka tersebut berdasarkan laporan ke PBB. Westerling sendiri meninggalkan Sulawesi pada Maret 1947 setelah “tugas” selesai, dengan pasukannya ditarik kembali ke Jawa. Namun, dampaknya abadi: trauma kolektif, hilangnya generasi muda, dan kebencian mendalam terhadap kolonialisme. Operasi ini juga menjadi bukti kejahatan perang yang dilakukan Belanda, yang kemudian diakui secara tidak langsung melalui berbagai dokumen sejarah. Di Makassar, lokasi seperti Kalukuang dan Pongtiku menjadi saksi bisu, di mana monumen kini berdiri untuk mengenang para korban.
Tabel Kronologi Pembantaian Westerling di Makassar dan Sulawesi Selatan
| Tanggal | Peristiwa Utama |
|---|---|
| 5 Desember 1946 | Westerling dan 123 pasukan DST tiba di Makassar, membangun markas di Mattoangin. |
| 11-12 Desember 1946 | Operasi dimulai dengan sweeping di Batua dan desa sekitar Makassar; 44 korban tewas. |
| 17-31 Desember 1946 | Gelombang kedua: Pembantaian di Gowa, Takalar, Jeneponto, dan Polombangkeng. |
| 2-16 Januari 1947 | Gelombang ketiga: Aksi di Bantaeng, Bulukumba, dan Sinjai. |
| 17 Januari – 21 Februari 1947 | Gelombang akhir: Meluas ke Maros, Barru, Parepare, hingga Mandar; operasi berakhir. |
| Maret 1947 | Westerling dan pasukan ditarik kembali ke Jawa. |
Tabel Tokoh dan Dampak Utama
| Tokoh/Kelompok | Peran Utama | Dampak Terhadap Indonesia |
|---|---|---|
| Raymond Westerling | Komandan DST, pelaku utama pembantaian | Simbol kejahatan perang kolonial |
| Wolter Monginsidi | Pemimpin pejuang lokal, korban perlawanan | Inspirasi perjuangan kemerdekaan |
| Pasukan DST | Pelaku sweeping dan eksekusi | Menewaskan ~40.000 jiwa sipil |
| Rakyat Sulawesi Selatan | Korban dan pejuang gerilya | Trauma abadi dan monumen peringatan |
Tabel Estimasi Korban dan Wilayah Terdampak
| Wilayah Terdampak | Estimasi Korban Jiwa | Metode Pembantaian Utama |
|---|---|---|
| Makassar dan Sekitar | Ribuan | Sweeping dan eksekusi kilat |
| Gowa-Takalar | 10.000+ | Pengepungan desa dan pembakaran |
| Jeneponto-Bulukumba | Ribuan | Pengadilan jalanan dan penyiksaan |
| Total Sulawesi Selatan | ~40.000 | Teror massal selama 3 bulan |

Monumen Korban 40.000 Jiwa di Polman Sulbar, Makam Korban Westerling
Monumen Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan, dibangun sebagai pengingat abadi atas tragedi pembantaian Westerling.
Ilustrasi Peristiwa Pembantaian Westerling
Untuk menggambarkan secara visual kekejaman yang terjadi, berikut ilustrasi rekonstruksi dan relief sejarah yang mencerminkan penderitaan korban serta metode brutal pasukan Westerling. Gambar-gambar ini diambil dari monumen dan arsip sejarah yang mengabadikan peristiwa tersebut.

Seruan Agar Hari Peringatan Korban 40.000 Jiwa Westerling Diatur Pergub
Relief emas di monumen yang mengilustrasikan eksekusi massal, pembakaran desa, dan perlawanan rakyat terhadap teror Westerling.
Daftar Pustaka
Buku:
- Ijzereef, William. De Zuid-Celebes Affaire: Feiten en Verhalen over de Excessen in Zuid-Celebes. Leiden: KITLV Press, 1984.
- Westerling, Raymond. Challenge to Terror. London: William Kimber, 1953. (Autobiografi Westerling yang kontroversial).
- Tika, Zainudin dkk. Sulawesi Selatan Berdarah. Makassar: Penerbit Yayasan Pahlawan Nasional, 2016.
Jurnal/Skripsi:
- Abdillah, Ahmad. “Pembantaian Westerling di Sulawesi Selatan Tahun 1946-1947.” Skripsi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2024.
- Nuraida. “Peristiwa Pembantaian Westerling di Kota Makassar Tahun 1946-1947.” Skripsi, UIN Alauddin Makassar, 2020. (Tersedia di repositori.uin-alauddin.ac.id).
Website/Link:
- Wikipedia. “Kampanye Sulawesi Selatan.” Diakses 14 Februari 2026 dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kampanye_Sulawesi_Selatan.
- Kompas.com. “Pembantaian Westerling 1946: Latar Belakang, Kronologi, dan Tokoh.” 12 Desember 2023. https://makassar.kompas.com/read/2023/12/12/232937178/pembantaian-westerling-1946-latar-belakang-kronologi-dan-tokoh.
- Tirto.id. “Sejarah Pembantaian di Sulsel: Westerling Datang, Darah Tergenang.” 23 Januari 2019. https://tirto.id/sejarah-pembantaian-di-sulsel-westerling-datang-darah-tergenang-deUW.
- Detik.com. “Kilas Balik Perlawanan Rakyat Sulsel Berujung Tragedi Korban 40.000 Jiwa.” 11 Desember 2025. https://www.detik.com/sulsel/berita/d-8253839/kilas-balik-perlawanan-rakyat-sulsel-berujung-tragedi-korban-40-000-jiwa.
- Historia.id. “Membuka Peristiwa Pembantaian di Sulawesi Selatan.” 2 Oktober 2018. https://www.historia.id/article/membuka-peristiwa-pembantaian-di-sulawesi-selatan-vqjqk.
