Close Menu
    What's Hot

    Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka

    March 22, 2026

    Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura

    March 22, 2026

    Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan

    March 7, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Facebook X (Twitter) Instagram
    Cerita Saja
    • Home
    • Profil
    • Artikel
      • Kelas
        • Kelas X
        • Kelas XI
        • Kelas XII
      • Legenda
      • Tradisi
      • Mitos
      • Misteri
      • Kota
      • Perundingan/Perjanjian
    • Tokoh
    • Sastra
      • Kitab / Kakawin
      • Suluk
      • Babad
      • Hikayat
    • Komik
    • Kuis
    • Download
      • E-Book
      • Buku Pelajaran
      • Karya Siswa
      • RPP / MODUL AJAR
      • Infografis
      • Slide Presentasi
      • Login
    SoundCloud RSS
    Cerita Saja
    Home»Artikel»Pertempuran Surabaya 10 November 1945: Api Perjuangan yang Menggetarkan Dunia dan Mengukir Sejarah Kemerdekaan Indonesia
    Artikel

    Pertempuran Surabaya 10 November 1945: Api Perjuangan yang Menggetarkan Dunia dan Mengukir Sejarah Kemerdekaan Indonesia

    Rifa SaniBy Rifa SaniFebruary 14, 2026No Comments9 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945 merupakan salah satu babak paling heroik dan menentukan dalam sejarah Revolusi Kemerdekaan Indonesia, yang tidak hanya menjadi simbol perlawanan sengit terhadap penjajahan baru pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945, melainkan juga menjadi pemicu kebangkitan semangat nasionalisme di seluruh nusantara. Peristiwa ini, yang sering disebut sebagai “Pertempuran 10 November” atau “Battle of Surabaya”, melibatkan ribuan pemuda pejuang Indonesia—dikenal sebagai “Arek-Arek Suroboyo”—bersama pasukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan laskar rakyat, melawan kekuatan militer Sekutu yang didominasi pasukan Inggris dan didukung oleh Netherlands Indies Civil Administration (NICA) dari Belanda. Latar belakangnya bermula dari kekosongan kekuasaan setelah Jepang menyerah tanpa syarat pada Sekutu pada Agustus 1945, yang dimanfaatkan oleh Belanda untuk kembali mengklaim wilayah Hindia Belanda melalui kedok pasukan Sekutu. Di Surabaya, kota pelabuhan strategis di Jawa Timur dengan populasi yang padat dan semangat revolusioner yang tinggi, ketegangan memuncak ketika pasukan Sekutu mendarat pada akhir Oktober 1945, bukan hanya untuk melucuti senjata Jepang dan membebaskan tawanan perang, melainkan juga untuk mempersiapkan jalan bagi kembalinya kolonialisme Belanda. Pertempuran ini, yang berlangsung sengit selama hampir tiga minggu, menelan korban jiwa ribuan orang dan meninggalkan kota Surabaya dalam puing-puing, namun justru memperkuat tekad bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dengan harga darah dan nyawa. Hari ini, 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional, sebagai penghormatan abadi bagi para syuhada yang gugur dalam mempertahankan kedaulatan Republik yang baru lahir.

    25 Oktober 1945: Pasukan sekutu mendarat di Surabaya | 25-oktober-1945- pasukan-sekutu-mendarat-di-surabaya

    elshinta.com

    25 Oktober 1945: Pasukan sekutu mendarat di Surabaya | 25-oktober-1945- pasukan-sekutu-mendarat-di-surabaya

    Pasukan Sekutu mendarat di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada 25 Oktober 1945, yang menjadi awal dari ketegangan yang memicu pertempuran besar.

    Latar Belakang yang Membara: Ketegangan Pasca-Proklamasi dan Kedatangan Sekutu

    Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, semangat revolusi menyebar luas di seluruh Jawa, termasuk Surabaya yang menjadi pusat gerakan pemuda dan pejuang. Namun, kedatangan pasukan Sekutu di bawah komando Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby pada 25 Oktober 1945 membawa ancaman baru yang menyulut api perlawanan. Pasukan ini, yang terdiri dari sekitar 6.000 tentara dari Divisi India ke-23 dan didukung oleh unsur NICA, awalnya diklaim hanya untuk melucuti pasukan Jepang yang masih tersisa serta membebaskan sekitar 10.000 tawanan perang Sekutu yang ditahan di kamp-kamp Jepang. Pemerintah Indonesia di bawah Gubernur Suryo menyambut mereka dengan sikap hati-hati, bahkan menyediakan akomodasi dan logistik, dengan harapan menjaga netralitas. Akan tetapi, situasi berubah drastis ketika terungkap bahwa pasukan Sekutu membawa serta pejabat Belanda dari NICA yang bertujuan mengembalikan kekuasaan kolonial. Insiden kecil seperti penodaan bendera Merah Putih di Hotel Yamato pada 19 September 1945—di mana tentara Belanda merobek bagian merah dan mengibarkan bendera Belanda—sudah memanaskan suasana. Ditambah dengan provokasi-provocasi seperti penahanan warga dan upaya mempersenjatai tawanan Belanda, ketegangan semakin memuncak. Rakyat Surabaya, yang mayoritas pemuda pejuang bersenjatakan bambu runcing, senapan rampasan Jepang, dan semangat juang yang membara, mulai mengorganisir diri di bawah pimpinan tokoh seperti Bung Tomo melalui Radio Pemberontakan. Wilayah Surabaya dipilih sebagai medan pertempuran karena posisinya sebagai pelabuhan utama dan basis industri, yang jika dikuasai Sekutu, akan mempermudah mereka mengontrol Jawa Timur dan seluruh Indonesia.

    Isi Pidato Bung Tomo Bakar Semangat Pertempuran 10 November | Republika  Online

    news.republika.co.id

    Isi Pidato Bung Tomo Bakar Semangat Pertempuran 10 November | Republika Online

    Bung Tomo, pemimpin karismatik yang membakar semangat rakyat Surabaya melalui pidato heroiknya di radio.

    Kronologi Awal: Bentrokan Pertama dan Gugurnya Mallaby

    Pertempuran Surabaya sebenarnya dimulai secara sporadis sejak akhir Oktober 1945, dengan bentrokan-bentrokan kecil yang semakin eskalasi. Pada 27 Oktober 1945, pasukan Sekutu mulai memasuki kota dan berusaha menguasai posisi strategis, yang langsung dihadang oleh pemuda pejuang. Situasi memanas pada 28 Oktober ketika terjadi pertempuran sengit di berbagai sudut kota, termasuk di sekitar Jembatan Merah dan kawasan pelabuhan. Puncak ketegangan terjadi pada 30 Oktober 1945, ketika Brigadir Jenderal Mallaby, komandan pasukan Sekutu, tewas dalam sebuah insiden di Jembatan Merah saat sedang melakukan negosiasi dengan pemimpin Indonesia. Menurut catatan sejarah, mobil Mallaby diserang oleh massa yang marah akibat provokasi sebelumnya, meski ada versi yang menyebutkan tembakan dari kedua belah pihak. Kematian Mallaby menjadi pukulan besar bagi Sekutu, yang langsung menuntut balas dendam dan mengeluarkan ancaman serangan besar-besaran. Selama awal November, pasukan Indonesia di bawah komando Mayor Jenderal Sungkono dan didukung oleh laskar dari berbagai daerah seperti Malang dan Jombang, berhasil mempertahankan sebagian besar kota melalui taktik gerilya dan perlawanan kota. Rakyat Surabaya bahu-membahu menyediakan logistik, informasi intelijen, dan bahkan ikut bertempur, menciptakan pertahanan yang solid meski kekurangan persenjataan modern. Periode ini ditandai dengan seruan jihad dari ulama seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah, yang memobilisasi ribuan santri untuk bergabung dalam perlawanan.

    7 FAKTA Mengejutkan Dibalik Pertempuran Heroik 10 November 1945 di Surabaya,  Inggris Merasa Tertipu Belanda - Desk Jabar

    deskjabar.pikiran-rakyat.com

    7 FAKTA Mengejutkan Dibalik Pertempuran Heroik 10 November 1945 di Surabaya, Inggris Merasa Tertipu Belanda – Desk Jabar

    Tank dan pasukan Sekutu maju di jalanan Surabaya yang hancur akibat pertempuran sengit.

    Puncak Pertempuran: Serangan Besar pada 10 November 1945

    Pada 9 November 1945, Mayor Jenderal E.C. Mansergh, pengganti Mallaby, mengeluarkan ultimatum keras kepada rakyat Surabaya: menyerahkan senjata dan menyerah sebelum pukul 06.00 pagi keesokan harinya, dengan ancaman serangan habis-habisan dari darat, laut, dan udara. Ultimatum ini disiarkan melalui pesawat dan radio, namun ditolak mentah-mentah oleh Arek-Arek Suroboyo yang menyatakan “Merdeka atau Mati!”. Pagi hari 10 November 1945, pukul 06.00 WIB, serangan besar Sekutu dimulai dengan gempuran artileri dari kapal perang di laut, pengeboman oleh pesawat tempur dari udara, dan majunya tank serta infanteri dari darat. Surabaya diguncang oleh ledakan bom dan tembakan meriam yang tak henti-hentinya, mengubah kota menjadi medan perang yang mengerikan. Pasukan Indonesia, yang berjumlah sekitar 20.000 tentara dan 100.000 sukarelawan, melawan dengan gagah berani menggunakan bambu runcing, granat improvisasi, dan taktik gerilya di gang-gang sempit kota. Pidato Bung Tomo yang disiarkan melalui Radio Pemberontakan pada pukul 09.30 WIB—dengan teriakan “Allahu Akbar” yang menggema—membakar semangat juang para pejuang, membuat mereka bertahan meski menghadapi kekuatan yang jauh lebih unggul. Pertempuran berlangsung sengit sepanjang hari, dengan korban jiwa yang jatuh di kedua belah pihak, dan kota Surabaya porak-poranda akibat api dan ledakan. Hari ini menjadi simbol puncak perlawanan, di mana rakyat biasa menjadi pahlawan yang tak terlupakan.

    Pertempuran 10 November 1945. Bambu Runcing Sebagai Senjata Perjuangan  Kemerdekaan Indonesia - Media Purwodadi

    mediapurwodadi.pikiran-rakyat.com

    Pertempuran 10 November 1945. Bambu Runcing Sebagai Senjata Perjuangan Kemerdekaan Indonesia – Media Purwodadi

    Pejuang Indonesia dengan bambu runcing siap bertempur melawan pasukan Sekutu yang lebih modern.

    Akhir Pertempuran dan Mundurnya Pejuang

    Pertempuran Surabaya berlangsung hingga akhir November 1945, dengan fase akhir yang penuh pengorbanan. Meski Sekutu berhasil menguasai sebagian besar kota pada pertengahan November, perlawanan gerilya Indonesia terus berlanjut di pinggiran dan pedesaan sekitar. Pada 28 November 1945, pasukan Indonesia yang sudah kehabisan amunisi dan logistik terpaksa mundur secara terorganisir ke daerah pedalaman, meninggalkan Surabaya dalam kendali Sekutu. Namun, kemenangan militer Sekutu ini hanyalah ilusi, karena secara moral dan politik, Indonesia telah menang. Ribuan warga sipil tewas, rumah-rumah hancur, dan kota menjadi kota mati, tapi semangat perjuangan menyebar ke seluruh Indonesia. Tokoh-tokoh seperti Bung Tomo, Gubernur Suryo, dan Mayor Jenderal Sungkono menjadi legenda, sementara korban seperti ratusan pejuang yang gugur di Jembatan Merah dan kawasan kota menjadi inspirasi abadi. Pertempuran ini juga menarik perhatian dunia internasional, memperkuat dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia di forum-forum global.

    Tugu Pahlawan, Jejak Pertempuran 10 November di Surabaya

    travel.kompas.com

    Tugu Pahlawan, Jejak Pertempuran 10 November di Surabaya

    Tugu Pahlawan Surabaya, monumen abadi yang mengenang para syuhada Pertempuran 10 November 1945.

    Dampak dan Warisan Abadi Pertempuran Surabaya

    Dampak Pertempuran Surabaya sangat luas dan mendalam bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Secara militer, meski Indonesia kehilangan kendali atas Surabaya, pertempuran ini memperlambat rencana Sekutu untuk menguasai Jawa dan memaksa mereka merevisi strategi kolonial. Secara politik, kemenangan moral ini membangkitkan semangat perlawanan di seluruh nusantara, membuktikan bahwa bangsa Indonesia siap bertarung mati-matian untuk kemerdekaan. Internasional, peristiwa ini menjadi bukti kekejaman kolonialisme pasca-Perang Dunia II, yang memperkuat posisi Indonesia di mata dunia dan membuka jalan bagi pengakuan kemerdekaan pada 1949. Hingga kini, Tugu Pahlawan di Surabaya berdiri sebagai pengingat, dengan api abadi yang menyala dan museum yang menyimpan artefak perjuangan. Peristiwa ini diajarkan di sekolah sebagai pelajaran tentang kepahlawanan, persatuan, dan ketangguhan, sementara Hari Pahlawan 10 November menjadi momen refleksi nasional. Korban yang gugur, termasuk ribuan Arek-Arek Suroboyo, menjadi saksi bahwa kemerdekaan bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan berdarah.

    Tabel Kronologi Pertempuran Surabaya

    TanggalPeristiwa Utama
    25 Oktober 1945Pasukan Sekutu (AFNEI) mendarat di Tanjung Perak, Surabaya.
    27-28 Oktober 1945Bentrokan pertama pecah di berbagai sudut kota.
    30 Oktober 1945Brigadir Jenderal Mallaby tewas di Jembatan Merah.
    9 November 1945Ultimatum Sekutu dikeluarkan, ditolak oleh rakyat Surabaya.
    10 November 1945Serangan besar Sekutu dimulai; pidato Bung Tomo membakar semangat.
    20-28 November 1945Pertempuran berlanjut; pejuang Indonesia mundur secara terorganisir.

    Tabel Tokoh Utama yang Terlibat

    Tokoh IndonesiaPeran UtamaTokoh SekutuPeran Utama
    Bung TomoPemimpin propaganda dan semangat juang via radioBrigadir Jenderal A.W.S. MallabyKomandan awal pasukan Sekutu
    Gubernur SuryoGubernur Jawa Timur, pemimpin politikMayor Jenderal E.C. ManserghPengganti Mallaby, pengeluarkan ultimatum
    Mayor Jenderal SungkonoKomandan pertahanan kota––
    KH Hasyim Asy’ariUlama yang mengeluarkan fatwa jihad––

    Tabel Korban dan Kekuatan Pasukan

    AspekPihak IndonesiaPihak Sekutu
    Kekuatan PasukanSekitar 20.000 tentara + 100.000 sukarelawanSekitar 6.000-30.000 tentara
    Korban JiwaSekitar 15.000-20.000 tewasSekitar 1.600-2.000 tewas
    Hasil AkhirMundur tapi menang moralKuasai kota tapi kehilangan citra
    Pertempuran Mempertahankan Kemerdekaan – Kompaspedia

    kompaspedia.kompas.id

    Pertempuran Mempertahankan Kemerdekaan – Kompaspedia

    Peta pertempuran mempertahankan kemerdekaan yang menyoroti posisi Surabaya sebagai medan perang utama pada 10 November 1945.

    Daftar Pustaka

    Buku:

    1. Notosusanto, Nugroho. Pertempuran Surabaya. Jakarta: Balai Pustaka, 1985.
    2. Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia Since C.1200. Stanford University Press, 2008.
    3. Abdulgani, Ruslan. 100 Hari Pertempuran di Surabaya. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan, 1975.
    4. Sunyoto, Agus. Fatwa dan Resolusi Jihad: Sejarah Perang Rakyat Semesta di Surabaya 10 November 1945. Jakarta: Lesbumi PBNU, 2017.
    5. Pasak Sejarah Indonesia Kekinian: Surabaya 10 Nopember 1945. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2018.

    Jurnal:

    1. Maulana, Much. Rizki. “Pertempuran Surabaya 10 November 1945: Titik Balik dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia.” Maliki Interdisciplinary Journal, Vol. 2, No. 7, 2024.
    2. Jauhari, N. “Resolusi Jihad dan Laskar Sabilillah Malang dalam Pertempuran Surabaya 10 Nopember 1945.” Jurnal Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2013.
    3. Haris, Maulana. “Peran Polisi Istimewa dalam Pertempuran Surabaya Tahun 1945.” Skripsi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2018.

    Website:

    1. Wikipedia. “Pertempuran Surabaya.” Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Surabaya.
    2. Detik.com. “Kronologi Pertempuran 10 November Secara Singkat Beserta Tokohnya.” 8 November 2024.
    3. Kompas.com. “Pertempuran Surabaya: Penyebab, Tokoh, Kronologi, dan Dampak.” 5 Agustus 2022.
    4. Tirto.id. “Sejarah Peristiwa 10 November dan Kronologi Pertempuran Surabaya.” 9 November 2022.
    5. CNN Indonesia. “Kronologi Pertempuran Surabaya dan Peristiwa 10 November 1945.” 4 Juli 2021.
    6. Gramedia Literasi. “Sejarah Pertempuran Surabaya (10 November 1945).”
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Rifa Sani

    Related Posts

    Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka

    March 22, 2026

    Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura

    March 22, 2026

    Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan

    March 7, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Recent Posts
    • Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka
    • Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura
    • Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan
    • Komik : Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar: Peninggalan Sejarah dan Filosofi Hidup Masyarakatnya)
    • Komik : Kesultanan Banten (Banten Glory and Betrayal)
    • Komik : Kesultanan Aceh Darussalam (The Evolution of Acehnese Governance and Maritime Influence)
    • Komik : Mataram Islam: Dari Alas Mentaok hingga Perjanjian Giyanti
    Sosial Media
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube
    • Soundcloud
    • TikTok
    • WhatsApp
    Latest Posts

    Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka

    March 22, 202617 Views

    Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura

    March 22, 202610 Views

    Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan

    March 7, 202620 Views

    Komik : Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar: Peninggalan Sejarah dan Filosofi Hidup Masyarakatnya)

    March 4, 202610 Views
    Don't Miss
    Artikel

    Masuknya Islam Di Nusantara

    By Rifa SaniFebruary 8, 202685

    PENGANTAR Proses masuknya Islam ke Nusantara tidak terjadi melalui penaklukan militer, melainkan melalui jalur perdagangan…

    Peristiwa Rengasdengklok: Kronologi Penculikan Dramatis yang Mempercepat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

    February 13, 2026

    Peristiwa Rapat Besar di Lapangan Ikada: Kronologi yang Menggelorakan Semangat Revolusi Indonesia

    February 13, 2026
    Demo
    Archives
    About Us
    About Us

    We're accepting new partnerships right now.

    Recent
    • Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka
    • Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura
    • Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan
    • Komik : Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar: Peninggalan Sejarah dan Filosofi Hidup Masyarakatnya)
    • Komik : Kesultanan Banten (Banten Glory and Betrayal)
    • Komik : Kesultanan Aceh Darussalam (The Evolution of Acehnese Governance and Maritime Influence)
    Most Popular

    Masuknya Islam Di Nusantara

    February 8, 2026679 Views

    Peristiwa Rengasdengklok: Kronologi Penculikan Dramatis yang Mempercepat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

    February 13, 2026396 Views

    Peristiwa Rapat Besar di Lapangan Ikada: Kronologi yang Menggelorakan Semangat Revolusi Indonesia

    February 13, 2026238 Views
    Facebook Instagram YouTube WhatsApp TikTok RSS
    © 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Powered by
    ►
    Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
    None
    ►
    Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
    None
    ►
    Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
    None
    ►
    Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
    None
    ►
    Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
    None
    Powered by