Close Menu
    What's Hot

    Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka

    March 22, 2026

    Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura

    March 22, 2026

    Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan

    March 7, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Facebook X (Twitter) Instagram
    Cerita Saja
    • Home
    • Profil
    • Artikel
      • Kelas
        • Kelas X
        • Kelas XI
        • Kelas XII
      • Legenda
      • Tradisi
      • Mitos
      • Misteri
      • Kota
      • Perundingan/Perjanjian
    • Tokoh
    • Sastra
      • Kitab / Kakawin
      • Suluk
      • Babad
      • Hikayat
    • Komik
    • Kuis
    • Download
      • E-Book
      • Buku Pelajaran
      • Karya Siswa
      • RPP / MODUL AJAR
      • Infografis
      • Slide Presentasi
      • Login
    SoundCloud RSS
    Cerita Saja
    Home»Artikel»Perjuangan Diplomasi Bangsa Indonesia: Perundingan Hooge Veluwe 1946
    Artikel

    Perjuangan Diplomasi Bangsa Indonesia: Perundingan Hooge Veluwe 1946

    Rifa SaniBy Rifa SaniFebruary 15, 2026Updated:February 25, 2026No Comments5 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Pengantar

    Perundingan Hooge Veluwe (juga disebut Hoge Veluwe) merupakan salah satu episode penting dalam perjuangan diplomasi Indonesia pasca-Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Dilangsungkan pada 14–24 April 1946 di Taman Nasional Hooge Veluwe, Belanda, perundingan ini menjadi kelanjutan dari perundingan pendahuluan di Jakarta dan draft persetujuan yang disampaikan Sutan Sjahrir pada 27 Maret 1946. Latar belakangnya adalah ketegangan antara Republik Indonesia yang baru berdiri dengan Belanda yang ingin mengembalikan kekuasaan kolonial melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Pemerintah Republik di bawah Perdana Menteri Sutan Sjahrir memilih jalur diplomasi untuk mendapatkan pengakuan internasional, meskipun di dalam negeri ada tekanan dari kelompok yang lebih radikal. Perundingan ini melibatkan delegasi kecil Indonesia yang berangkat ke Belanda untuk berhadapan langsung dengan pemerintah Belanda, dengan mediasi dari Inggris. Hooge Veluwe dipilih karena lokasinya yang tenang di tengah hutan dan padang rumput luas, namun suasana perundingan justru penuh ketegangan akibat perbedaan mendasar mengenai status kedaulatan Indonesia. Meskipun akhirnya gagal, perundingan ini menjadi batu loncatan bagi negosiasi selanjutnya, seperti Perjanjian Linggarjati pada November 1946.

    The history of De Hoge Veluwe National Park

    hogeveluwe.nl

    The history of De Hoge Veluwe National Park

    Ilustrasi Taman Nasional Hooge Veluwe, lokasi perundingan pada April 1946, yang menyediakan suasana alam tenang di tengah negosiasi politik yang tegang.

    Nature and Culture

    hogeveluwe.nl

    Nature and Culture

    Pemandangan matahari terbenam di Hooge Veluwe, menggambarkan keindahan alam yang kontras dengan kegagalan diplomasi saat itu.

    Tokoh-Tokoh yang Terlibat (Perwakilan-Perwakilan)

    Perundingan Hooge Veluwe melibatkan delegasi dari tiga pihak: Indonesia, Belanda, dan perantara Inggris. Berikut tabel ringkasan tokoh utama beserta peran mereka:

    PihakNama TokohPeran dan Latar BelakangIlustrasi Terkait
    IndonesiaMr. Suwandi (W. Soewandi)Menteri Kehakiman RI; anggota delegasi utama, mewakili posisi moderat Sjahrir.Perundingan Hooge Veluwe - ABHISEVA.IDabhiseva.idPerundingan Hooge Veluwe – ABHISEVA.ID Foto historis delegasi Indonesia di Hooge Veluwe (dari kiri: Sudarsono, Suwandi, Pringgodigdo).
    IndonesiaDr. SudarsonoMenteri Dalam Negeri RI; delegasi yang tegas memperjuangkan kemerdekaan penuh.(Gambar sama di atas)
    IndonesiaMr. A.K. PringgodigdoSekretaris Negara RI; ahli hukum yang membantu penyusunan argumen diplomasi.(Gambar sama di atas)
    BelandaProf. Ir. Dr. Willem SchermerhornPerdana Menteri Belanda; ketua delegasi, mewakili pemerintah koalisi pasca-PD II.Negotiations and signing truce agreement; Linggadjati conference with left  to right: Schermerhorn, Lord Killearn and Sutan Sjahrir Date: October 14,  1946 Location: Batavia, Indonesia, Indonesia, Dutch East Indies Keywords:  conferences, ministers ...alamy.comNegotiations and signing truce agreement; Linggadjati conference with left to right: Schermerhorn, Lord Killearn and Sutan Sjahrir Date: October 14, 1946 Location: Batavia, Indonesia, Indonesia, Dutch East Indies Keywords: conferences, ministers … Willem Schermerhorn (kiri) bersama Sutan Sjahrir dalam suasana perundingan serupa (kelanjutan diplomasi 1946).
    BelandaDr. H.J. van MookLetnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda; tokoh kunci yang ingin federasi di bawah Belanda.Dampak Perundingan Hooge-Veluwekompas.comDampak Perundingan Hooge-Veluwe Suasana makan malam dengan delegasi Belanda dan Indonesia, mencerminkan interaksi selama perundingan.
    BelandaProf. Dr. J.H. Logemann, Dr. J.H. van Roijen, dll.Anggota delegasi; mewakili kepentingan kolonial dan federasi.–
    Perantara (Inggris)Sir Archibald Clark KerrDuta Besar Inggris; berperan sebagai mediator untuk meredakan konflik.Perundingan Hooge-Veluwe: Upaya Indonesia Pertahankan Kemerdekaanruangguru.comPerundingan Hooge-Veluwe: Upaya Indonesia Pertahankan Kemerdekaan Infografis delegasi Hooge Veluwe, termasuk perantara Inggris.

    Tokoh-tokoh Indonesia seperti Suwandi, Sudarsono, dan Pringgodigdo dipilih karena pengalaman administratif dan komitmen moderat mereka terhadap diplomasi damai di bawah arahan Sutan Sjahrir. Sementara itu, Schermerhorn dan van Mook mewakili Belanda yang masih berpegang pada konsep persemakmuran dengan Indonesia sebagai bagian federasi. Perbedaan pandangan ini menjadi inti konflik.

    Jalannya Pertemuan

    Perundingan dimulai pada 14 April 1946 di sebuah rumah peristirahatan di Hooge Veluwe, dengan suasana yang relatif tertutup. Delegasi Indonesia menyampaikan usulan berdasarkan draft Sjahrir: pengakuan de facto Belanda atas kedaulatan Republik Indonesia atas seluruh wilayah bekas Hindia Belanda, diikuti pembentukan Uni Indonesia-Belanda yang setara. Namun, delegasi Belanda di bawah Schermerhorn hanya bersedia mengakui de facto atas Jawa, Madura, dan Sumatera, sementara wilayah lain tetap di bawah kendali mereka hingga pembentukan federasi. Diskusi berlangsung alot selama sepuluh hari, dengan Sir Archibald Clark Kerr berusaha menjembatani. Indonesia menolak keras konsep federasi yang dianggap sebagai bentuk neokolonialisme, sementara Belanda khawatir kehilangan pengaruh ekonomi. Pertemuan sering terhenti karena deadlock, dan akhirnya pada 24 April 1946, perundingan diakhiri tanpa kemajuan signifikan.

    Kisah Gagalnya Perundingan Hoge Veluwe dan Bagaimana Indonesia Melanjutkan  Perundingan di Linggarjati | Intisari

    intisari.grid.id

    Kisah Gagalnya Perundingan Hoge Veluwe dan Bagaimana Indonesia Melanjutkan Perundingan di Linggarjati | Intisari

    Ilustrasi suasana meja perundingan Indonesia-Belanda pada masa itu, mencerminkan ketegangan di Hooge Veluwe.

    Hasil Pertemuan

    Perundingan Hooge Veluwe berakhir dengan kegagalan total. Tidak ada kesepakatan tertulis yang dicapai, dan kedua pihak kembali ke posisi awal. Belanda tetap menolak pengakuan kedaulatan penuh atas seluruh Indonesia, sementara delegasi RI tidak mau berkompromi pada prinsip kemerdekaan. Hasil tidak langsungnya adalah meningkatnya ketegangan yang memicu Agresi Militer Belanda I pada Juli 1947. Namun, kegagalan ini mendorong Inggris untuk lebih aktif memediasi, yang akhirnya menghasilkan Perjanjian Linggarjati pada November 1946 dengan kompromi pengakuan de facto atas Jawa, Madura, dan Sumatera.

    Sejarah Perundingan Hooge Veluwe 1946 & Dampaknya bagi Indonesia

    tirto.id

    Sejarah Perundingan Hooge Veluwe 1946 & Dampaknya bagi Indonesia

    Foto historis Sutan Sjahrir bersama Soekarno dan Hatta, tokoh kunci di balik strategi diplomasi pasca-kegagalan Hooge Veluwe.

    Kesimpulan

    Perundingan Hooge Veluwe 1946 mencerminkan ketangguhan diplomasi Indonesia di tengah tekanan kolonial. Meskipun gagal, upaya delegasi seperti Suwandi, Sudarsono, dan Pringgodigdo menunjukkan kematangan politik Republik yang baru berusia kurang dari setahun. Kegagalan ini menjadi pelajaran berharga bahwa kompromi harus tetap berpijak pada kemerdekaan penuh, dan membuka jalan bagi perundingan berikutnya yang akhirnya berkontribusi pada pengakuan kedaulatan pada 1949. Peristiwa ini menggarisbawahi bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya melalui senjata, tetapi juga melalui ketabahan di meja diplomasi.

    Daftar Pustaka

    1. Website: “Sejarah Perundingan Hooge Veluwe 1946 & Dampaknya bagi Indonesia”. Tirto.id. Diakses dari https://tirto.id/sejarah-perundingan-hooge-veluwe-1946-dan-dampaknya-bagi-indonesia-gwbz.
    2. Website: “Perundingan Hooge-Veluwe: Upaya Indonesia Pertahankan Kemerdekaan”. Ruangguru.com. Diakses dari https://www.ruangguru.com/blog/perundingan-hooge-veluwe-upaya-indonesia-pertahankan-kemerdekaan (4 Oktober 2017).
    3. Website: “Perundingan Hooge-Veluwe (1946)”. Kompas.com. Diakses dari https://www.kompas.com/skola/read/2020/12/21/145618269/perunderingan-hooge-veluwe-1946 (21 Desember 2020).
    4. Website: “Kegagalan Perundingan Hoge Veluwe dan Dampaknya”. Koransulindo.com. Diakses dari https://koransulindo.com/kegagalan-perundingan-hoge-veluwe-dan-dampaknya (20 November 2024).
    5. Buku: Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto (ed.). Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI. Balai Pustaka, 2008.
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Rifa Sani

    Related Posts

    Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka

    March 22, 2026

    Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura

    March 22, 2026

    Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan

    March 7, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Recent Posts
    • Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka
    • Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura
    • Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan
    • Komik : Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar: Peninggalan Sejarah dan Filosofi Hidup Masyarakatnya)
    • Komik : Kesultanan Banten (Banten Glory and Betrayal)
    • Komik : Kesultanan Aceh Darussalam (The Evolution of Acehnese Governance and Maritime Influence)
    • Komik : Mataram Islam: Dari Alas Mentaok hingga Perjanjian Giyanti
    Sosial Media
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube
    • Soundcloud
    • TikTok
    • WhatsApp
    Latest Posts

    Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka

    March 22, 202616 Views

    Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura

    March 22, 20268 Views

    Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan

    March 7, 202618 Views

    Komik : Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar: Peninggalan Sejarah dan Filosofi Hidup Masyarakatnya)

    March 4, 202610 Views
    Don't Miss
    Artikel

    Masuknya Islam Di Nusantara

    By Rifa SaniFebruary 8, 202685

    PENGANTAR Proses masuknya Islam ke Nusantara tidak terjadi melalui penaklukan militer, melainkan melalui jalur perdagangan…

    Peristiwa Rengasdengklok: Kronologi Penculikan Dramatis yang Mempercepat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

    February 13, 2026

    Peristiwa Rapat Besar di Lapangan Ikada: Kronologi yang Menggelorakan Semangat Revolusi Indonesia

    February 13, 2026
    Demo
    Archives
    About Us
    About Us

    We're accepting new partnerships right now.

    Recent
    • Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka
    • Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura
    • Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan
    • Komik : Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar: Peninggalan Sejarah dan Filosofi Hidup Masyarakatnya)
    • Komik : Kesultanan Banten (Banten Glory and Betrayal)
    • Komik : Kesultanan Aceh Darussalam (The Evolution of Acehnese Governance and Maritime Influence)
    Most Popular

    Masuknya Islam Di Nusantara

    February 8, 2026565 Views

    Peristiwa Rengasdengklok: Kronologi Penculikan Dramatis yang Mempercepat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

    February 13, 2026394 Views

    Peristiwa Rapat Besar di Lapangan Ikada: Kronologi yang Menggelorakan Semangat Revolusi Indonesia

    February 13, 2026238 Views
    Facebook Instagram YouTube WhatsApp TikTok RSS
    © 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Powered by
    ►
    Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
    None
    ►
    Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
    None
    ►
    Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
    None
    ►
    Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
    None
    ►
    Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
    None
    Powered by