Close Menu
    What's Hot

    Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka

    March 22, 2026

    Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura

    March 22, 2026

    Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan

    March 7, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Facebook X (Twitter) Instagram
    Cerita Saja
    • Home
    • Profil
    • Artikel
      • Kelas
        • Kelas X
        • Kelas XI
        • Kelas XII
      • Legenda
      • Tradisi
      • Mitos
      • Misteri
      • Kota
      • Perundingan/Perjanjian
    • Tokoh
    • Sastra
      • Kitab / Kakawin
      • Suluk
      • Babad
      • Hikayat
    • Komik
    • Kuis
    • Download
      • E-Book
      • Buku Pelajaran
      • Karya Siswa
      • RPP / MODUL AJAR
      • Infografis
      • Slide Presentasi
      • Login
    SoundCloud RSS
    Cerita Saja
    Home»Artikel»Kesultanan Bima: Sejarah Kerajaan Islam di Pulau Sumbawa
    Artikel

    Kesultanan Bima: Sejarah Kerajaan Islam di Pulau Sumbawa

    Rifa SaniBy Rifa SaniFebruary 16, 2026No Comments8 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Pengantar

    Kesultanan Bima merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Nusa Tenggara Barat (NTB), Indonesia, yang berlokasi di bagian timur Pulau Sumbawa. Kerajaan ini berdiri pada awal abad ke-17, tepatnya sekitar tahun 1620–1640 M, ketika raja terakhir Kerajaan Bima pra-Islam, La Kai (atau Ma Bata Wadu), memeluk agama Islam dan bergelar Sultan Abdul Kahir sebagai sultan pertama. Proses Islamisasi ini dipengaruhi oleh Kesultanan Gowa-Tallo dari Makassar, yang mengirimkan mubalig untuk menyebarkan Islam di wilayah timur Indonesia.

    Corak agama Kesultanan Bima adalah Islam Sunni dengan pengaruh kuat dari tradisi Sufi dan adat lokal (Dou Mbojo). Islam tidak menghapus sepenuhnya budaya pra-Islam, melainkan berakulturasi, sehingga muncul sinkretisme antara syariat Islam dan nilai-nilai adat seperti rimpu (kerudung khas perempuan Bima) serta upacara adat yang tetap dipertahankan hingga kini.

    Pulau Sumbawa | Kesultanan dan Kerajaan di Indonesia

    sultansinindonesieblog.wordpress.com

    Pulau Sumbawa | Kesultanan dan Kerajaan di Indonesia

    Peta Pulau Sumbawa menunjukkan lokasi Kesultanan Bima di bagian timur pulau, berbatasan dengan Dompu dan Sanggar.

    Sumber Dalam dan Luar

    Sumber sejarah utama Kesultanan Bima berasal dari naskah lokal dan catatan kolonial.

    Sumber Dalam:

    • Bo Sangaji Kai: Kronik utama kerajaan, ditulis dalam aksara Mbojo (aksara lokal Bima) dan kemudian dialihbahasakan ke Latin pada abad ke-19. Naskah ini memuat sejarah dari masa pra-Islam hingga masa kesultanan, termasuk silsilah raja, hukum adat, dan peristiwa penting.
    • Hikayat-hikayat lisan dan naskah kecil seperti Bo Sara Hukum.

    Sumber Luar:

    • Catatan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) Belanda, yang mendokumentasikan hubungan diplomatik dan perjanjian dengan Bima sejak abad ke-17.
    • Laporan mubalig dari Gowa dan catatan Portugis awal tentang perdagangan di Sumbawa.

    Tidak banyak prasasti batu ditemukan, karena tradisi penulisan Bima lebih mengandalkan naskah daun lontar dan kertas.

    Jenis SumberNama SumberIsi UtamaPeriode
    DalamBo Sangaji KaiSejarah lengkap, silsilah, hukumAbad 17–19
    DalamBo Sara HukumKodifikasi hukum adat-IslamMasa Sultan Abdul Hamid
    LuarArsip VOCPerjanjian dan diplomasiAbad 17–18
    LuarCatatan GowaIslamisasi BimaAbad 17

    Awal Berdiri

    Awal berdiri Kesultanan Bima ditandai dengan masuknya Islam pada tahun 1620 M, ketika Raja La Kai menerima utusan dari Kesultanan Gowa. Menurut Bo Sangaji Kai, La Kai setuju memeluk Islam setelah melihat mimpi dan pengaruh dagang dari Makassar. Pada 5 Juli 1640, ia dinobatkan sebagai Sultan Abdul Kahir Sirajuddin, menandai transformasi dari kerajaan Hindu-Buddha/adat menjadi kesultanan Islam. Peristiwa ini didukung oleh aliansi politik dengan Gowa untuk melawan pengaruh Belanda.

    Bukti-Bukti

    Bukti arkeologis dan dokumenter mendukung eksistensi kesultanan ini. Istana Asi Mbojo (sekarang Museum Asi Mbojo) adalah bukti fisik utama, dibangun pada masa Sultan Ibrahim. Makam sultan-sultan di kompleks pemakaman kerajaan juga menjadi saksi bisu. Naskah Bo Sangaji Kai menjadi bukti tekstual paling otentik.

    BuktiDeskripsiLokasi/Tahun
    Istana Asi MbojoBangunan kayu bergaya kolonial-adatBima, abad 19
    Makam SultanKompleks pemakaman sultanBima
    Mahkota KerajaanTerbuat dari emas dan berlianMuseum Asi Mbojo
    Naskah BoKoleksi lontarMuseum dan arsip
    Website Resmi Dinas Pariwisata

    pariwisata.bimakota.go.id

    Website Resmi Dinas Pariwisata

    Istana Asi Mbojo, peninggalan utama Kesultanan Bima yang kini menjadi museum.

    Kronik

    Kronik utama adalah Bo Sangaji Kai, yang mencatat peristiwa secara kronologis dari masa Ncuhi (kepala suku pra-kerajaan) hingga sultan terakhir. Kronik ini juga memuat penaklukan wilayah timur seperti Manggarai dan Sumba pada masa awal.

    PeriodePeristiwa Utama
    Pra-IslamDipimpin raja seperti Indra Zamrud hingga La Kai
    1620–1640Islamisasi dan pendirian kesultanan
    Abad 18Puncak kejayaan maritim
    Abad 20Integrasi ke Indonesia

    Tokoh-Tokoh Terkenal

    Beberapa tokoh terkenal:

    • Sultan Abdul Kahir (pendiri).
    • Sultan Sirajuddin (pembangun armada laut).
    • Tureli Nggampo (perdana menteri legendaris).
    TokohGelar/JabatanKontribusi
    La KaiRaja pra-IslamMemeluk Islam, pendiri kesultanan
    Abdul KahirSultan IMenegakkan syariat Islam
    Abdul Khair SirajuddinSultan IIMemperluas wilayah dan armada
    Muhammad SalahuddinSultan terakhirModernisasi dan integrasi ke RI

    Lokasi

    Kesultanan Bima berpusat di Kota Bima, bagian timur Pulau Sumbawa, NTB. Wilayahnya meliputi Bima, Dompu bagian, dan pengaruh hingga Manggarai (Flores). Lokasi strategis di jalur perdagangan membuatnya menjadi pusat maritim.

    Pulau Sumbawa | Kesultanan dan Kerajaan di Indonesia

    sultansinindonesieblog.wordpress.com

    Pulau Sumbawa | Kesultanan dan Kerajaan di Indonesia

    Daftar Raja

    Berikut daftar sultan dari awal hingga akhir (berdasarkan kompilasi dari Bo Sangaji Kai dan sumber lain; ada variasi kecil antar sumber).

    NoNama SultanMasa JabatanPenjelasan Singkat
    1Abdul Kahir (La Kai)1620–1640Pendiri, memeluk Islam atas pengaruh Gowa
    2Abul Khair Sirajuddin (Ambela)1640–1682Memperkuat Islam, aliansi dengan Gowa
    3Nuruddin Abu Bakar Ali Syah1682–1687Masa transisi
    4Jamaluddin Muhammad1687–1696Perluasan wilayah
    5Abdul Kadim1729–1751Pembangunan istana
    6Kamaluddin Muhammad1751–1773Konflik internal
    7Abdul Hamid Muhammad Syah1773–1817Kodifikasi hukum dalam Bo
    8Ismail Muhammad Syah1817–1854Hubungan erat dengan VOC/Hindia Belanda
    9Ibrahim Muhammad Syah1854–1869Pembangunan Asi Mbojo
    10Abdullah1869–1881Masa kolonial
    11Ibrahim1881–1915Modernisasi awal
    12Muhammad Salahuddin1915–1951Sultan terakhir, menyerahkan kedaulatan ke RI pada 1954

    Kehidupan Kerajaan (Umum)

    Kehidupan kerajaan Bima berpusat pada istana, dengan sultan sebagai pemimpin absolut yang dibantu majelis Sara (dewan). Masyarakat agraris-maritim, dengan perdagangan kuda, beras, dan kayu sebagai andalan.

    Kehidupan Politik

    Kehidupan politik Kesultanan Bima ditandai dengan sistem monarki absolut yang diimbangi oleh majelis adat. Sultan berada di puncak, dibantu Tureli Nggampo (perdana menteri) dan Jeneli (panglima). Bukti dari Bo Sangaji Kai menunjukkan adanya Sara Hukum yang mengatur suksesi takhta, sering menyebabkan konflik internal. Pada abad ke-18, politik semakin dipengaruhi Belanda melalui perjanjian vassal.

    Pada masa VOC, Bima menjalankan diplomasi cerdas: tetap setia pada Gowa tapi akhirnya mengikat perjanjian dengan Belanda pasca-Perang Makassar (1669). Sultan mengirim utusan ke Batavia dan menerima pengakuan kedaulatan terbatas.

    Di era Hindia Belanda, politik menjadi lebih terkontrol, dengan Zelfbestuur (pemerintahan sendiri) hingga 1950-an. Bukti kontrak-kontrak VOC menunjukkan Bima tetap mempertahankan hukum adat.

    Kehidupan Ekonomi

    Ekonomi Bima berbasis agraris dan maritim. Pertanian padi dan jagung menjadi andalan, didukung irigasi tradisional. Perdagangan kuda Sumbawa terkenal hingga India dan Australia.

    Perdagangan rempah dan kayu jati melalui pelabuhan Bima. Bukti catatan VOC menyebut ekspor kuda dan budak sebagai komoditas utama.

    Pada abad ke-19, ekonomi terintegrasi dengan kolonial, dengan pajak tetap ke Belanda tapi sultan mengendalikan perdagangan lokal.

    Kehidupan Sosial

    Struktur sosial hierarkis: bangsawan (Dou Labo) di atas, rakyat biasa (Dou Raha), dan budak. Adat rimpu dan sare menunjukkan pengaruh Islam pada perempuan.

    Pendidikan melalui pondok pesantren dan pengajian istana. Bukti naskah Bo menunjukkan mobilitas sosial melalui jasa militer.

    Masyarakat multietnis dengan suku Mbojo dominan, toleransi terhadap minoritas Dou Donggo (pra-Islam).

    Kehidupan Budaya

    Budaya Bima kaya dengan tarian Mpa’a Sami, musik gandrung, dan sastra Bo. Arsitektur uma lengge (rumah adat) dan rimpu menjadi ikon.

    Pengaruh Islam terlihat pada seni kaligrafi dan masjid bergaya campuran. Museum Asi Mbojo menyimpan pusaka budaya.

    Upacara adat seperti huwu (panen) tetap dilestarikan dengan nuansa Islam.

    Mengenal Asi Mbojo, Istana Kerajaan Bima: Sejarah, Arsitektur, Perancang,  dan Benda-benda di Dalam Museum

    regional.kompas.com

    Mengenal Asi Mbojo, Istana Kerajaan Bima: Sejarah, Arsitektur, Perancang, dan Benda-benda di Dalam Museum

    Kehidupan Hukum

    Hukum berbasis syariat Islam dan adat (Sara Hukum). Sultan Abdul Hamid (1797) mengkodifikasi dalam Bo Sangaji Kai.

    Hukuman adat seperti denda dan pengasingan. Bukti kontrak Belanda mengakui hukum lokal tetap berlaku.

    Di era kolonial, hukum Eropa diterapkan parsial, tapi adat tetap dominan di pedesaan.

    Kehidupan Militer

    Militer kuat dengan armada laut (pabise). Pasukan darat terdiri dari prajurit adat dan meriam dari Gowa.

    Bukti Perang Makassar: Bima membantu Gowa melawan VOC-Arung Palakka.

    Pada abad ke-19, militer melemah karena ketergantungan pada Belanda.

    Kehidupan Keamanan

    Keamanan dijaga oleh panglima Jeneli dan polisi adat. Wilayah pedalaman sering konflik suku.

    Bukti Bo Sangaji Kai mencatat patroli laut untuk anti-bajak.

    Di era kolonial, Belanda membantu keamanan melawan pemberontakan lokal.

    Hubungan Internasional

    Hubungan awal erat dengan Gowa untuk Islamisasi. Aliansi dagang dengan Bugis dan Makassar.

    Dengan VOC: vassal sejak 1669 (Perjanjian Bongaya dampak), tapi tetap otonom. Bukti sumpah setia sultan pada Al-Qur’an dan keris.

    Hubungan dengan kerajaan lain di Flores dan Sumba sebagai pengaruh hegemoni.

    Kesimpulan Kehidupan Kerajaan

    Secara umum, kehidupan kerajaan Bima harmonis antara Islam dan adat, dengan ekonomi maritim yang kuat hingga kolonialisme melemahkan otonomi.

    Konflik

    Intern: Perebutan takhta antar pewaris. Ekstern: Perang Makassar (1667–1669) melawan VOC dan Bugis; pemberontakan lokal di Manggarai.

    Kejayaan

    Kejayaan Bima mencapai puncak pada abad ke-17–18, dengan armada laut kuat dan pengaruh hingga Indonesia Timur. Bukti Bo Sangaji Kai mencatat penaklukan Solo, Sumba, dan Manggarai.

    Ekonomi maritim mendominasi, ekspor kuda ke seluruh Nusantara dan Asia. Sultan Sirajuddin membangun puluhan kapal perang.

    Pada masa Sultan Salahuddin (abad ke-20), modernisasi pendidikan dan infrastruktur menandai kejayaan akhir sebelum integrasi.

    Akhir Kesultanan/Keruntuhan

    Keruntuhan dimulai dengan kontrol ketat Hindia Belanda pasca-1905. Sultan menjadi Zelfbestuurder tanpa kekuasaan nyata.

    Pada 1949–1954, Sultan Muhammad Salahuddin menyerahkan kedaulatan ke Republik Indonesia melalui konferensi Malino dan pengakuan RIS.

    Akhir resmi pada 1958 ketika status swapraja dihapus, Bima menjadi kabupaten biasa.

    Perjanjian-Perjanjian

    Perjanjian utama dengan VOC/Hindia Belanda sejak 1669 (dampak Bongaya), hingga kontrak 1908 yang mengakui sultan sebagai penguasa lokal.

    TahunPerjanjianPihakIsi Utama
    1669Dampak BongayaVOC-Gowa-BimaBima vassal VOC
    1790-anKontrakBelandaPengakuan otonomi terbatas
    1908Korte VerklaringHindia BelandaSultan tunduk penuh

    Struktur Pemerintahan

    TingkatJabatanTugas
    PuncakSultan (Ruma Sangaji)Pemimpin absolut
    EksekutifTureli Nggampo (Perdana Menteri)Penasihat utama
    MiliterJeneliPanglima
    AdatGelarangKepala distrik
    LokalNcuhiKepala kampung

    Peninggalan

    Peninggalan utama berupa bangunan dan benda pusaka.

    PeninggalanDeskripsi
    Asi MbojoIstana/museum
    Masjid Sultan SalahuddinMasjid bersejarah
    Mahkota EmasPusaka kerajaan
    RimpuPakaian adat
    Uma LenggeRumah adat
    Website Resmi Dinas Pariwisata

    pariwisata.bimakota.go.id

    Website Resmi Dinas Pariwisata

    Tradisi

    TradisiDeskripsi
    RimpuKerudung perempuan
    Mpa’a SamiTarian sambutan
    HuwuUpacara panen
    Gandrung BimaMusik tradisional

    Kesimpulan

    Kesultanan Bima merupakan warisan penting peradaban Islam di Indonesia timur, menunjukkan akulturasi sukses antara syariat dan adat. Meski runtuh secara politik, budaya Mbojo tetap hidup hingga kini.

    Kejayaannya sebagai pusat maritim membuktikan kemampuan masyarakat lokal mengelola sumber daya laut dan darat.

    Hingga hari ini, nilai-nilai dari Bo Sangaji Kai dan peninggalan seperti Asi Mbojo menjadi sumber inspirasi identitas daerah NTB.

    Daftar Pustaka

    1. Chambert-Loir, Henri (Ed.). (2004). Kerajaan Bima dalam sastra dan sejarah. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).
    2. Chambert-Loir, Henri, & Salahuddin, Siti Maryam R. (Eds.). (2012). Bo’ Sangaji Kai: Catatan Kerajaan Bima (Edisi kedua). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia / École française d’Extrême-Orient.
    3. Chambert-Loir, Henri, Abdullah, Massir Q., Fathurahman, Oman, & Salahuddin, Siti Maryam R. (2025). Iman dan diplomasi: Serpihan sejarah Kerajaan Bima. Jakarta: Penerbit terkait (berdasarkan edisi terbaru).
    4. Haris, Tawalinuddin. (2006). Kesultanan Bima di Pulau Sumbawa. Wacana: Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya, 8(1).
    5. Noorduyn, J. (1987). Makasar and the islamization of Bima. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 143(2-3), 312-347.
    6. Noorduyn, J. (1991). Bima en Sumbawa: Bijdragen tot de geschiedenis van de sultanaten Bima en Sumbawa. Dordrecht: Foris Publications. Repository UIN Mataram. (2021). Kesultanan Bima (cetakan ke-3). Mataram: UIN Mataram Press. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). (n.d.). Inventaris Arsip Kerajaan Bima 1902–1958. Jakarta: ANRI.
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Rifa Sani

    Related Posts

    Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka

    March 22, 2026

    Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura

    March 22, 2026

    Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan

    March 7, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Recent Posts
    • Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka
    • Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura
    • Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan
    • Komik : Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar: Peninggalan Sejarah dan Filosofi Hidup Masyarakatnya)
    • Komik : Kesultanan Banten (Banten Glory and Betrayal)
    • Komik : Kesultanan Aceh Darussalam (The Evolution of Acehnese Governance and Maritime Influence)
    • Komik : Mataram Islam: Dari Alas Mentaok hingga Perjanjian Giyanti
    Sosial Media
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube
    • Soundcloud
    • TikTok
    • WhatsApp
    Latest Posts

    Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka

    March 22, 202616 Views

    Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura

    March 22, 20268 Views

    Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan

    March 7, 202618 Views

    Komik : Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar: Peninggalan Sejarah dan Filosofi Hidup Masyarakatnya)

    March 4, 202610 Views
    Don't Miss
    Artikel

    Masuknya Islam Di Nusantara

    By Rifa SaniFebruary 8, 202685

    PENGANTAR Proses masuknya Islam ke Nusantara tidak terjadi melalui penaklukan militer, melainkan melalui jalur perdagangan…

    Peristiwa Rengasdengklok: Kronologi Penculikan Dramatis yang Mempercepat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

    February 13, 2026

    Peristiwa Rapat Besar di Lapangan Ikada: Kronologi yang Menggelorakan Semangat Revolusi Indonesia

    February 13, 2026
    Demo
    Archives
    About Us
    About Us

    We're accepting new partnerships right now.

    Recent
    • Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka
    • Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura
    • Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan
    • Komik : Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar: Peninggalan Sejarah dan Filosofi Hidup Masyarakatnya)
    • Komik : Kesultanan Banten (Banten Glory and Betrayal)
    • Komik : Kesultanan Aceh Darussalam (The Evolution of Acehnese Governance and Maritime Influence)
    Most Popular

    Masuknya Islam Di Nusantara

    February 8, 2026565 Views

    Peristiwa Rengasdengklok: Kronologi Penculikan Dramatis yang Mempercepat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

    February 13, 2026394 Views

    Peristiwa Rapat Besar di Lapangan Ikada: Kronologi yang Menggelorakan Semangat Revolusi Indonesia

    February 13, 2026238 Views
    Facebook Instagram YouTube WhatsApp TikTok RSS
    © 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Powered by
    ►
    Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
    None
    ►
    Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
    None
    ►
    Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
    None
    ►
    Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
    None
    ►
    Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
    None
    Powered by