Fajar yang Redup di Tanah Medang
Pada tahun 1017 Masehi, langit Jawa seolah runtuh dalam peristiwa berdarah yang dikenal sebagai Pralaya. Di tengah riuhnya pesta pernikahan yang seharusnya menyatukan dua garis keturunan agung, istana Raja Dharmawangsa Teguh mendadak berubah menjadi lautan api dan darah akibat serangan mendadak Haji Wurawari. Di tengah kekacauan itu, seorang pangeran muda keturunan Bali bernama Airlangga terpaksa melarikan diri dari maut, meninggalkan kemegahan takhta yang hancur dalam sekejap.
Didampingi abdi setianya, Narottama, Airlangga menjalani laku tapa di hutan belantara, menukar jubah kebesarannya dengan kehidupan seorang pertapa demi menempa jiwa dan menggalang kekuatan politik. Ia mengklaim dirinya sebagai inkarnasi Dewa Wisnu, sang “Pelindung Dunia”, yang turun ke bumi untuk memulihkan ketertiban setelah kehancuran besar terjadi.
Perjalanan Airlangga bukan hanya tentang bertahan hidup, melainkan tentang merebut kembali kepingan kekuasaan yang terserak. Kisah ini mengikuti jejak sang raja yang penuh intrik, termasuk saat-saat genting ketika ia harus mundur dan mencari perlindungan di Desa Patakan. Di sana, di bawah perlindungan tokoh suci Sang Hyang Patahunan dan loyalitas penduduk desa yang dipimpin oleh Buyut Banil, Airlangga menyusun strategi untuk menaklukkan musuh-musuhnya dan mengukuhkan legitimasinya melalui prasasti-prasasti suci.
Inilah awal dari kebangkitan kembali sebuah peradaban, di mana setiap anugerah sima dan pahatan prasasti menjadi bukti kesetiaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang raja untuk menyatukan kembali tanah Jawa.
Subscribe to Updates
Get the latest creative news from SmartMag about art & design.
