Pernahkah kalian membayangkan sebuah dunia di mana sejarah, mitos, dan drama politik bercampur aduk layaknya serial kolosal di Netflix? Selamat datang di Hikayat Raja-Raja Pasai. Sebagai karya sastra Melayu klasik tertua yang berbentuk kronik, teks ini bukan sekadar buku sejarah berdebu yang membosankan. Ini adalah pintu gerbang menuju abad ke-13, saat Samudera Pasai muncul sebagai mercusuar Islam pertama di Nusantara. Di sini, kalian akan bertemu dengan Merah Silu yang bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW hingga akhirnya berganti nama menjadi Sultan Malik as-Saleh. Membaca hikayat ini ibarat melihat fondasi identitas kita sebagai bangsa maritim yang tangguh, lengkap dengan segala keajaiban dan kearifan lokal yang mungkin terasa asing namun sangat keren untuk digali.

Namun, bersiaplah karena perjalanan ini tidak selalu mulus dan penuh “pelangi.” Di balik kemegahan istananya, Hikayat Raja-Raja Pasai juga menyimpan sisi gelap berupa konflik keluarga, ambisi kekuasaan yang berdarah, hingga tragedi yang memilukan. Kalian akan melihat bagaimana sebuah kerajaan besar jatuh bangun menghadapi tantangan dari dalam maupun serangan dari kerajaan luar seperti Majapahit. Gaya bahasanya yang puitis dan penuh kiasan menuntut kita untuk sedikit lebih jeli melihat simbol-simbol di balik setiap peristiwa. Jadi, siapkan imajinasi kalian untuk masuk ke era pedang dan pelayaran, karena lewat kisah ini kita belajar bahwa sejarah bukan cuma soal angka tahun, tapi soal bagaimana nilai-nilai keberanian dan keadilan dipertaruhkan demi sebuah kejayaan.
