Semarang, Oktober 1945. Di bawah bayang-bayang kegelisahan pasca-proklamasi, kota pelabuhan ini bagaikan tungku yang siap meledak. Aroma laut yang terbawa angin dari Pantai Baruna beradu dengan ketegangan di setiap barikade jalanan, di mana para pemuda dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) bersiaga menghadapi pasukan Jepang yang masih bercokol di markas Kidobutai Jatingaleh. Di lorong-lorong sempit, kaum gelandangan yang hafal setiap sudut kota bergerak sebagai informan senyap, mengawasi gerak-gerik musuh yang menolak menyerahkan senjata mereka.
Krisis mencapai puncaknya ketika kabar mengenai peracunan Reservoir Siranda, satu-satunya sumber air minum kota, menyebar dan membakar amarah rakyat. Di tengah situasi yang berada di ujung tanduk ini, dr. Kariadi melangkah keluar dari kenyamanan rumah sakit untuk memeriksa kebenaran isu tersebut—sebuah tindakan heroik yang akan menjadi sumbu bagi meletusnya Pertempuran Lima Hari di Semarang. Dari sinilah, sejarah akan mencatat ribuan nyawa yang gugur demi satu kata: Merdeka, yang kelak akan abadi dalam pancaran monumen Tugu Muda.
Subscribe to Updates
Get the latest creative news from SmartMag about art & design.
