Selama puluhan tahun, buku-buku pelajaran sejarah menetapkan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur dan Kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat sebagai pembuka gerbang sejarah Indonesia pada abad ke-4 dan ke-5 Masehi. Namun, muncul sebuah klaim kuat mengenai keberadaan Kerajaan Salakanagara di Jawa Barat yang disebutkan telah berdiri sejak tahun 130 Masehi, atau sekitar 200 tahun lebih awal dari Kutai.
Dalam materi ini, Anda akan mengeksplorasi beberapa poin krusial:
- Awal Mula Klaim: Bagaimana Naskah Wangsakerta menjadi satu-satunya sumber utama yang memunculkan nama Salakanagara dan pendirinya, Dewawarman I.
- Debat Autentisitas: Mengapa para ahli sejarah dan arkeolog terkemuka, seperti Prof. Boechari dan Prof. Nina Herlina Lubis, meragukan keabsahan naskah tersebut dan cenderung menganggapnya sebagai karya modern yang “dikuno-kunokan”.
- Bukti vs Hipotesis: Perbandingan antara bukti primer berupa prasasti (seperti Yupa dan Prasasti Ciaruteun) dengan sumber sekunder serta “cocoklogi” berita asing dari Yunani maupun Tiongkok.
- Perspektif Budaya: Bagaimana masyarakat lokal, khususnya di Banten, tetap melestarikan kisah Salakanagara sebagai bagian dari identitas dan leluhur suku Sunda meskipun validitas ilmiahnya masih menjadi perdebatan.
Materi ini mengajak Anda untuk tidak sekadar membaca urutan peristiwa, tetapi juga menjadi “detektif sejarah” yang kritis dalam membedakan antara fakta arkeologis, hipotesis sejarah, dan mitologi. Selamat membaca dan memperkaya cakrawala pemikiran Anda mengenai masa lalu tanah air.
