Kesultanan Banten merupakan salah satu kerajaan Islam terbesar dan terpenting dalam sejarah Nusantara yang pernah berjaya antara abad ke-16 hingga ke-19. Berawal sebagai daerah kekuasaan di bawah Kerajaan Sunda, wilayah ini bertransformasi menjadi pusat kekuatan maritim yang dominan setelah kedatangan Syarif Hidayatullah dan putranya, Maulana Hasanuddin, yang kemudian didapuk sebagai sultan pertama pada tahun 1552. Strategisnya letak geografis Banten di ujung barat Pulau Jawa menjadikannya sebagai pintu gerbang utama jalur rempah internasional, khususnya sebagai pemasok utama komoditas lada yang sangat diminati oleh pedagang dari berbagai belahan dunia seperti Arab, India, Cina, Inggris, hingga Belanda.
Puncak kejayaan kesultanan ini terjadi pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1683), di mana Banten tidak hanya unggul dalam bidang militer dan diplomasi internasional, tetapi juga berkembang menjadi pusat pendidikan agama Islam yang maju. Namun, kemasyhuran tersebut mulai goyah ketika VOC mulai menanamkan pengaruhnya melalui politik monopoli perdagangan yang sangat ditentang oleh Sultan Ageng. Konflik eksternal dengan pihak Belanda kemudian diperparah oleh perpecahan internal yang tragis antara Sultan Ageng dengan putranya, Sultan Haji, yang melakukan kudeta dengan bantuan dukungan militer VOC.
Meskipun kekuatan politik Kesultanan Banten akhirnya runtuh secara resmi pada tahun 1813 setelah aneksasi pemerintah kolonial, warisan sejarahnya tetap abadi hingga saat ini. Jejak kejayaan masa lalu tersebut masih dapat disaksikan melalui berbagai bangunan bersejarah yang memiliki nilai akulturasi budaya yang tinggi, seperti Masjid Agung Banten, reruntuhan Keraton Surosowan, dan Keraton Kaibon, serta kemasyhuran nama Pelabuhan Karangantu yang tetap tercatat dalam kronik sejarah dunia. Pengantar ini menyajikan gambaran mengenai dinamika kepemimpinan, kejayaan niaga, hingga perjuangan melawan kolonialisme yang membentuk identitas masyarakat Banten.
