Diskursus mengenai titik nol peradaban Islam di Nusantara telah menjadi subjek perdebatan akademik yang panjang di kalangan sejarawan, arkeolog, dan filolog. Kesultanan Peureulak, yang terletak di pesisir timur Sumatra—sekarang Kabupaten Aceh Timur—muncul sebagai entitas politik paling krusial yang menandai transisi dari komunitas Muslim awal menjadi struktur kenegaraan formal berbasis syariat. Keberadaan kesultanan ini bukan sekadar catatan kaki dalam sejarah regional, melainkan merupakan fondasi utama yang memungkinkan Islamisasi secara sistematis di seluruh Asia Tenggara. Analisis ini akan membedah secara exhaustive setiap dimensi Kesultanan Peureulak, mulai dari genesis etimologis, struktur politik dwidinasti, mekanisme ekonomi maritim, hingga warisan budaya yang masih terdeposisi dalam tradisi masyarakat Aceh kontemporer.

Genesis Geografis, Etimologi, dan Signifikansi Lokasi
Kesultanan Peureulak menempati posisi geografis yang sangat strategis pada koordinat 04∘48′N dan 97∘45′E, yang pada masa abad pertengahan merupakan urat nadi perdagangan global di Selat Malaka. Lokasinya yang berada di jalur transito antara peradaban India di barat dan Tiongkok di timur menjadikan Peureulak sebagai pelabuhan utama bagi kapal-kapal dagang yang bergantung pada hembusan angin musim timur laut dan barat daya. Ketahanan kapal-kapal ini di perairan Selat Malaka antara bulan Desember hingga Mei menciptakan periode interaksi sosial-ekonomi yang intens antara penduduk lokal dengan para pelaut asing.
Secara etimologis, nama “Peureulak” berakar dari realitas botani wilayah tersebut. Daerah ini pada masa lampau merupakan hutan lebat yang didominasi oleh pohon perlak (dalam bahasa lokal disebut Bak Peureulak), sebuah jenis kayu keras berkualitas tinggi yang sangat ideal untuk konstruksi kapal. Kualitas kayu ini menarik minat para pembuat kapal dari Jazirah Arab dan Persia, yang kemudian mempopulerkan nama “Negeri Perlak” di jaringan perdagangan internasional. Selain aspek botani, terdapat perspektif sosiolinguistik yang mengaitkan Peureulak dengan istilah Fardhu Ulak, sebuah sumpah kolektif penduduk pada abad ke-11 untuk kembali (pulang) ke pesisir demi melanjutkan misi dakwah. Transformasi fonetik dari Fardhu menjadi Peureule atau Peureulak mencerminkan dialek suku Gayo dan masyarakat lokal yang tidak mengenal fonem ‘F’, sehingga mengasimilasi istilah asing ke dalam struktur bahasa lokal.
Identitas Peureulak juga terdokumentasi dalam berbagai bahasa asing, yang menunjukkan luasnya jangkauan pengaruh wilayah ini. Perbandingan penamaan tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut:
| Bangsa | Penamaan Wilayah | Makna / Konteks |
| Persia | Taj Ilam (Tajul Alam) | Mahkota Alam |
| India | Furlak / Lakpur (Lakapur) | Singkatan dari Laka |
| Tiongkok | Tazi / Pihliha / Palala | Negeri orang-orang Islam |
| Venesia (Eropa) | Ferlec | Catatan Marco Polo 1292 M |
| Arab/Persia | Bandar Khalifah | Nama ibu kota kesultanan |
Strategisnya lokasi ini tidak hanya membawa kemakmuran ekonomi, tetapi juga menjadikannya laboratorium asimilasi budaya. Keberadaan Peureulak di jalur transito memastikan bahwa penduduk pesisir mendapatkan sentuhan peradaban Hindu dan Buddha sebelum kedatangan Islam, sementara wilayah pedalaman masih mempertahankan praktik animisme. Dinamika ini memberikan tantangan unik bagi para pendakwah awal untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam tanpa sepenuhnya menghancurkan struktur sosial yang ada.
Linimasa Kesultanan Peureulak
Timeline
title Kronologi Kesultanan Peureulak
800 M : Kedatangan 100 Dai “Nakhoda Khalifah” dari Teluk Kambay (Misi Abbasiyah) [3, 4, 9]
840 M : Proklamasi Kesultanan; Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah naik takhta [5, 10, 7]
865 M : Pendirian Zawiyah Buket Cibrek (Lembaga Pendidikan Islam Tertua di Asia Tenggara) [5, 7]
899 M : Peresmian Zawiyah Cot Kala; Menjadi pusat kaderisasi dai untuk Nusantara [5, 7]
918 M : Pergolakan politik; Transisi kepemimpinan ke Dinasti Makhdum (Sunni) [2, 11]
988 M : Serangan Kedatuan Sriwijaya; Sultan Mahmud Syah wafat; Perlawanan dipimpin Sultan Malik Ibrahim
1006 M : Penyatuan kembali wilayah pasca-perang Sriwijaya di bawah kepemimpinan Sunni
1230 M : Masa Kejayaan di bawah Sultan Malik Muhammad Amin II; Kemajuan pendidikan & dakwah pesat
1292 M : Wafatnya sultan terakhir; Integrasi damai ke dalam Kesultanan Samudera Pasai
Awal Berdiri: Misi Dakwah Nakhoda Khalifah dan Proklamasi 840 M
Berdirinya Kesultanan Peureulak merupakan hasil dari misi diplomatik dan religius yang terorganisir, bukan sekadar kebetulan perdagangan. Pemicu utamanya adalah kedatangan armada dakwah yang dikenal sebagai “Nakhoda Khalifah” pada tahun 173 H (800 M). Armada ini terdiri dari sekitar 100 orang dai yang merepresentasikan keragaman dunia Islam saat itu, mencakup etnis Arab (suku Quraisy), Palestina, Persia, dan India. Beberapa sumber kuat menunjukkan bahwa misi ini dipersiapkan secara resmi di zaman Khalifah Harun al-Rashid dari Daulah Abbasiyah, yang mengirimkan kapal dari Jeddah di bawah pimpinan Syekh Ismail dan Fakir Muhammad.
Salah satu tokoh sentral dalam rombongan ini adalah Sayid Ali Al-Muktabar bin Muhammad Diba’i bin Imam Ja’far Al-Shadiq, seorang keturunan ahlul bait yang membawa pengaruh besar di kalangan elit lokal. Kedatangan rombongan ini disambut baik oleh Maharaja Syahir Nuwi, penguasa Peureulak saat itu yang memiliki latar belakang Parsi-Siam. Proses islamisasi terjadi melalui metode yang sangat persuasif, terutama melalui pernikahan politik. Sayid Ali Al-Muktabar menikahi adik Maharaja Syahir Nuwi yang bernama Putri Tansyir Dewi. Dari pernikahan inilah lahir Sayid Abdul Aziz, yang di kemudian hari menjadi sultan pertama Peureulak.
Pada hari Selasa, 1 Muharram 225 H (840 M), Kesultanan Peureulak secara resmi diproklamirkan sebagai kerajaan Islam berdaulat. Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah ditabalkan sebagai raja pertama, menandai berakhirnya era kekuasaan pra-Islam dan dimulainya pemerintahan berbasis hukum Muhammad. Sebagai simbol penghormatan terhadap peran rombongan dakwah tersebut, nama pusat pemerintahan diubah dari Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah. Transformasi ini memiliki implikasi politik yang mendalam, karena memposisikan Peureulak bukan hanya sebagai pelabuhan niaga, tetapi juga sebagai protektorat atau setidaknya mitra strategis dari kekhalifahan di Timur Tengah.
Kronik Kepemimpinan: Dinamika Dwi-Dinasti dan Daftar Sultan
Struktur kepemimpinan Kesultanan Peureulak unik karena didominasi oleh dua kekuatan dinasti yang mewakili perbedaan aliran pemikiran dalam Islam: Dinasti Aziziyah (Sayid) yang cenderung beraliran Syiah pada awalnya, dan Dinasti Makhdum (Johan Berdaulat) yang beraliran Sunni. Persaingan dan kolaborasi antara kedua dinasti ini membentuk lanskap politik Peureulak selama empat abad masa eksistensinya.
Fase Pertama: Dominasi Dinasti Aziziyah (840 M – 918 M)
Fase awal kesultanan berada di bawah kendali keturunan Sayid Abdul Aziz. Pada periode ini, sistem pemerintahan mulai disusun rapi mengikuti organisasi Daulah Abbasiyah. Namun, seiring waktu, muncul ketegangan ideologis antara pengikut Syiah dan penganut paham Sunni yang mulai masuk melalui jalur perdagangan baru.
Fase Kedua: Transisi dan Dinasti Makhdum (918 M – 1292 M)
Setelah periode kekosongan kekuasaan dan pergolakan internal pasca wafatnya Sultan ke-4, Sultan Alaiddin Sayid Maulana Ali Mughayat Syah, tampuk kepemimpinan beralih kepada Dinasti Makhdum yang merupakan keturunan bangsawan lokal asli (Meurah Perlak). Dinasti ini menggunakan gelar “Johan Berdaulat”, yang menegaskan kembalinya kepemimpinan ke tangan putra daerah namun tetap dalam bingkai Islam.
| No | Sultan Peureulak | Periode (Masehi) | Dinasti / Aliran |
| 1 | Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah | 840 – 864 | Aziziyah / Syiah |
| 2 | Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Rahim Syah | 864 – 888 | Aziziyah / Syiah |
| 3 | Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abbas Syah | 888 – 913 | Aziziyah / Syiah |
| 4 | Sultan Alaiddin Sayid Maulana Ali Mughayat Syah | 915 – 918 | Aziziyah / Syiah |
| 5 | Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Johan Berdaulat | 928 – 932 | Makhdum / Sunni |
| 6 | Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Johan Berdaulat | 932 – 956 | Makhdum / Sunni |
| 7 | Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Johan Berdaulat | 956 – 983 | Makhdum / Sunni |
| 8 | Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Johan Berdaulat | 986 – 1023 | Makhdum / Sunni |
| 9 | Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Johan Berdaulat | 1023 – 1059 | Makhdum / Sunni |
| 10 | Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mansur Johan Berdaulat | 1059 – 1078 | Makhdum / Sunni |
| 11 | Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Johan Berdaulat | 1078 – 1109 | Makhdum / Sunni |
| 12 | Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Johan Berdaulat | 1109 – 1135 | Makhdum / Sunni |
| 13 | Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Johan Berdaulat | 1135 – 1160 | Makhdum / Sunni |
| 14 | Sultan Makhdum Alaiddin Malik Usman Johan Berdaulat | 1160 – 1173 | Makhdum / Sunni |
| 15 | Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Johan Berdaulat | 1173 – 1200 | Makhdum / Sunni |
| 16 | Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Jalil Johan Berdaulat | 1200 – 1230 | Makhdum / Sunni |
| 17 | Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin II Johan Berdaulat | 1230 – 1267 | Makhdum / Sunni |
| 18 | Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat | 1267 – 1292 | Makhdum / Sunni |
Penting untuk dicatat bahwa pembagian aliran ini sempat memicu perang saudara yang melemahkan kerajaan. Puncak ketegangan terjadi pada masa Sultan ke-7, yang mengakibatkan pembagian wilayah melalui Perjanjian Alue Meuh. Perlak Baroh (Pesisir) dikuasai kelompok Syiah, sementara Perlak Tunong (Pedalaman) dikuasai kelompok Sunni. Penyatuan kembali baru terjadi setelah ancaman eksternal dari Sriwijaya memaksa kedua faksi untuk bersatu demi eksistensi bersama.
Bukti-Bukti Sumber Sejarah: Kritik Literatur dan Arkeologi
Penelitian mengenai Peureulak didasarkan pada dua pilar bukti utama: sumber internal berupa manuskrip Melayu klasik dan sumber eksternal berupa catatan musafir dunia. Kedua pilar ini saling melengkapi, meskipun terdapat diskursus mengenai keotentikan dokumen tertentu.
Sumber Dalam Negeri dan Naskah Klasik
Bukti literatur paling fundamental adalah kitab Idharul Haq Fi Mamlakatil Peureulak (atau Risalah Idharul Haq fi Mamlakati Ferla wa al-Fasi) yang disusun oleh Abu Ishaq Al-Makarani Sulaiman Al-Pasy. Kitab ini secara rinci menguraikan silsilah raja-raja, tanggal penabalan, hingga peristiwa-peristiwa penting dalam kesultanan. Namun, sebagian sejarawan modern tetap kritis karena naskah asli dalam bentuk yang utuh masih sulit ditemukan, yang memicu Bupati Aceh Timur bahkan membuat sayembara khusus untuk menemukannya.
Selain Idharul Haq, terdapat naskah lain seperti Tadzkirah Thabat Jumu Sulthan As-Salathin karya Syaikh Syamsul Bahri Abdullah al-Asyi dan Hikayat Silsilah Raja-raja Perlak dan Pasai oleh Sayyid Abdullah. Hikayat Aceh dan Hikayat Raja-raja Pasai juga memberikan data korelatif mengenai keberadaan Peureulak sebagai entitas yang mendahului Samudera Pasai, dibuktikan dengan pernikahan Sultan Malikussaleh dengan Putri Ganggang Sari, putri dari Sultan Peureulak.
Sumber Luar Negeri dan Ekskavasi Arkeologis
Data dari luar negeri memberikan validasi objektif terhadap klaim literatur lokal. Marco Polo, yang singgah pada tahun 1291-1292 M, secara eksplisit menyebutkan kerajaan Ferlec. Ia mengamati bahwa penduduk perkotaan telah memeluk Islam, sementara penduduk gunung masih hidup dalam “kebiadaban”. Dari Tiongkok, buku Zhufan Zhi (1225 M) karya Zhao Rugua mencatat adanya negeri Muslim di utara Sumatra yang menjadi pusat perdagangan.
Bukti arkeologis yang tak terbantahkan ditemukan dalam bentuk mata uang. Peureulak merupakan kerajaan pertama di Nusantara yang mencetak mata uang sendiri, yang terdiri dari tiga jenis: Dirham (emas), Kupang (perak), dan Keuh (tembaga/kuningan). Penemuan stempel kerajaan bertuliskan huruf Arab “Al-Wasiq Billah Kerajaan Negeri Bendahara Sanah 512” (1118 M) semakin memperkuat struktur birokrasi yang sudah mapan. Keberadaan Makam Raja Benoa di tepi Sungai Trenggulon dan nisan Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah menjadi monumen fisik yang menegaskan silsilah kepemimpinan kesultanan.
Kehidupan Politik dan Struktur Pemerintahan
Kesultanan Peureulak mengadopsi sistem monarki absolut yang terinspirasi dari gaya kepemimpinan Daulah Abbasiyah di Baghdad. Sultan bukan hanya penguasa politik, tetapi juga pelindung agama (Zhillullah fil Alam). Struktur pemerintahan disusun untuk mendukung efisiensi birokrasi dan penegakan hukum syariat.
Sistem Wazirate dan Lembaga Penasihat
Untuk menjalankan roda pemerintahan, Sultan dibantu oleh jajaran menteri (Wazir) yang memiliki otoritas spesifik. Pembagian kekuasaan ini menunjukkan adanya diferensiasi fungsional yang sangat maju:
| Jabatan | Bidang Otoritas | Tanggung Jawab Utama |
| Wazir Al-Hukkam | Kehakiman | Penegakan hukum syariat dan administrasi peradilan. |
| Wazir Al-Iqtishad | Keuangan | Pengaturan pajak, bea cukai pelabuhan, dan perbendaharaan negara. |
| Wazir Al-Harb | Pertahanan | Komando angkatan perang dan keamanan wilayah kesultanan. |
| Wazir Al-Maktabah | Administrasi | Korespondensi diplomatik, pengarsipan, dan sekretariat negara. |
| Wazir As-Suyasah | Politik | Kebijakan luar negeri dan diplomasi antar-kerajaan. |
Selain para Wazir, terdapat Majelis Fatwa yang dipimpin oleh seorang Mufti. Lembaga ini berfungsi sebagai kontrol religius terhadap kebijakan Sultan, memastikan bahwa setiap regulasi atau qanun yang dikeluarkan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Keberadaan ulama sebagai penasihat resmi (sering diberi gelar Sunan atau Susuhunan) menyeimbangkan otoritas sekuler Sultan dengan otoritas moral keagamaan.
Diplomasi dan Geopolitik
Kebijakan luar negeri Peureulak sangat pragmatis namun tetap berlandaskan identitas Islam. Sebagai pelabuhan utama, Peureulak menjalin hubungan diplomatik dengan berbagai kekuatan besar, termasuk kekhalifahan di Timur Tengah dan dinasti-dinasti di Tiongkok. Hubungan dengan kerajaan tetangga di Nusantara ditandai dengan upaya perluasan pengaruh melalui perkawinan politik, seperti yang dilakukan terhadap penguasa Samudera Pasai. Namun, tantangan geopolitik terbesar datang dari Kedatuan Sriwijaya di selatan. Persaingan memperebutkan kendali atas Selat Malaka memicu konflik berkepanjangan yang mencapai puncaknya pada serangan Sriwijaya tahun 988 M. Kemampuan Peureulak untuk pulih dari serangan tersebut menunjukkan ketangguhan sistem politik dan dukungan luas dari rakyat pedalaman (kaum Sunni) terhadap keberlangsungan kesultanan.
Kehidupan Ekonomi: Pusat Perdagangan dan Moneterialisme Awal
Kemakmuran Peureulak didorong oleh dua faktor utama: penguasaan atas komoditas strategis dan inovasi dalam sistem transaksi. Peureulak bertransformasi dari sekadar penghasil kayu menjadi emporium perdagangan lada pertama di Asia Tenggara.
Komoditas Strategis dan Basis Industri
Wilayah Peureulak dianugerahi kekayaan alam yang menjadi incaran pasar global:
- Industri Perkapalan: Berdasarkan keberlimpahan kayu perlak, Peureulak menjadi pusat pembuatan kapal yang melayani kebutuhan pelaut Arab dan Persia. Kayu ini dikenal tahan lama dan sangat kuat, memberikan keunggulan kompetitif bagi armada laut Peureulak.
- Lada dan Pertanian: Lada yang dibawa dari Madagaskar oleh pedagang Arab berhasil dibudidayakan secara masif di Peureulak. Tanah yang subur dan iklim yang cocok menjadikan Peureulak pengekspor lada terbesar pada abad ke-9 hingga ke-13. Komoditas lain mencakup kapur barus, rotan, madu, dan gading gajah.
- Pertambangan Emas: Kawasan Alue Meuh (Sungai Emas) menjadi sumber kekayaan moneter yang memungkinkan kesultanan mencetak mata uang emas sendiri.
Sistem Moneter dan Perdagangan Internasional
Peureulak memelopori penggunaan mata uang logam sebagai alat tukar sah, yang merupakan indikator kemajuan peradaban maritim. Penggunaan mata uang ini meminimalkan ketergantungan pada sistem barter dan mempercepat sirkulasi modal.
| Jenis Mata Uang | Nama Lokal | Kandungan Logam | Karakteristik Inskripsi |
| Dirham | Deureuham | Emas (18 Karat) | Bertuliskan nama Sultan atau “Al-Adil”. |
| Kupang | Kupang | Perak | Digunakan untuk transaksi skala menengah. |
| Keuh / Kepeng | Kepeng | Tembaga / Kuningan | Digunakan oleh rakyat jelata di pasar lokal. |
Sistem moneter ini juga mengatur nilai tukar terhadap mata uang asing. Sebagai contoh, di masa kemudian (yang akarnya berasal dari tradisi ini), mata uang Spanyol atau ringgit dihargai dalam satuan dirham lokal. Inovasi ini menjadikan Bandar Khalifah sebagai pelabuhan transito paling aman dan teratur bagi para pedagang asing.
Kehidupan Sosial, Budaya, dan Institusi Pendidikan Islam
Transformasi sosial dari masyarakat pra-Islam menuju masyarakat Muslim di Peureulak berlangsung secara organik melalui asimilasi, bukan pemaksaan militer. Pernikahan campur antara saudagar pendatang dengan perempuan setempat menciptakan lapisan masyarakat kosmopolitan yang baru.
Revolusi Pendidikan: Tradisi Zawiyah
Kejayaan Peureulak yang paling monumental adalah perannya sebagai pusat pendidikan Islam pertama di Nusantara. Di bawah perlindungan para Sultan, didirikan lembaga-lembaga pendidikan formal yang menjadi cikal bakal sistem pesantren:
- Zawiyah Buket Cibrek: Diresmikan pada tahun 865 M (masa Sultan ke-2), institusi ini dianggap sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Asia Tenggara.
- Zawiyah Cot Kala: Didirikan pada tahun 899 M (masa Sultan ke-3), institusi ini tumbuh menjadi pusat studi Islam legendaris. Para ulamanya tidak hanya berasal dari Peureulak tetapi juga dari negeri-negeri jauh. Lulusan dari Zawiyah Cot Kala inilah yang nantinya menyebarkan dakwah ke seluruh Sumatra, Jawa, dan Semenanjung Malaya.
Kurikulum yang diajarkan meliputi Al-Qur’an, Hadis, Fikih, dan Tasawuf (Tastafi: Tasawuf, Tauhid, dan Fiqih). Metode pengajaran yang mengedepankan kearifan lokal (Maslahah Mursalah) memungkinkan Islam diterima tanpa gesekan berarti dengan tradisi lama.
Dinamika Budaya dan Linguistik
Pengaruh budaya asing, terutama dari Persia dan Arab, terserap dalam kehidupan sehari-hari. Dalam aspek busana, penggunaan serban dan pakaian tertutup menjadi standar akhlakul karimah. Dalam aspek bahasa, ribuan kosakata serapan masuk ke dalam bahasa Melayu dan Aceh:
- Istilah Politik: Istana, Syah (Shah), Sultan, Bandar, Wazir.
- Istilah Ekonomi: Pasar, Saudagar, Toko, Dacing.
- Istilah Sosial: Kawin, Baju, Kaca, Kunci.
Kesenian rakyat pun berkembang, dengan ukiran pada gading gajah dan kayu yang sangat halus, yang sering kali dijadikan cendramata bagi para utusan asing. Tradisi tulis-menulis berkembang pesat seiring dengan kebutuhan administrasi dan penyalinan naskah-naskah keagamaan di Zawiyah.
Hukum, Militer, dan Keamanan
Sebagai negara Islam, hukum syariat menjadi panglima dalam mengatur kehidupan warga negara. Namun, implementasinya sangat memperhatikan konteks lokal, menciptakan sintesis antara hukum Tuhan dan adat setempat.
Penegakan Syariat dan Adat
Sistem hukum di Peureulak membagi kewenangan secara tegas antara eksekutif dan yudikatif. Wazir Al-Hukkam memimpin lembaga peradilan yang independen dari campur tangan Sultan dalam hal-hal teknis hukum. Prinsip keadilan (Al-Adil) sangat dijunjung tinggi, yang tercermin bahkan dalam inskripsi mata uang mereka. Pelanggaran sosial seperti perzinaan atau perjudian dilarang keras, sementara keamanan bagi pedagang non-Muslim dijamin sepenuhnya selama mereka mematuhi aturan pelabuhan.
Struktur Militer dan Pertahanan Maritim
Keamanan Kesultanan Peureulak dijaga oleh angkatan perang yang dipimpin oleh Wazir Al-Harb. Kekuatan militer difokuskan pada dua sektor:
- Pertahanan Pesisir: Membangun benteng-benteng di sepanjang pantai untuk mengawasi Selat Malaka. Armada laut yang dilengkapi dengan kapal-kapal cepat berbahan kayu perlak bertugas menghalau perompak dan mengawal kapal dagang.
- Pasukan Darat: Terdiri dari infanteri dan kavaleri yang bertugas melindungi wilayah pedalaman dari gangguan suku-suku yang belum tunduk atau serangan kerajaan tetangga.
Ketangguhan militer Peureulak diuji dalam peperangan selama tiga tahun melawan Sriwijaya (988-991 M). Meskipun menderita kerusakan besar, kesultanan mampu mengonsolidasikan kekuatan kembali di bawah Sultan Malik Ibrahim, membuktikan bahwa identitas keislaman telah menjadi perekat nasionalisme yang kuat bagi rakyat Peureulak.
Kejayaan dan Warisan Tradisi
Masa kejayaan Peureulak dicapai pada abad ke-13, khususnya di masa Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin II (1230-1267 M). Pada periode ini, Peureulak bukan hanya makmur secara materi, tetapi telah menjadi pusat peradaban intelektual. Penemuan artefak dan tradisi yang bertahan hingga kini menjadi bukti hidup kejayaan tersebut.
Peninggalan Arkeologis dan Situs Sejarah
Beberapa peninggalan fisik yang masih dapat dikunjungi atau dipelajari antara lain:
- Situs Makam Sultan: Kompleks pemakaman para sultan di Aceh Timur, termasuk makam Sultan pertama dan Makam Raja Benoa, yang menunjukkan seni nisan Islam awal.
- Stempel dan Koin: Artefak-artefak moneter yang disimpan di berbagai museum atau koleksi pribadi sebagai bukti kemajuan ekonomi.
- Masjid Tua: Beberapa masjid di Peureulak diyakini berdiri di atas fondasi masjid masa kesultanan yang mencerminkan arsitektur transisi.
Tradisi dan Adat Istiadat Khas
Banyak tradisi masyarakat Peureulak saat ini merupakan warisan langsung dari era kesultanan:
- Kenduri Maulid: Perayaan kelahiran Nabi yang sangat kolosal, di mana seluruh gampong (desa) berkumpul di meunasah untuk makan bersama dan mendengarkan ceramah ulama. Ini adalah cerminan dari ukhuwah islamiyah yang ditanamkan sejak masa sultan.
- Peusijuek: Ritual menaburkan air dan beras sebagai simbol syukur dan berkah dalam momen-momen penting seperti pernikahan atau kelahiran.
- Hadih Maja: Pepatah atau sastra lisan yang mengandung nilai-nilai hukum dan kearifan lokal, sering kali merujuk pada ketetapan-ketetapan masa lalu (adat bak poe teumeureuhom).
- Tradisi Laut: Masyarakat pesisir masih mempertahankan ritual doa bersama sebelum melaut, yang merupakan modifikasi dari tradisi Hindu lama yang telah diislamkan.
Analisis Kemunduran dan Integrasi ke Samudera Pasai
Berakhirnya Kesultanan Peureulak tidak disebabkan oleh penaklukan militer, melainkan melalui proses transisi kepemimpinan dan integrasi politik yang damai. Beberapa faktor penyebab utama adalah:
- Ketiadaan Ahli Waris: Setelah wafatnya Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Syah pada 1292 M, tidak ada pengganti yang cukup kuat untuk mempertahankan independensi Peureulak.
- Dinamika Geopolitik Lokal: Bangkitnya Kerajaan Samudera Pasai di Aceh Utara yang dipimpin oleh Sultan Malikussaleh menawarkan stabilitas baru.
- Penyatuan Melalui Pernikahan: Integrasi kedua kerajaan ini difasilitasi oleh hubungan darah. Sultan Malikussaleh menikahi Putri Ganggang Sari (putri Sultan Peureulak), dan wilayah Peureulak kemudian digabungkan ke bawah kekuasaan putra mereka, Sultan Muhammad Malik az-Zhahir.
Penyatuan ini secara simbolis menandai estafet kepemimpinan Islam di Nusantara dari Peureulak ke Samudera Pasai. Meskipun identitas administratifnya melebur, nilai-nilai, hukum, dan institusi pendidikan Peureulak tetap menjadi fondasi utama bagi kebesaran Samudera Pasai dan nantinya Kesultanan Aceh Darussalam.
Kesimpulan: Kedudukan Peureulak dalam Historiografi Nusantara
Kesultanan Peureulak berdiri sebagai monumen pertama kekuatan politik Islam di Nusantara yang berdaulat dan terorganisir. Melalui analisis mendalam terhadap struktur politik, ekonomi, dan sosialnya, jelas bahwa Peureulak bukan sekadar komunitas pedagang Muslim, melainkan sebuah negara yang berfungsi penuh dengan birokrasi yang kompleks dan visi pendidikan yang jauh ke depan. Keberadaannya membantah tesis lama yang menyatakan bahwa Islamisasi Nusantara baru dimulai secara signifikan pada abad ke-13 melalui Samudera Pasai. Dengan data proklamasi 840 M dan eksistensi dua dinasti besar, Peureulak adalah “titik nol” yang sebenarnya bagi peradaban Islam formal di Asia Tenggara. Warisannya dalam bentuk sistem pendidikan zawiyah dan kodifikasi adat-syariat tetap menjadi identitas fundamental bagi masyarakat Aceh hingga hari ini, menegaskan bahwa akar keislaman di wilayah ini telah menghujam dalam selama lebih dari satu milenium.
Daftar Pustaka
Naskah Klasik & Sumber Primer:
- Al-Pasy, Abu Ishaq Al-Makarani Sulaiman. Idharul Haq Fi Mamlakatil Peureulak.
- Al-Asyi, Syaikh Syamsul Bahri Abdullah. Tadzkirah Thabat Jumu Sulthan As-Salathin.
- Sayyid Abdullah ibn Sayyid Habib Saifuddin. Hikayat Silsilah Raja-raja Perlak dan Pasai.
- Hikayat Aceh & Hikayat Raja-raja Pasai.
Buku & Jurnal Ilmiah:
- Abdullah, Nazaruddin. Peureulak dalam Kancah Sejarah Islam Nusantara. Banda Aceh: Searfiqh.
- Hasjmy, Ali. Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah. Jakarta: Beuna, 1983.
- Muchsin, Misri A. “Kesultanan Peureulak dan Diskursus Titik Nol Peradaban Islam Nusantara.” Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies, 2018.
- Djamil, M. Junus. Wadjah Rakjat Atjeh dalam Lintasan Sejarah. Medan: Pustaka Iskandar Muda.
- Zainuddin. Tarich Atjeh dan Nusantara. Medan: Pustaka Iskandar Muda, 1961.
Sumber Asing:
- Polo, Marco. The Travels of Marco Polo (1292 M).
- Zhao Rugua. Zhufan Zhi (1225 M).
- Kitab Negarakertagama (Prapanca).
