Kerajaan Jenggala merupakan salah satu dari dua pecahan besar Kerajaan Kahuripan yang didirikan oleh Raja Airlangga. Meski sering kali berada di bawah bayang-bayang saudara mudanya, Panjalu (Kediri), Jenggala memegang peranan krusial dalam sejarah klasik Jawa Timur, terutama sebagai pusat pelabuhan dan perdagangan maritim di muara Sungai Brantas.
Sumber Sejarah (Dalam dan Luar Negeri)
Keberadaan Jenggala terlacak melalui sumber-sumber primer yang cukup solid. Sumber dalam negeri didominasi oleh prasasti tembaga dan batu, serta karya sastra kuno. Sementara sumber luar negeri banyak berasal dari catatan kronik Tiongkok yang menyebutkan adanya pembagian kekuasaan di Jawa.
| Jenis Sumber | Nama Sumber | Keterangan |
| Prasasti | Prasasti Turun Hyang II (1044 M) | Menyebutkan pemisahan wilayah menjadi dua. |
| Prasasti | Prasasti Kambang Putih | Menyebutkan hubungan dagang di wilayah pesisir. |
| Sastra | Kakawin Desawarnana (Nagarakretagama) | Menjelaskan silsilah dan pembagian kerajaan oleh Airlangga. |
| Sastra | Serat Calon Arang | Menceritakan latar belakang religius dan politik masa Airlangga. |
| Luar Negeri | Kronik Dinasti Song | Mencatat utusan dari “Jawa” yang merujuk pada periode perpecahan ini. |
Awal Berdiri: Peristiwa Pembelahan Kerajaan
Awal berdiri Jenggala bermula dari keputusan dilematis Raja Airlangga pada tahun 1042-1045 M. Menjelang akhir masa pemerintahannya, kedua putranya berebut takhta. Untuk menghindari perang saudara yang berlarut-larut, Airlangga meminta bantuan Mpu Bharada, seorang pendeta sakti, untuk membagi wilayah Kahuripan menjadi dua. Jenggala diberikan kepada putra sulungnya, Mapanji Garasakan. Proses pembelahan ini dilakukan secara simbolis dengan mengucurkan air dari kendi di angkasa, yang kemudian membentuk garis batas alam.
Bukti-Bukti Sejarah dan Kronik
Bukti keberadaan Jenggala tidak hanya berupa narasi, tetapi juga artefak fisik dan catatan administratif yang menunjukkan bahwa kerajaan ini memiliki birokrasi yang mapan.
Tabel Bukti Sejarah & Kronik | Kategori | Bukti / Peristiwa | Detail | | :— | :— | :— | | Arkeologis | Situs Sumur Upas | Sisa peninggalan di wilayah Delta Brantas (Sidoarjo). | | Kronik | 1042 M | Pemisahan resmi Kahuripan menjadi Jenggala dan Panjalu. | | Kronik | 1052 M | Konflik awal dengan Panjalu (Prasasti Banjaran). | | Kronik | 1135 M | Penaklukan Jenggala oleh Jayabaya dari Panjalu. |
Lokasi dan Geografi
Secara geografis, Kerajaan Jenggala berpusat di wilayah Kutha Jenggala, yang diidentifikasi berada di sekitar daerah Sidoarjo dan Malang (sebelah timur Sungai Brantas). Wilayahnya mencakup Delta Brantas, Surabaya, hingga ke arah Malang. Posisi ini sangat strategis karena menguasai akses menuju pelabuhan-pelabuhan utama seperti Hujung Galuh (Surabaya modern).
Daftar Raja Jenggala
Berikut adalah silsilah raja-raja yang pernah memerintah Jenggala berdasarkan temuan prasasti:
| Era | Nama Raja | Keterangan |
| Awal (Pendirian) | Mapanji Garasakan | Putra sulung Airlangga, pendiri resmi Jenggala. |
| Transisi | Alanjung Ahyes | Memerintah sekitar tahun 1052 M, menghadapi tekanan Panjalu. |
| Stabilisasi | Samarotsaha | Menantu atau kerabat Airlangga (Prasasti Sumengka, 1059 M). |
| Akhir | Raja-raja Kecil (Vassal) | Jenggala perlahan menjadi bawahan Panjalu pasca 1135 M. |
Kehidupan Kerajaan: Analisis Mendalam
Kehidupan Politik Politik Jenggala diwarnai oleh rivalitas abadi dengan saudara mudanya, Panjalu. Sejak awal berdiri, legitimasi Jenggala sebagai “putra sulung” sering ditantang. Struktur politiknya mengikuti model Isyana yang sentralistik namun memberikan otonomi pada desa-desa (Sima). Bukti dalam Prasasti Banjaran menunjukkan bahwa Jenggala sempat kalah namun kemudian berhasil melakukan serangan balik. Dinamika politiknya sangat bergantung pada kekuatan militer di pelabuhan untuk mengamankan upeti dari pedagang asing.
Kehidupan Ekonomi Ekonomi Jenggala bertumpu pada perdagangan maritim dan pajak pelabuhan. Karena menguasai muara Sungai Brantas, Jenggala menjadi titik temu antara pedagang pedalaman Jawa yang membawa hasil bumi (beras) dengan pedagang internasional dari Tiongkok dan India yang membawa keramik serta kain. Pajak dari kapal yang bersandar di Hujung Galuh merupakan sumber pendapatan utama negara, berbeda dengan Panjalu yang lebih berbasis pada agraris pedalaman.
Kehidupan Sosial Masyarakat Jenggala memiliki struktur sosial yang inklusif namun hierarkis. Adanya aktivitas di pelabuhan membuat interaksi antara penduduk lokal dengan orang asing sangat intens. Hal ini menciptakan masyarakat yang lebih terbuka terhadap pengaruh luar dibandingkan wilayah pedalaman. Stratifikasi sosial tetap mengikuti sistem kasta Hindu, namun peran kelompok profesi seperti pengrajin emas dan pedagang (Bania) sangat dihormati karena kontribusi ekonominya.
Kehidupan Budaya Budaya Jenggala merupakan kelanjutan dari kebesaran Medang dan Kahuripan. Sastra berkembang pesat, terutama cerita-cerita tentang heroisme dan asmara yang kemudian menginspirasi Siklus Panji. Legenda Raden Panji Inu Kertapati (dari Jenggala) dan Galuh Chandra Kirana (dari Kediri) adalah refleksi budaya atas upaya penyatuan kembali dua kerajaan yang terpisah ini melalui jalur pernikahan dan seni.
Kehidupan Hukum, Militer, dan Keamanan Hukum di Jenggala diatur berdasarkan kitab Kutaramanawa yang disesuaikan dengan kondisi lokal. Secara militer, Jenggala memiliki angkatan laut yang tangguh untuk menjaga keamanan jalur sungai dan pantai dari perompak. Keamanan internal dijaga melalui sistem Jagabaya di tingkat desa, memastikan distribusi komoditas perdagangan dari pelabuhan ke pusat kota berjalan tanpa gangguan.
Hubungan Internasional Jenggala menjalin hubungan dagang aktif dengan Dinasti Song di Tiongkok. Meskipun tidak ada catatan diplomatik formal yang sebesar Majapahit nantinya, keberadaan keramik Tiongkok di situs-situs Jenggala membuktikan bahwa kerajaan ini dikenal di kancah internasional sebagai pemasok rempah-rempah dan beras berkualitas.
Struktur Pemerintahan
| Jabatan | Fungsi |
| Rakryan Mahamantri I Hino | Pejabat tertinggi di bawah Raja (biasanya putra mahkota). |
| Rakryan Kanuruhan | Urusan administrasi dan rumah tangga istana. |
| Senapati | Panglima militer yang memimpin pasukan darat dan laut. |
| Dharmadhyaksa | Pejabat urusan keagamaan dan hukum. |
Kejayaan dan Keruntuhan
Kejayaan Jenggala dicapai pada masa awal pemerintahan Mapanji Garasakan hingga Samarotsaha, di mana mereka berhasil mempertahankan dominasi atas pelabuhan-pelabuhan utama di Jawa Timur dan menjaga independensi dari tekanan Panjalu.
Konflik dan Keruntuhan: Konflik utama bersifat internal (perebutan kekuasaan antar kerabat) dan eksternal (perang saudara dengan Panjalu). Jenggala mulai melemah ketika Panjalu di bawah Raja Jayabaya tumbuh menjadi kekuatan militer raksasa. Pada tahun 1135 M, Jayabaya berhasil menaklukkan Jenggala, yang ditandai dengan semboyan “Panjalu Jayati” (Panjalu Menang). Jenggala kemudian menjadi wilayah bawahan (Vassal) dan akhirnya benar-benar lenyap secara administratif.
Peninggalan dan Tradisi
Peninggalan Jenggala banyak yang telah rusak karena material bangunannya yang didominasi batu bata merah di lahan basah (delta). Namun, warisan budayanya tetap hidup.
| Nama Peninggalan | Jenis | Lokasi/Keterangan |
| Candi Prasasti | Prasasti Turun Hyang | Bukti legalitas pembagian kerajaan. |
| Situs Sumur Upas | Struktur Bangunan | Diduga bagian dari keraton atau tempat suci. |
| Budaya Panji | Karya Sastra/Tari | Kisah romansa legendaris yang mendunia (UNESCO Heritage). |
Kesimpulan
Kerajaan Jenggala adalah manifestasi dari pentingnya kekuatan maritim dalam sejarah Nusantara. Meskipun usianya sebagai kerajaan berdaulat tidak selama Panjalu atau Majapahit, Jenggala meletakkan dasar bagi pengembangan kota pelabuhan di Jawa Timur. Warisan terbesarnya bukan terletak pada monumen batu yang megah, melainkan pada Budaya Panji yang tetap lestari hingga hari ini sebagai identitas budaya Jawa.
Daftar Pustaka:
- Poesponegoro, Marwati Djoened. (2008). Sejarah Nasional Indonesia II. Balai Pustaka.
- Coedes, George. (1968). The Indianized States of Southeast Asia.
- Muljana, Slamet. (2006). Tafsir Sejarah Nagarakretagama. LKiS.
