Close Menu
    What's Hot

    Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka

    March 22, 2026

    Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura

    March 22, 2026

    Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan

    March 7, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Facebook X (Twitter) Instagram
    Cerita Saja
    • Home
    • Profil
    • Artikel
      • Kelas
        • Kelas X
        • Kelas XI
        • Kelas XII
      • Legenda
      • Tradisi
      • Mitos
      • Misteri
      • Kota
      • Perundingan/Perjanjian
    • Tokoh
    • Sastra
      • Kitab / Kakawin
      • Suluk
      • Babad
      • Hikayat
    • Komik
    • Kuis
    • Download
      • E-Book
      • Buku Pelajaran
      • Karya Siswa
      • RPP / MODUL AJAR
      • Infografis
      • Slide Presentasi
      • Login
    SoundCloud RSS
    Cerita Saja
    Home»Artikel»Puputan Margarana: Pengorbanan Heroik Pejuang Bali yang Abadi dalam Sejarah Kemerdekaan
    Artikel

    Puputan Margarana: Pengorbanan Heroik Pejuang Bali yang Abadi dalam Sejarah Kemerdekaan

    Rifa SaniBy Rifa SaniFebruary 14, 2026No Comments7 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Puputan Margarana merupakan salah satu peristiwa paling tragis sekaligus heroik dalam perjuangan Revolusi Kemerdekaan Indonesia di Bali. Peristiwa ini terjadi pada 20 November 1946 di Desa Marga, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, tepatnya di ladang jagung Subak Uma Kaang, Banjar Kelaci. Dipimpin oleh Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai bersama Batalyon Ciung Wanara, pertempuran ini adalah bentuk puputan—pertahanan habis-habisan hingga titik darah penghabisan—melawan pasukan Belanda yang ingin mengembalikan kekuasaan kolonial melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Dalam pertempuran yang berlangsung kurang dari satu hari itu, seluruh pasukan Indonesia yang tersisa gugur, tetapi semangat mereka membakar api perlawanan di seluruh nusantara. Puputan Margarana bukan hanya pertempuran militer, melainkan simbol pengorbanan rakyat Bali yang rela mati demi mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Hingga kini, peristiwa ini diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional dan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk menjaga kedaulatan bangsa.

    Museum Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana - Bali.com

    bali.com

    Museum Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana – Bali.com

    Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana yang berdiri megah di Tabanan, Bali, sebagai saksi bisu pengorbanan para pejuang yang gugur dalam puputan heroik tersebut.

    Latar Belakang yang Memantik Api Perlawanan di Pulau Dewata

    Latar belakang Puputan Margarana bermula dari situasi pasca-Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang belum sepenuhnya aman. Meski Jepang telah menyerah pada Agustus 1945, Belanda tidak mau kehilangan “Hindia Belanda” dan segera mengirim pasukan NICA dengan dalih membantu Sekutu melucuti Jepang. Di Bali, yang saat itu masih menjadi bagian dari wilayah Republik Indonesia Sunda Kecil, kedatangan Brigade Y NICA pada Juli 1946 menjadi ancaman nyata. Perjanjian Linggarjati yang ditandatangani pada Maret 1947 (meski peristiwa ini terjadi sebelumnya) semakin memperburuk keadaan karena membatasi wilayah RI hanya pada Jawa, Sumatera, dan Madura, sehingga Bali menjadi target utama untuk dijadikan bagian dari Negara Indonesia Timur (NIT) yang pro-Belanda. I Gusti Ngurah Rai, seorang perwira TKR yang baru kembali dari Yogyakarta, melihat ancaman ini dan segera membentuk pasukan gerilya bernama Batalyon Ciung Wanara. Pasukan ini terdiri dari pemuda Bali yang bersenjatakan rampasan dan bambu runcing, siap bertempur di medan pegunungan dan hutan yang sulit. Semangat puputan—tradisi Bali untuk bertarung sampai mati daripada menyerah—kembali hidup, mencerminkan tekad rakyat Bali yang tidak mau kembali dijajah setelah berabad-abad menderita di bawah kolonialisme.

    5 Fakta I Gusti Ngurah Rai, dari Panglima hingga Menjadi Pahlawan Nasional

    nasional.sindonews.com

    5 Fakta I Gusti Ngurah Rai, dari Panglima hingga Menjadi Pahlawan Nasional

    Potret Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai, pemimpin heroik yang memimpin puputan hingga akhir hayatnya demi kemerdekaan.

    Kronologi Awal: Pembentukan Pasukan dan Serangan Pertama

    Kronologi Puputan Margarana dimulai pada awal 1946 ketika I Gusti Ngurah Rai memimpin pawai panjang pasukannya dari Jawa ke Bali Timur pada Mei 1946. Tujuannya adalah mengonsolidasikan kekuatan pejuang lokal dan membangun basis perlawanan. Pertempuran kecil pertama pecah pada 9 Juli 1946 di Tanah Aron, Karangasem, diikuti oleh bentrokan di Penglipuran. Pasukan Ciung Wanara berhasil merampas senjata dari pos-pos Belanda, memperkuat persenjataan mereka yang semula minim. Pada 19 November 1946, pasukan Indonesia di bawah Ngurah Rai melancarkan serangan mendadak ke markas Belanda di Tabanan, berhasil melucuti polisi NICA dan merebut amunisi. Serangan ini membuat Belanda geram dan segera mengerahkan Brigade Y untuk mengepung wilayah sekitar Marga. Ngurah Rai yang mengetahui rencana pengepungan itu memerintahkan sebagian besar pasukannya untuk bubar dan menyembunyikan diri, tetapi ia bersama 95 orang setia memilih bertahan di Banjar Kelaci, Desa Marga. Pilihan ini bukan karena kebodohan, melainkan strategi puputan yang disengaja untuk memberikan perlawanan terakhir yang membekas dalam sejarah.

    Puputan Margarana, Pertempuran Rakyat Bali Mengusir Belanda

    kompas.com

    Puputan Margarana, Pertempuran Rakyat Bali Mengusir Belanda

    Ilustrasi pasukan Belanda yang maju ke medan pertempuran di Bali, mencerminkan kekuatan militer kolonial yang dihadapi pejuang Indonesia.

    Puncak Pertempuran: Puputan di Ladang Jagung Marga

    Pada pagi 20 November 1946, pertempuran memasuki fase klimaks ketika pasukan Belanda mendekati posisi pejuang di ladang jagung Subak Uma Kaang. Ngurah Rai dan pasukannya yang tersisa langsung melancarkan serangan gerilya, memanfaatkan medan sawah dan hutan untuk menyergap musuh. Belanda yang unggul dalam jumlah dan persenjataan membalas dengan pengeboman udara dari pesawat yang berasal dari Makassar, diikuti serangan darat yang gencar. Selama hampir delapan jam, dari pukul 09.00 hingga 17.00, pertempuran berlangsung sengit dengan suara tembakan, ledakan granat, dan teriakan perang yang menggema di lembah Marga. Pejuang Bali bertarung dengan gagah berani, meski banyak yang gugur satu per satu. I Gusti Ngurah Rai sendiri gugur sebagai pahlawan terakhir, memimpin serangan hingga napasnya yang terakhir. Seluruh 96 anggota batalyon yang bertahan ikut gugur, sementara Belanda kehilangan sekitar 400 tentara. Mayat para pejuang kemudian dikumpulkan di Pasar Marga, menjadi bukti pengorbanan yang tak tergantikan. Puputan ini bukan kekalahan, melainkan kemenangan moral yang menginspirasi perlawanan lanjutan di Bali hingga pengakuan kedaulatan pada 1949.

    Puputan Margarana, Perlawanan Sampai Mati Rakyat Bali Mengusir Belanda -  Bali Satu Berita

    balisatuberita.com

    Puputan Margarana, Perlawanan Sampai Mati Rakyat Bali Mengusir Belanda – Bali Satu Berita

    Ilustrasi dramatis pertempuran puputan di Bali, menggambarkan semangat perlawanan habis-habisan para pejuang melawan penjajah.

    Dampak dan Warisan Abadi Puputan Margarana

    Dampak Puputan Margarana sangat mendalam bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Secara militer, kematian Ngurah Rai dan pasukannya memicu gelombang perlawanan baru di bawah pemimpin seperti Tjilik Riwut, yang membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Buleleng. Secara psikologis, peristiwa ini membuktikan bahwa rakyat Bali tidak akan pernah menyerah pada penjajah, memperkuat semangat nasionalisme di seluruh Indonesia. Monumen Taman Pujaan Bangsa Margarana yang dibangun pada 1970-an menjadi tempat ziarah nasional, lengkap dengan museum yang menyimpan artefak senjata dan foto-foto pejuang. I Gusti Ngurah Rai dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1970, dan bandara internasional di Bali dinamai sesuai namanya sebagai penghormatan. Hingga kini, peristiwa ini diajarkan di sekolah sebagai pelajaran tentang nilai pengorbanan, persatuan, dan cinta tanah air. Puputan Margarana mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan yang penuh darah dan air mata.

    Taman Pujaan Bangsa Margarana: Dari Ladang Jagung Jadi Medan Puputan

    detik.com

    Taman Pujaan Bangsa Margarana: Dari Ladang Jagung Jadi Medan Puputan

    Pintu gerbang Taman Pujaan Bangsa Margarana yang dihiasi bendera Merah Putih, simbol keabadian perjuangan para pahlawan.

    Ilustrasi Peristiwa Puputan Margarana

    Untuk menggambarkan suasana heroik peristiwa tersebut, berikut ilustrasi yang menggambarkan momen krusial pertempuran di ladang jagung Marga. Para pejuang dengan seragam sederhana dan senjata rampasan bertempur melawan pasukan Belanda yang bersenjata lengkap, di tengah ledakan bom dan asap tebal. Ilustrasi ini menangkap esensi puputan: keberanian tanpa pamrih di hadapan maut.

    Sejarah Pertempuran Puputan Margarana, Perjuangan Hingga Ajal

    harapanrakyat.com

    Sejarah Pertempuran Puputan Margarana, Perjuangan Hingga Ajal

    Tabel Kronologi Puputan Margarana

    TanggalPeristiwa Utama
    Mei 1946I Gusti Ngurah Rai memimpin pawai panjang pasukan ke Bali Timur.
    9 Juli 1946Pertempuran kecil dimulai di Tanah Aron dan Penglipuran.
    19 November 1946Serangan pejuang ke markas Belanda di Tabanan; rampas senjata.
    20 November 1946Pengepungan dan puputan di Desa Marga; Ngurah Rai dan 95 pasukan gugur.

    Tabel Tokoh Utama yang Terlibat

    Tokoh IndonesiaPeran UtamaTokoh BelandaPeran Utama
    Letnan Kolonel I Gusti Ngurah RaiPemimpin Batalyon Ciung Wanara, gugur dalam puputanLetnan Kolonel F. MollingerKomandan Brigade Y NICA
    Pejuang Ciung WanaraPasukan gerilya yang bertahan hingga akhirKapten J.B.T. KönigKomandan lapangan

    Tabel Korban dan Kekuatan Pasukan

    AspekPihak IndonesiaPihak Belanda (NICA)
    Kekuatan PasukanSekitar 96 orang (batalyon akhir)Ribuan orang dengan dukungan udara
    Korban Jiwa96 gugur (seluruhnya)Sekitar 400 tewas
    Hasil AkhirPengorbanan heroik, inspirasi perlawananKemenangan militer tapi kerugian besar

    Daftar Pustaka

    1. Pendit, I Nyoman S. Bali Berjuang. Denpasar: Penerbit Bali, 1950.
    2. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Denpasar. Tonggak-Tonggak Sejarah Pada Masa Revolusi Fisik di Bali Tahun 1945–1948. Denpasar: Yayasan Kebaktian Proklamasi Provinsi Bali, 1995.
    3. Wikipedia. “Puputan Margarana.” Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Puputan_Margarana.
    4. Kompas.com. “Puputan Margarana: Tokoh, Penyebab, Kronologi, dan Dampak.” 23 Juli 2022.
    5. Tirto.id. “Sejarah Puputan Margarana, Latar Belakang, Kronologi, & Tokohnya.” Diakses 2024.
    6. Sudarta, W. “Nilai-Nilai Kepahlawanan I Gusti Ngurah Rai.” Jurnal Pendidikan Sejarah, Vol. 12, No. 2, 2023.
    7. Mirnawati. Peran Masyarakat Bali dalam Puputan Margarana. Jurnal Universitas Warmadewa, 2012.
    8. BaliSaja.com. “Begini Kronologi Perang Puputan Margarana, 20 November 1946.” 20 November 2024.
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Rifa Sani

    Related Posts

    Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka

    March 22, 2026

    Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura

    March 22, 2026

    Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan

    March 7, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Recent Posts
    • Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka
    • Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura
    • Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan
    • Komik : Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar: Peninggalan Sejarah dan Filosofi Hidup Masyarakatnya)
    • Komik : Kesultanan Banten (Banten Glory and Betrayal)
    • Komik : Kesultanan Aceh Darussalam (The Evolution of Acehnese Governance and Maritime Influence)
    • Komik : Mataram Islam: Dari Alas Mentaok hingga Perjanjian Giyanti
    Sosial Media
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube
    • Soundcloud
    • TikTok
    • WhatsApp
    Latest Posts

    Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka

    March 22, 202617 Views

    Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura

    March 22, 202610 Views

    Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan

    March 7, 202620 Views

    Komik : Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar: Peninggalan Sejarah dan Filosofi Hidup Masyarakatnya)

    March 4, 202610 Views
    Don't Miss
    Artikel

    Masuknya Islam Di Nusantara

    By Rifa SaniFebruary 8, 202685

    PENGANTAR Proses masuknya Islam ke Nusantara tidak terjadi melalui penaklukan militer, melainkan melalui jalur perdagangan…

    Peristiwa Rengasdengklok: Kronologi Penculikan Dramatis yang Mempercepat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

    February 13, 2026

    Peristiwa Rapat Besar di Lapangan Ikada: Kronologi yang Menggelorakan Semangat Revolusi Indonesia

    February 13, 2026
    Demo
    Archives
    About Us
    About Us

    We're accepting new partnerships right now.

    Recent
    • Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka
    • Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura
    • Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan
    • Komik : Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar: Peninggalan Sejarah dan Filosofi Hidup Masyarakatnya)
    • Komik : Kesultanan Banten (Banten Glory and Betrayal)
    • Komik : Kesultanan Aceh Darussalam (The Evolution of Acehnese Governance and Maritime Influence)
    Most Popular

    Masuknya Islam Di Nusantara

    February 8, 2026670 Views

    Peristiwa Rengasdengklok: Kronologi Penculikan Dramatis yang Mempercepat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

    February 13, 2026396 Views

    Peristiwa Rapat Besar di Lapangan Ikada: Kronologi yang Menggelorakan Semangat Revolusi Indonesia

    February 13, 2026238 Views
    Facebook Instagram YouTube WhatsApp TikTok RSS
    © 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Powered by
    ►
    Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
    None
    ►
    Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
    None
    ►
    Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
    None
    ►
    Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
    None
    ►
    Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
    None
    Powered by