Identitas Kerajaan
- Corak Agama: Hindu-Siwa, Buddha, dan Sunda Wiwitan.
- Lokasi: Jawa bagian Barat (meliputi wilayah Jawa Barat, Banten, dan bagian barat Jawa Tengah saat ini). Pusat pemerintahan berpindah-pindah antara Pakuan Pajajaran (Bogor) dan Kawali (Ciamis).
- Sumber Sejarah: * Dalam Negeri:Naskah Wangsakerta, Carita Parahyangan, Frasasti Sanghyang Tapak, Prasasti Kawali.
- Luar Negeri: Catatan perjalanan Tomé Pires (Suma Oriental dari Portugis) dan berita dari Dinasti Ming (Tiongkok).
Sejarah Berdirinya dan Dinamika Kehidupan Masyarakat
Kerajaan Sunda Galuh merupakan kelanjutan dari Kerajaan Tarumanegara yang runtuh pada abad ke-7. Setelah Tarumanegara pecah, muncullah dua kekuatan utama: Kerajaan Sunda di bagian barat dan Kerajaan Galuh di bagian timur yang dipisahkan oleh Sungai Citarum. Penyatuan kedua kerajaan ini sering kali terjadi melalui jalur pernikahan politik, meski terkadang mengalami pasang surut pemisahan kembali. Secara politik, suksesi kepemimpinan di Sunda Galuh sangat dipengaruhi oleh garis keturunan dan legitimasi spiritual. Raja dianggap sebagai representasi kekuasaan tertinggi yang harus menjaga keseimbangan alam. Dinamika politiknya tidak hanya bersifat internal, tetapi juga melibatkan hubungan diplomatik dengan kerajaan tetangga seperti Sriwijaya dan Majapahit, yang terkadang berujung pada aliansi maupun konflik besar.
Secara sosial, masyarakat Sunda Galuh dikenal sebagai masyarakat yang egaliter namun tetap menghormati hierarki fungsional. Struktur sosial dibagi berdasarkan peran, seperti golongan petani, pengrajin, hingga kaum brahmana. Kehidupan sehari-hari sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai kearifan lokal yang tertuang dalam konsep Sanghyang Siksa Kandang Karesian, sebuah pedoman hidup mengenai etika dan moralitas. Hubungan antarwarga didasarkan pada gotong royong, terutama dalam mengelola sistem pertanian. Tradisi lisan dan penghormatan terhadap leluhur menjadi pengikat sosial yang kuat di tengah keberagaman keyakinan yang ada saat itu.
Dalam bidang ekonomi, Kerajaan Sunda Galuh mengandalkan dua sektor utama: agraris dan maritim. Karena tanahnya yang subur, produksi padi dan lada menjadi komoditas unggulan yang sangat diminati di pasar internasional. Melalui pelabuhan-pelabuhan strategis seperti Sunda Kelapa, Pontang, dan Cigede, kerajaan ini menjalin perdagangan aktif dengan pedagang dari luar pulau hingga mancanegara. Sistem perpajakan sudah tertata dengan baik, di mana rakyat memberikan upeti berupa hasil bumi kepada istana sebagai bentuk kontribusi terhadap pembangunan dan pertahanan negara.
Hukum di Sunda Galuh ditegakkan dengan prinsip keadilan yang bersumber pada tradisi dan ketetapan raja. Tidak ada pemisahan yang kaku antara hukum adat dan hukum negara; keduanya berjalan beriringan untuk menciptakan ketertiban masyarakat. Pelanggaran terhadap norma sosial atau perintah raja dikenakan sanksi yang bertujuan untuk memulihkan keseimbangan kosmik. Penegakan hukum ini diawasi oleh pejabat-pejabat kerajaan yang ditunjuk langsung, memastikan bahwa setiap sengketa, baik urusan tanah maupun perdagangan, dapat diselesaikan dengan cara musyawarah mufakat.
Kekuatan militer Sunda Galuh dirancang untuk pertahanan wilayah daripada ekspansi agresif. Pasukan kerajaan terdiri dari infanteri yang terampil dalam pertempuran hutan dan gerilya, didukung oleh pengawal elit istana. Meskipun tidak memiliki armada laut sebesar Sriwijaya, pertahanan pelabuhan mereka cukup kuat untuk menangkal serangan bajak laut. Senjata tradisional seperti kujang bukan hanya alat perang, melainkan simbol keberanian dan jati diri prajurit Sunda. Militer juga berperan penting dalam menjaga keamanan jalur perdagangan darat yang menghubungkan pedalaman dengan pesisir.
Sistem birokrasi kerajaan sangat teratur dengan pembagian tugas yang jelas. Raja dibantu oleh dewan penasihat dan menteri-menteri yang menangani urusan luar negeri, keuangan, dan agama. Struktur ini memungkinkan stabilitas pemerintahan tetap terjaga meskipun pusat kekuasaan berpindah-pindah. Komunikasi antara pusat dan daerah dilakukan melalui utusan-utusan khusus yang membawa titah raja dalam bentuk prasasti atau naskah lontar. Hal ini menunjukkan tingkat peradaban literasi yang cukup tinggi di kalangan birokrat kerajaan.
Hubungan antara penguasa dan rakyat dibangun atas dasar kepercayaan dan pengayoman. Raja sering kali turun ke desa-desa untuk meninjau pembangunan irigasi atau fasilitas umum lainnya. Kehadiran pemimpin di tengah rakyat memperkuat legitimasi dan loyalitas massa terhadap tahta. Hal ini menciptakan stabilitas internal yang panjang, jarang terjadi pemberontakan besar dari dalam rakyat sendiri karena kebutuhan dasar mereka umumnya terpenuhi oleh kebijakan ekonomi yang pro-rakyat.
Budaya literasi dan seni juga berkembang pesat di lingkungan istana dan masyarakat umum. Penulisan naskah-naskah kuno tidak hanya berisi silsilah raja, tetapi juga ilmu pengetahuan, astronomi, dan ajaran keagamaan. Kesenian seperti tari-tarian dan musik gamelan ajeng menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual keagamaan maupun hiburan rakyat. Integrasi antara nilai-nilai spiritual dan ekspresi artistik menciptakan identitas budaya Sunda yang khas dan bertahan melintasi zaman.
Terakhir, kemampuan adaptasi Kerajaan Sunda Galuh terhadap perubahan zaman menjadi kunci keberlangsungannya selama berabad-abad. Mereka mampu menerima pengaruh Hindu-Buddha tanpa menghilangkan akar budaya asli Sunda Wiwitan. Fleksibilitas ini terlihat dari cara mereka menyikapi datangnya pengaruh Islam di kemudian hari. Meskipun pada akhirnya harus runtuh, warisan nilai, bahasa, dan etika yang mereka bangun tetap menjadi fondasi utama kebudayaan masyarakat Jawa Barat hingga saat ini.
Puncak Kejayaan dan Masa Keemasan
Masa keemasan kerajaan ini dicapai pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) yang memerintah antara tahun 1482–1521. Di bawah kepemimpinannya, wilayah Sunda dan Galuh bersatu sepenuhnya dengan pusat di Pakuan Pajajaran. Ia melakukan banyak pembangunan infrastruktur seperti telaga buatan (Maharena Wijaya), memperkuat angkatan perang, dan menyejahterakan rakyat dengan membebaskan beberapa jenis pajak tanah.
Daftar Raja yang Memerintah (Beberapa yang Terkenal)
- Tarusbawa (Raja Sunda pertama)
- Wretikandayun (Raja Galuh pertama)
- Sanjaya (Menantu Tarusbawa, penguasa Sunda, Galuh, dan Mataram Kuno)
- Prabu Maharaja Linggabuana (Gugur dalam Tragedi Bubat)
- Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi – Masa Keemasan)
- Prabu Nilakendra
Struktur Kerajaan
- Raja: Pemimpin tertinggi (Dewa Raja).
- Mangkubumi: Perdana menteri atau pelaksana pemerintahan harian.
- Wado: Pejabat administratif daerah.
- Syahbandar: Pengelola pelabuhan dan perdagangan.
- Brahmana/Resi: Penasihat spiritual dan ahli hukum.
Peninggalan Kerajaan
- Prasasti: Prasasti Kawali (Ciamis), Prasasti Sanghyang Tapak (Sukabumi), Prasasti Batutulis (Bogor).
- Situs: Situs Karangkamulyan (Ciamis), Situs Percandian Batujaya (Karawang).
- Tradisi: Upacara Seren Taun (syukur panen), tradisi menghormati alam, dan seni bela diri Penca.
- Kesusastraan: Carita Parahyangan, Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Bujangga Manik (naskah perjalanan mengelilingi Jawa).
Akhir Kerajaan
Keruntuhan Kerajaan Sunda Galuh terjadi pada tahun 1579 M. Penyebab utamanya adalah tekanan hebat dari Kesultanan Banten yang dipimpin oleh Maulana Yusuf, putra Hasanuddin. Serangan ini merupakan bagian dari gelombang islamisasi di Pulau Jawa. Jatuhnya ibu kota Pakuan Pajajaran ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (batu tempat duduk penobatan raja) dari Pakuan ke Keraton Surosowan di Banten. Dengan hilangnya simbol kekuasaan tersebut, secara politis kedaulatan Sunda berakhir, dan banyak bangsawan serta rakyatnya yang menarik diri ke pedalaman atau bergabung dengan struktur kekuasaan baru.
Daftar Pustaka
- Ekadjati, Edi S. (2005). Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah). Jakarta: Pustaka Jaya.
- Atja & Saleh Danasasmita. (1981). Carita Parahyangan: Transliterasi dan Terjemahan. Bandung: Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat.
- Danasasmita, Saleh. (2003). Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi. Bandung: Kiblat Buku Utama.
- Guillot, Claude. (2011). The Sultanate of Banten. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

1 Comment
wow sangat keren