Sejarah Kesultanan Cirebon: Dari Awal Pendirian hingga Akhir Kekuasaannya
Kesultanan Cirebon merupakan salah satu kesultanan Islam tertua di Pulau Jawa yang berdiri di pesisir utara Jawa Barat. Didirikan pada abad ke-15, kesultanan ini berperan penting sebagai pusat penyebaran agama Islam, pelabuhan perdagangan strategis, dan kekuatan politik di wilayah Sunda. Dari sebuah dukuh kecil bernama Caruban hingga menjadi kesultanan yang disegani, Cirebon mengalami masa kejayaan yang gemilang sebelum akhirnya runtuh akibat perpecahan internal dan pengaruh kolonial Belanda. Artikel ini membahas sejarah lengkapnya dari awal hingga akhir, lengkap dengan peninggalan dan gambar terkait.

Awal Pendirian (Abad ke-15)
Awal mula Kesultanan Cirebon berasal dari sebuah dukuh kecil bernama Caruban (artinya “campuran” dalam bahasa Sunda) yang didirikan oleh Ki Gedeng Tapa sekitar tahun 1445 M. Dukuh ini berkembang pesat menjadi pelabuhan ramai karena letaknya yang strategis di jalur perdagangan laut, menghasilkan ikan dan terasi rebon (sehingga disebut “Cai Rebon” atau Cirebon).
Pendirian resmi kesultanan dikaitkan dengan Pangeran Walangsungsang (juga dikenal sebagai Pangeran Cakrabuana), putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran. Pada tahun 1430 M, ia membangun Istana Pakungwati dan membentuk pemerintahan di Cirebon. Setelah menunaikan ibadah haji, ia masuk Islam dan bergelar Haji Abdullah Iman. Ia dianggap sebagai pendiri pertama Kesultanan Cirebon dan memerintah hingga 1479 M.

Masa Kejayaan di Bawah Sunan Gunung Jati (1479–1568 M)
Puncak kejayaan Kesultanan Cirebon terjadi saat Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) memegang tampuk pemerintahan mulai 1479 M. Ia adalah salah satu anggota Wali Songo, cucu Prabu Siliwangi dari garis ibu (Nyai Rara Santang), dan putra Syarif Abdullah dari Mesir. Sunan Gunung Jati berhasil melepaskan Cirebon dari upeti kepada Kerajaan Pajajaran, menjadikannya kesultanan berdaulat penuh.
Di bawah kepemimpinannya:
- Wilayah kekuasaan meluas hingga separuh Jawa Barat dan Banten.
- Penyebaran Islam masif di Jawa Barat.
- Pembangunan infrastruktur: keraton, masjid, jalan, dan pelabuhan.
- Pasukan militer kuat dan hubungan diplomatik dengan negara lain.
Cirebon menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan Islam yang makmur. Sunan Gunung Jati wafat tahun 1568 M dan dimakamkan di Gunung Jati.

Penerus dan Awal Kemunduran
Setelah Sunan Gunung Jati:
- Fatahillah (menantu, 1568–1570 M).
- Panembahan Ratu I (1570–1649 M) — masa stabil.
- Panembahan Ratu II / Sultan Abdul Karim (Panembahan Girilaya, 1649–1666/1677 M).
Pada masa Panembahan Ratu II, perselisihan dengan Mataram (Amangkurat I) menyebabkan ia diasingkan dan wafat di Surakarta (1667 M). Kekosongan kekuasaan ini memicu krisis.
Perpecahan dan Keruntuhan (1677 M hingga Abad ke-19)
Tahun 1677 M, Kesultanan Cirebon terpecah menjadi tiga (kemudian menjadi dua utama): Kesultanan Kasepuhan (dipimpin Pangeran Martawijaya/Sultan Sepuh) dan Kesultanan Kanoman (Pangeran Kartawijaya/Sultan Anom), serta Panembahan Cirebon. Perpecahan ini dipengaruhi campur tangan Kesultanan Banten dan Mataram yang berebut pelabuhan strategis Cirebon.
Kekuasaan semakin lemah akibat:
- Persaingan internal antar keluarga sultan.
- Monopoli perdagangan oleh VOC (Belanda).
- Campur tangan kolonial yang menjadikan sultan sebagai pegawai negeri.
Pada masa Gubernur Jenderal Daendels (1808–1811), wilayah Cirebon dibagi dan kekuasaan sultan semakin terbatas. Kesultanan secara resmi dihapuskan oleh pemerintah kolonial Belanda sekitar tahun 1906–1926 dan digantikan menjadi Kota Cirebon.


Peninggalan Sejarah
Meski kesultanan runtuh, warisannya tetap hidup:
- Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman (masih ada di Cirebon).
- Makam Sunan Gunung Jati di Gunung Jati.
- Masjid-masjid kuno dan tradisi budaya seperti tari topeng Cirebon serta seni batik.
Kesultanan Cirebon menjadi simbol perpaduan budaya Sunda, Jawa, dan Islam di Nusantara.
Daftar Pustaka
- Wikipedia. “Kesultanan Cirebon.” Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Cirebon.
- Pijar Belajar. “Kerajaan Cirebon: Sejarah, Penyebab Runtuhnya, Hingga Peninggalannya.” 26 Maret 2024. https://www.pijarbelajar.id/blog/kerajaan-cirebon.
- Kumparan. “Mengenal Sejarah Kesultanan Cirebon dan Masa Kejayaannya.” 29 Desember 2023. https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/mengenal-sejarah-kesultanan-cirebon-dan-masa-kejayaannya-21rZSgM2Y9e.
- Gramedia. “Pendiri Kerajaan Cirebon dan Mengenal Sejarah, Letak, serta Peninggalannya.” https://www.gramedia.com/literasi/pendiri-kerajaan-cirebon/.
- Jurnal “Sejarah Kesultanan Cirebon” oleh B. Rozi (2022). https://ejournal.uiidalwa.ac.id/index.php/batuthah/article/download/644/312.
- Detik.com. “Menelisik Sejarah dan Mengenang Masa Kejayaan Kesultanan Cirebon.” 31 Juli 2022. https://www.detik.com/jabar/budaya/d-6208549/menelisik-sejarah-dan-mengenang-masa-kejayaan-kesultanan-cirebon.
