Kisah mengenai Desa Dersalam di Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, adalah sebuah narasi tentang harmoni antara manusia dan alam yang terjalin erat melalui memori kolektif masyarakatnya. Pada mulanya, wilayah ini bukanlah pemukiman padat seperti yang kita lihat hari ini, melainkan sebuah lembah hijau yang rimbun dan dipenuhi oleh pepohonan salam (Syzygium polyanthum) yang tumbuh subur hingga menutupi cakrawala. Karena kelimpahan pohon yang daunnya menjadi rempah esensial dalam masakan Nusantara tersebut, para pengelana dan penduduk awal secara naluriah menyebut daerah ini sebagai “Desa Salam”. Seiring berjalannya waktu dan dialek lokal yang mengalir, penyebutan tersebut mengalami kontraksi linguistik menjadi “Dersalam”—sebuah nama yang hingga kini tetap kokoh meskipun hutan-hutan salam tersebut telah berganti rupa menjadi rumah dan fasilitas publik. Uniknya, meski catatan tertulis mengenai masa awal desa ini sangat minim, sejarahnya tetap “bernapas” melalui tutur lisan para sesepuh yang menjaga kemurnian kisah ini agar tidak lekang oleh panasnya zaman.
Di tengah rimbunnya sejarah lisan tersebut, muncul sosok sentral yang dihormati sebagai cikal bakal atau tokoh yang membuka lahan pertama kali (babat alas), yaitu Mbah Buyut Kronowongso. Beliau bukan sekadar figur simbolis, melainkan arsitek sosial dan spiritual yang meletakkan batu pertama kehidupan bermasyarakat di Dersalam dengan menanamkan nilai-nilai keagamaan yang kuat. Berdasarkan fakta tradisi yang masih hidup, makam beliau kini menjadi punden atau tempat suci yang sakral bagi warga desa, di mana setiap tahunnya diselenggarakan tradisi Haul dan Buka Luwur—sebuah upacara penggantian kain kelambu makam yang mirip dengan tradisi di Masjid Menara Kudus. Tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan momen sakral yang menyatukan ribuan warga dalam doa bersama dan sedekah bumi, membuktikan bahwa warisan Mbah Buyut Kronowongso tetap menjadi kompas moral dan identitas bagi masyarakat Dersalam di tengah arus modernisasi.
Kini, Desa Dersalam telah bertransformasi dari sebuah lembah terpencil menjadi kawasan strategis yang aktif secara sosial dan ekonomi, terutama karena lokasinya yang bersinggungan dengan wilayah pendidikan dan akses utama di Kabupaten Kudus. Namun, menariknya, kepadatan penduduk dan kemajuan infrastruktur tidak lantas melunturkan nilai-nilai lokal yang diwariskan oleh para leluhur. Masyarakat Dersalam berhasil membuktikan bahwa sebuah desa bisa maju tanpa harus kehilangan jiwanya; mereka tetap merawat ingatan kolektif melalui upacara tradisional dan menjaga kerukunan melalui kearifan lokal yang bersumber dari perpaduan unsur alam dan spiritualitas. Historiografi Dersalam mengajarkan kita bahwa sejarah yang paling jujur terkadang tidak tersimpan di atas kertas yang bisa lapuk, melainkan tertanam dalam kebiasaan, doa-doa di malam haul, dan rasa hormat yang mendalam terhadap tokoh pendiri yang telah memberikan kehidupan bagi generasi setelahnya.
infrmasi dari :
- Ibu Ulin wawancara pada tanggal 8 November 2025 di rumah beliau
- Mbah Sutani dan Ibu Khusnul wawancara pada tanggal 8 November 2025 di rumah beliau
