
Kerajaan Medang Kamulan merupakan kelanjutan dari Kerajaan Mataram Kuno yang sebelumnya berpusat di Jawa Tengah. Perpindahan pusat kekuasaan ini menandai babak baru dalam sejarah Nusantara, di mana poros politik dan ekonomi bergeser ke arah timur.
Profil Umum
- Corak Agama: Hindu-Siwa (Dominan) dan Buddha.
- Lokasi: Berpusat di Watugaluh, di tepi Sungai Brantas (sekarang wilayah Jombang, Jawa Timur). Kekuasaannya mencakup wilayah Jawa Timur hingga sebagian Jawa Tengah dan Bali.
Sumber Sejarah
Informasi mengenai Medang Kamulan didapatkan dari berbagai sumber primer yang membuktikan eksistensi dan kejayaannya:
- Sumber Dalam Negeri (Prasasti):
- Prasasti Pucangan: Menceritakan silsilah raja-raja dan peristiwa penyerangan Pralaya (kehancuran) Medang.
- Prasasti Anjuk Ladang: Bukti kemenangan Mpu Sindok melawan serangan dari Melayu (Sriwijaya).
- Prasasti Paradah: Berisi penetapan sima (tanah perdikan).
- Sumber Luar Negeri:
- Berita Tiongkok (Dinasti Sung): Mencatat hubungan diplomatik dan perdagangan antara Jawa dan Tiongkok. Tercatat adanya utusan dari “She-po” (Jawa) pada abad ke-10.

Prasasti Paradah (Dok. berita.kedirikab.go.id)

Prasasti Mpu Sindok. Source: kebudayaan.kemdikbud.go.id/
Daftar Raja yang Memerintah (Dinasti Isyana)
Berikut adalah silsilah penguasa berdasarkan Prasasti Pucangan:
- Mpu Sindok (Sri Isyana Wikramadharmottunggadewa) – Pendiri Dinasti.
- Sri Isyana Tunggawijaya (Putri Mpu Sindok, memerintah bersama suaminya Sri Lokapala).
- Sri Makutawangsawardhana.
- Dharmawangsa Teguh (Sri Maharaja Isyana Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa) – Membawa kerajaan ke puncak ekspansi militer.
- Airlangga (Menantu Dharmawangsa, yang kemudian mendirikan Kerajaan Kahuripan sebagai kelanjutan Medang).
| Kurun Waktu | Nama Pribadi | Apanase (Daerah Lungguh) | Nama Anumerta | Disebutkan dalam Prasasti | Tahun |
| 929–947 | Mpu Sindok | Rakai Mahamantri Halu, Rakai Mahamantri Hino | Śrī Mahārāja Īśānavikramā Dharmottunggadewavijaya | Prasasti Turryan, Prasasti Masahar, Prasasti Anjuk Ladang, Prasasti Paradah | 929, 937, 943 |
| 947–985 | – | – | Śrī Īśāna Tunggavijaya (Sri Isyana Tunggawijaya) | Prasasti Gedangan, Prasasti Pucangan | 950, 1041 |
| 985–990 | – | – | Śrī Makutavaṃsa Vardhana (Makutawangsawardhana) | Prasasti Wwahan, Prasasti Pucangan | 985, 1041 |
| 990–1016 | apañji wijayāmrtawarddhana | – | Śrī Mahārāja Īśāna Dharmavaṃsa Teguh Anantavikramottunggadeva (Dharmawangsa Teguh) | Prasasti Kawambang Kulwan, Prasasti Pucangan, Prasasti Sirah Keting | 992, 1041, 1204 |
Cerita Sejarah: Dinamika Kehidupan Medang Kamulan
Awal terbentuknya Kerajaan Medang di Jawa Timur dipelopori oleh Mpu Sindok pada tahun 929 M. Ia memindahkan pusat pemerintahan dari Jawa Tengah karena beberapa faktor krusial: letusan dahsyat Gunung Merapi, ancaman serangan dari Kerajaan Sriwijaya, serta kondisi geografis Jawa Timur yang lebih terbuka untuk perdagangan maritim melalui aliran Sungai Brantas. Mpu Sindok kemudian mendirikan Dinasti Isyana, menggantikan Dinasti Sanjaya dan Syailendra yang berkuasa sebelumnya.

Mpu Sindok. Source: sejarahlengkap.com/
Dalam aspek politik, Medang Kamulan dikenal sebagai kerajaan yang ekspansif namun sering menghadapi ancaman luar. Puncak ketegangan politik terjadi pada masa pemerintahan Raja Dharmawangsa Teguh, yang berusaha mematahkan dominasi maritim Sriwijaya. Namun, ambisi ini berakhir tragis dalam peristiwa Pralaya Medang (1016 M), di mana kerajaan diserang oleh Raja Wurawari (vazal Sriwijaya) saat pesta pernikahan putri raja dengan Airlangga, mengakibatkan runtuhnya tatanan politik pusat secara mendadak.
Struktur Kerajaan
Sistem pemerintahan bersifat monarki absolut dengan struktur birokrasi sebagai berikut:
- Raja (Maharaja): Pemegang kekuasaan tertinggi, dianggap titisan dewa.
- Rakryan Mahamantri Katrini: Tiga pejabat tinggi utama (Hino, Halu, Sirikan) yang biasanya dijabat oleh putra raja atau kerabat dekat.
- Rakryan Mantri Ri Pakira-kiran: Dewan pelaksana pemerintahan (menteri).
- Dharmadhyaksa: Pejabat yang mengurusi hukum dan keagamaan (dibagi menjadi Kasogatan untuk Buddha dan Kasaiwan untuk Siwa).
Kehidupan sosial masyarakat Medang sangat dipengaruhi oleh struktur kasta Hindu, namun tetap fleksibel karena adanya kearifan lokal. Masyarakat hidup dalam harmoni antara pemeluk Hindu dan Buddha. Raja dianggap sebagai titisan dewa (Dewa-Raja) yang bertugas menjaga keseimbangan alam. Gotong royong dalam pembangunan saluran irigasi dan pemeliharaan candi menjadi ciri khas interaksi sosial masyarakat pedesaan yang menetap di sekitar daerah aliran sungai.

Secara ekonomi, Medang Kamulan merupakan negara agraris-maritim yang makmur. Berkat aliran Sungai Brantas, sektor pertanian (padi) berkembang pesat melalui sistem irigasi yang tertata. Di sisi lain, pelabuhan-pelabuhan seperti Hujung Galuh menjadi titik temu perdagangan internasional. Mereka mengekspor beras, rempah-rempah, dan kayu cendana ke mancanegara, menjadikan ekonomi kerajaan sangat stabil dan mampu membiayai pembangunan infrastruktur besar.

Peta Wilayah Kerajaan Medang Kamulan. (Dok. Wikimedia Commons)
Sistem hukum diatur melalui keputusan raja yang dituangkan dalam prasasti-prasasti terkait penetapan tanah Sima. Pelanggaran terhadap ketetapan raja sering kali diancam dengan kutukan-kutukan sakral (sapatha), yang menunjukkan bahwa hukum terintegrasi kuat dengan kepercayaan religius. Keadilan ditegakkan oleh pejabat pusat yang mengawasi desa-desa, memastikan bahwa pajak dan aturan keagamaan dipatuhi oleh seluruh kawula kerajaan.
Kekuatan militer Medang Kamulan sangat diperhitungkan di kawasan Nusantara. Mereka memiliki armada laut yang mampu melintasi lautan untuk menyerang pusat pertahanan Sriwijaya di Sumatera. Selain itu, pasukan daratnya didukung oleh para ksatria yang terlatih dalam seni bela diri dan strategi perang hutan. Meskipun kuat, militer Medang sempat lengah saat peristiwa Pralaya, yang kemudian menjadi pelajaran berharga bagi Airlangga dalam membangun kembali angkatan perang untuk menyatukan Jawa.
Pembangunan kembali kerajaan dilakukan oleh Airlangga, putra menantu Dharmawangsa. Setelah bertahun-tahun hidup sebagai pertapa, ia berhasil mengumpulkan sisa-sisa kekuatan, menaklukkan para penguasa lokal, dan memulihkan kejayaan Medang. Kepemimpinan Airlangga yang bijaksana menyatukan kembali wilayah yang terpecah, memperkuat infrastruktur ekonomi melalui pembangunan Bendungan Waringin Sapta, serta memajukan sastra dan seni di tanah Jawa.

Silsilah Kerajaan Medang Kamulan (Dokumen Zenius)
Akhir Kerajaan
Kerajaan Medang Kamulan secara formal berakhir bukan karena penaklukan musuh, melainkan karena keputusan pembagian kekuasaan. Menjelang akhir hayatnya, Raja Airlangga menghadapi dilema karena kedua putranya berebut takhta. Untuk menghindari perang saudara yang berlarut-larut, Airlangga meminta bantuan Mpu Bharada untuk membagi kerajaan menjadi dua bagian pada tahun 1045 M. Bagian barat menjadi Kerajaan Panjalu (Kadiri) dan bagian timur menjadi Kerajaan Janggala. Dengan pembagian ini, berakhirlah era Medang Kamulan dan dimulailah era baru di Jawa Timur.
Puncak Kejayaan
Puncak kejayaan Kerajaan Medang terjadi pada dua fase:
Era Airlangga (Pasca Keruntuhan): Meskipun Airlangga membangun kembali kerajaan dengan nama Kahuripan, secara genealogis dan budaya ia adalah penerus Medang. Ia berhasil menyatukan kembali wilayah yang pecah belah, memajukan pertanian dengan membendung Sungai Brantas (Bendungan Waringin Sapta), dan menyejahterakan rakyat melalui perdagangan di Pelabuhan Hujung Galuh.
Era Dharmawangsa Teguh: Berhasil meningkatkan perdagangan luar negeri dan berani menantang hegemoni Sriwijaya melalui ekspedisi militer. Ia juga memprakarsai penyaduran kitab Mahabharata ke dalam bahasa Jawa Kuno, yang menjadi tonggak kemajuan sastra.
Peninggalan Kerajaan dan Tradisi
1. Kesusastraan Zaman ini dikenal sebagai masa kebangkitan sastra Jawa Kuno.
- Kitab Arjunawiwaha: Kitab Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa yang ditulis pada masa pemerintahan Raja Airlangga sebagai bentuk penghormatan atas keberhasilannya menyatukan kembali kerajaan. Karya sastra agung yang melambangkan perjuangan Airlangga.
- Penyaduran Mahabharata: Terjemahan bagian-bagian (Parwa) Mahabharata ke bahasa Jawa Kuno atas perintah Dharmawangsa Teguh (misalnya: Adiparwa, Wirataparwa).
2. Tradisi & Budaya
- Wayang Kulit: Tradisi penceritaan epik India yang diadaptasi dengan budaya lokal mulai mengakar kuat.
- Sistem Subak/Irigasi: Pengelolaan air untuk sawah yang warisannya masih bisa dilihat hingga kini.
- Tradisi: Upacara keagamaan di sekitar aliran Brantas dan sistem pembagian air irigasi yang masih diadopsi secara tradisional di beberapa wilayah Jawa Timur.
3. Bangunan (Candi & Petirtaan)
- Candi Lor (Nganjuk): Dibangun Mpu Sindok sebagai tugu kemenangan (Jayastamba).
- Candi Gunung Gangsir: Menggunakan batu bata merah, ciri khas bangunan Jawa Timur.
- Pertirtaan Belahan: Tempat pemandian suci yang dihubungkan dengan makam Airlangga (digambarkan sebagai Wisnu menunggang Garuda).
- Candi Jolotundo: Petirtaan kuno yang memiliki kualitas air terbaik, dibangun sebagai tanda kelahiran putra Udayana (ayah Airlangga).

Daftar Pustaka
- Coedes, George. (1968). The Indianized States of Southeast Asia. University of Hawaii Press.
- Munoz, Paul Michel. (2006). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Editions Didier Millet.
- Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugroho. (2008). Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno. Balai Pustaka.
- Soekmono, R. (1973). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Kanisius.
