Kerajaan Singasari merupakan salah satu entitas politik paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara yang menjadi fondasi bagi persatuan wilayah di bawah pengaruh Jawa. Berdiri pada abad ke-13, kerajaan ini mencatatkan transformasi signifikan dari sebuah daerah bawahan menjadi kekaisaran yang disegani di kawasan Asia Tenggara.
Identitas dan Lokasi
- Corak Agama: Hindu-Buddha (Sinkretisme Syiwa-Buddha).
- Lokasi: Berpusat di wilayah Tumapel, sekarang dikenal sebagai daerah Malang, Jawa Timur.
Sumber Sejarah
Keberadaan Singasari terekam kuat melalui berbagai bukti yang saling menguatkan:
- Sumber Dalam Negeri: Kitab Pararaton (menceritakan asal-usul Ken Arok) dan Kitab Negarakertagama (catatan sejarah dan silsilah raja-raja).
- Sumber Luar Negeri: Catatan dari Dinasti Yuan (Tiongkok) yang merekam utusan Meng-chi ke tanah Jawa dan ekspedisi Mongol.
- Prasasti Peninggalan:
- Prasasti Mula Malurung: Menjelaskan silsilah keluarga kerajaan.
- Prasasti Wurare: Berisi penghormatan kepada Raja Kertanegara.
- Prasasti Singasari (1351 M): Mengenai pembangunan candi untuk menghormati para pendahulu.
Daftar Raja yang Memerintah
Silsilah raja Singasari sering kali memiliki perbedaan antara versi Pararaton dan Negarakertagama, namun secara umum adalah sebagai berikut:
- Ken Arok (Rajasa Sang Amurwabhumi): 1222–1227 M.
- Anusapati: 1227–1248 M.
- Tohjaya: 1248 M.
- Ranggawuni (Wisnuwardhana): 1248–1268 M.
- Kertanegara: 1268–1292 M.
Awal Mula dan Perkembangan Kehidupan
Awal mula berdirinya Kerajaan Singasari tidak lepas dari sosok Ken Arok, seorang petualang yang berhasil menggulingkan Tunggul Ametung, akuwu (camat) di Tumapel. Dengan kecerdikan dan kekuatan militernya, Ken Arok kemudian menyerang Kerajaan Kediri dan mengalahkan Raja Kertajaya dalam pertempuran Ganter pada tahun 1222 M. Kemenangan ini menandai berakhirnya dominasi Kediri dan berdirinya Dinasti Rajasa yang menjadi penguasa baru di Jawa Timur.
Dalam kehidupan politik, Singasari dikenal dengan dinamika suksesi yang penuh intrik dan perebutan kekuasaan antarkeluarga. Namun, di balik konflik internal tersebut, struktur pemerintahan Singasari sangat progresif dengan pembagian tugas yang jelas antara birokrasi pusat dan daerah. Stabilitas politik mulai tercapai secara signifikan pada masa pemerintahan Wisnuwardhana yang kemudian diteruskan oleh Kertanegara dengan visi politik yang jauh ke depan.
Secara sosial, masyarakat Singasari terbagi dalam strata yang teratur namun tetap memiliki mobilitas melalui pengabdian militer atau keagamaan. Kehidupan keagamaan tumbuh subur dengan sinkretisme Syiwa-Buddha, di mana raja dianggap sebagai titisan dewa di bumi. Toleransi beragama menjadi kunci utama dalam menjaga harmoni di antara penduduk yang heterogen di wilayah Malang dan sekitarnya.
Sektor ekonomi Singasari bertumpu pada dua pilar utama: agraris dan maritim. Lokasinya yang dikelilingi oleh aliran sungai Brantas menjadikan tanahnya sangat subur untuk penanaman padi, sementara akses ke pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Jawa memungkinkan Singasari mengendalikan perdagangan rempah-rempah. Hal ini membuat kas kerajaan sangat kaya dan mampu mendanai proyek-proyek besar.
Dalam bidang hukum, Singasari menerapkan aturan yang bersumber dari tradisi Hindu-Jawa kuno. Hukum digunakan untuk mengatur hak kepemilikan tanah serta sanksi bagi pelanggar ketertiban umum. Raja bertindak sebagai hakim tertinggi yang memastikan bahwa keadilan ditegakkan demi menjaga stabilitas nasional, terutama dalam menghadapi ancaman pemberontakan dari penguasa-penguasa lokal.
Kekuatan militer Singasari adalah salah satu yang terkuat di zamannya. Kertanegara melakukan modernisasi angkatan perang, terutama angkatan laut, untuk mendukung ambisi ekspansinya. Militer tidak hanya berfungsi sebagai penjaga kedaulatan, tetapi juga sebagai alat diplomasi aktif untuk menundukkan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara tanpa harus selalu melalui pertumpahan darah yang besar.
Kehidupan budaya Singasari mencapai puncaknya melalui arsitektur dan seni pahat. Pembangunan candi-candi megah bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol legitimasi kekuasaan raja. Detail relief pada candi menunjukkan tingkat keterampilan seni yang sangat tinggi, mencerminkan masyarakat yang menghargai estetika dan nilai-nilai spiritualitas yang mendalam.
Hubungan internasional Singasari juga sangat dinamis, terutama saat menghadapi tuntutan dari Kekaisaran Mongol di bawah Kublai Khan. Penolakan Kertanegara untuk tunduk pada Mongol menunjukkan keberanian dan harga diri sebuah bangsa yang berdaulat. Langkah diplomasi yang berani ini sekaligus memicu persiapan pertahanan maritim yang lebih intensif di sepanjang pesisir Nusantara.
Secara keseluruhan, Singasari berhasil mengintegrasikan sistem pemerintahan, ekonomi, dan militer ke dalam satu kesatuan yang solid. Keberhasilan ini menjadikan mereka sebagai mercusuar peradaban di Nusantara sebelum akhirnya tongkat estafet kekuasaan berpindah ke tangan Majapahit. Transformasi dari sebuah daerah kecil menjadi kekaisaran besar ini tetap menjadi studi kasus yang menarik dalam sejarah politik Asia Tenggara.
Puncak Kejayaan dan Masa Keemasan
Masa keemasan Singasari dicapai di bawah pemerintahan Raja Kertanegara. Ia adalah raja pertama yang memiliki visi Nusantara (Wawasan Nusantara). Kertanegara melakukan Ekspedisi Pamalayu (1275 M) untuk menjalin persahabatan dengan kerajaan-kerajaan di Sumatra dan membendung pengaruh Mongol. Di bawahnya, wilayah pengaruh Singasari meluas hingga ke Bali, Kalimantan Barat, Maluku, dan Pahang.
Akhir Kerajaan
Kehancuran Singasari terjadi secara mendadak pada tahun 1292 M. Saat sebagian besar militer kerajaan sedang berada di luar Jawa dalam ekspedisi Pamalayu, Jayakatwang (keturunan raja Kediri) melakukan pemberontakan. Kertanegara terbunuh di istananya saat sedang melakukan upacara keagamaan. Kematian Kertanegara menandai runtuhnya Singasari, namun menantunya, Raden Wijaya, berhasil meloloskan diri dan nantinya mendirikan Kerajaan Majapahit sebagai pelanjut kejayaan Singasari.
Struktur Kerajaan
Pemerintahan Singasari dipimpin oleh seorang Raja yang dibantu oleh penasihat keagamaan (Dharmadhyaksa) dan pejabat administratif (Rakryan). Ada pula pembagian wilayah menjadi daerah-daerah otonom yang dipimpin oleh kerabat raja atau penguasa lokal yang setia.
Peninggalan Kerajaan dan Tradisi
Bangunan dan Tradisi
- Candi Singasari: Tempat pendharmaan Kertanegara.
- Candi Jago: Memiliki relief unik yang bercorak Buddha-Hindu.
- Candi Kidal: Dibangun untuk menghormati Anusapati.
- Tradisi Nyekar/Ziarah: Kebiasaan mengunjungi makam leluhur yang masih bertahan hingga kini di masyarakat Jawa.
Kesusastraan
- Kitab Pararaton: Menceritakan sejarah raja-raja Tumapel dan Majapahit dalam bentuk prosa.
- Seni Patung: Salah satu yang paling terkenal adalah patung Prajnaparamita (Dewi Kebijaksanaan) yang dianggap sebagai perwujudan Ken Dedes, simbol kecantikan dan kecerdasan wanita Jawa.
Daftar Pustaka
- Brandes, J.L.A. (1920). Pararaton (Ken Arok) of het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit.
- Muljana, Slamet. (2005). Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit. Yogyakarta: LKiS.
- Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugroho. (2008). Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno. Jakarta: Balai Pustaka.
- Zoetmulder, P.J. (1983). Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.
