Close Menu
    What's Hot

    Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka

    March 22, 2026

    Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura

    March 22, 2026

    Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan

    March 7, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Facebook X (Twitter) Instagram
    Cerita Saja
    • Home
    • Profil
    • Artikel
      • Kelas
        • Kelas X
        • Kelas XI
        • Kelas XII
      • Legenda
      • Tradisi
      • Mitos
      • Misteri
      • Kota
      • Perundingan/Perjanjian
    • Tokoh
    • Sastra
      • Kitab / Kakawin
      • Suluk
      • Babad
      • Hikayat
    • Komik
    • Kuis
    • Download
      • E-Book
      • Buku Pelajaran
      • Karya Siswa
      • RPP / MODUL AJAR
      • Infografis
      • Slide Presentasi
      • Login
    SoundCloud RSS
    Cerita Saja
    Home»Artikel»Kerajaan Majapahit : Usaha Mempersatukan Nusantara
    Artikel

    Kerajaan Majapahit : Usaha Mempersatukan Nusantara

    Rifa SaniBy Rifa SaniFebruary 4, 2026Updated:February 10, 2026No Comments9 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara yang mencapai puncak kejayaan pada abad ke-14. Kerajaan ini berdiri pada 1293 M dan runtuh pada 1527 M, meninggalkan warisan luas dalam sejarah Indonesia.

    Corak Agama

    Kerajaan Majapahit bercorak Hindu-Buddha, di mana agama Siwa dan Buddha menjadi agama resmi yang dianut secara berdampingan oleh masyarakatnya. Kerajaan ini toleran terhadap keberagaman, dengan Islam mulai berkembang di kalangan masyarakat pesisir meskipun belum mendominasi. Toleransi ini tercermin dalam karya sastra seperti Kitab Sutasoma yang memuat semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.

    Lokasi dan Peta

    Ibu kota Majapahit terletak di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, dekat Sungai Brantas yang strategis untuk perdagangan dan pertanian. Pada puncak kejayaan, wilayahnya membentang hampir seluruh Nusantara termasuk Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara hingga Maluku, serta Semenanjung Malayu seperti Pahang, Kelantan, dan Tumasik (Singapura). Peta wilayah kekuasaan Majapahit menunjukkan struktur mandala dengan 98 negeri bawahan, dari Jambi hingga Timor.

    Sumber Sejarah

    Sumber sejarah Majapahit berasal dari naskah lontar seperti Kitab Negarakertagama (1365 M) karya Mpu Prapanca yang mendeskripsikan kejayaan Hayam Wuruk, Kitab Pararaton, dan Kitab Sutasoma. Prasasti-prasasti seperti Sukamerta, Kudadu, dan Canggu menjadi bukti tertulis tentang pemerintahan dan wilayah. Catatan asing termasuk Yingya Shenglan oleh Ma Huan (penerjemah Zheng He) dan kronik Dinasti Ming memberikan perspektif luar tentang kehidupan sosial-ekonomi Majapahit.

    Sumber Dalam Negeri

    Sumber dalam negeri utama adalah prasasti lokal seperti Prasasti Waringin Pitu, Balawi, Karang Bogem, dan Biluluk yang mencatat peristiwa pemerintahan serta pembangunan. Naskah kuno Jawa seperti Nagarakertagama dan Pararaton ditulis oleh pujangga istana, mendetailkan silsilah raja dan ekspansi wilayah. Candi-candi seperti Penataran dan Bajang Ratu juga berfungsi sebagai sumber arkeologi dengan relief yang menggambarkan kehidupan kerajaan.

    Sumber Luar Negeri

    Catatan Tiongkok dari Dinasti Ming, seperti Yingya Shenglan (1416) oleh Ma Huan, menggambarkan Majapahit sebagai kerajaan kuat dengan armada laut dan upacara kerajaan mewah. Catatan Portugis oleh Tomé Pires (1513) dan Duarte Barbosa mencatat kekuatan militer Majapahit dengan 200.000 pasukan dan teknologi meriam. Ibnu Battuta (abad ke-14) menyebut “Mul Jawa” sebagai negeri luas dengan perempuan pejuang dan kapal perang.

    Prasasti Peninggalan Kerajaan

    Majapahit meninggalkan puluhan prasasti yang menjadi bukti administratif dan religius. Beberapa utama meliputi Prasasti Kudadu, Sukamerta, Prapancasapura, Waringin Pitu, Wurare, Balawi, Parung, Biluluk I-IV, Karang Bogem, Katiden, Canggu, dan Jiwu. Prasasti ini sering ditulis dalam aksara Jawa Kuno dan berisi perintah raja tentang tanah, pajak, atau upacara.

    PrasastiTahun (perkiraan)Isi Utama
    Sukamerta1297Penobatan Raden Wijaya
    Kudadu1313Wilayah administratif ​
    Canggu1358Ekspansi Hayam Wuruk
    Waringin PituAbad 14Pembagian wilayah

    Daftar Raja yang Memerintah

    Majapahit memiliki sekitar 16 raja dari 1293 hingga 1527, dengan masa keemasan di era Hayam Wuruk.tirto+1

    No.Nama/GelarMasa Pemerintahan
    1Raden Wijaya (Kertarajasa)1293–1309
    2Jayanagara (Kalagemet)1309–1328
    3Tribhuwana Wijayatunggadewi1328–1350
    4Hayam Wuruk (Rajasanagara)1350–1389
    5Wikramawardhana1389–1429
    6Suhita1429–1447
    7Kertawijaya (Brawijaya I)1447–1451
    8Rajasawardhana (Brawijaya II)1451–1453
    9Purwawisesa (Brawijaya III)1456–1466
    10Suraprabhawa (Brawijaya IV)1466–1468
    11Kertabhumi (Brawijaya V)1468–1478
    12Girindrawardhana (Brawijaya VI)1478–1489
    13Patih Udara (Brawijaya VII)1489–1527

    Raja-raja terkenal Kerajaan Majapahit meliputi pendirinya Raden Wijaya, penguasa masa keemasan Hayam Wuruk, serta Tribhuwana Wijayatunggadewi yang pertama kali memerintah sebagai ratu. Mereka dikenal karena kontribusi besar dalam pendirian, ekspansi wilayah, dan puncak kejayaan kerajaan.

    Raja Pendiri

    Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana) mendirikan Majapahit pada 1293 setelah mengalahkan Jayakatwang dan mengusir pasukan Mongol, memerintah hingga 1309 dengan fokus konsolidasi kekuasaan. Ia membangun ibu kota di Trowulan dan menekan pemberontakan internal seperti Ranggalawe untuk stabilitas awal.

    Masa Transisi

    Jayanegara (1309-1328), putra Raden Wijaya, menghadapi masa sulit penuh pemberontakan seperti Sadeng dan Nambi, tetapi berhasil mempertahankan kerajaan meski dibunuh tabibnya Tanca. Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328-1350), putri Jayanegara, menjadi ratu pertama yang efektif, menunjuk Gajah Mada sebagai patih dan memulai ekspansi Sumpah Palapa.

    Puncak Kejayaan

    Hayam Wuruk (Rajasanagara, 1350-1389) adalah raja paling terkenal yang memimpin Majapahit mencapai keemasan dengan wilayah 98 negeri bawahan, perdagangan maritim makmur, dan Nagarakertagama sebagai bukti keagungan. Didampingi Gajah Mada, ia menyatukan Nusantara melalui diplomasi dan militer, menciptakan era damai dan kemakmuran.

    Raja Akhir Terkenal

    Girindrawardhana (Brawijaya VI, 1478-1489) dan Kertabhumi (Brawijaya V, 1468-1478) terlibat konflik suksesi yang mempercepat kemunduran, dengan Raden Patah (putra Brawijaya) mendirikan Demak. Patih Udara (Brawijaya VII, hingga 1527) menjadi raja terakhir yang menyaksikan kehancuran ibu kota oleh pasukan Demak.t

    Raja TerkenalMasa PemerintahanPrestasi Utama
    Raden Wijaya1293-1309Pendiri & usir Mongol
    Tribhuwana1328-1350Sumpah Palapa & ekspansi
    Hayam Wuruk1350-1389Puncak kejayaan Nusantara
    Brawijaya V1468-1478Konflik akhir suksesi

    Awal Mula Berdirinya Kerajaan

    Kerajaan Majapahit bermula dari runtuhnya Singhasari akibat pemberontakan Jayakatwang (Adipati Kediri) yang membunuh Raja Kertanegara pada 1292; Raden Wijaya, menantu Kertanegara, melarikan diri ke Madura dibantu Arya Wiraraja. Pada 1293, Wijaya membuka hutan Tarik di tepi Sungai Brantas, mendirikan desa Majapahit (dari buah maja pahit), dan memanfaatkan invasi Mongol untuk mengalahkan Jayakatwang sebelum mengusir Mongol. Ia dinobatkan sebagai Kertarajasa Jayawardhana pada 10 November 1293, menandai berdirinya kerajaan baru dengan pusat di Trowulan.

    Kehidupan Politik: Awal pemerintahan Wijaya diwarnai pemberontakan seperti Ranggalawe, Sora, dan Nambi, yang ditekan untuk konsolidasi kekuasaan; Halayudha sebagai patih akhirnya dihukum mati atas konspirasi. Politik berbasis mandala dengan negeri bawahan mengirim upeti, diperkuat Sumpah Palapa Gajah Mada pada 1336 di era Tribhuwana.

    Kehidupan Sosial: Masyarakat terdiri bangsawan (satria), brahmana, dan rakyat jelata; perempuan aktif seperti ratu penguasa dan pejuang, dengan toleransi agama Hindu-Buddha. Upacara kerajaan seperti puspa sembah menunjukkan struktur sosial hierarkis tapi inklusif.

    Kehidupan Ekonomi: Berbasis agraris (sawah irigasi Sungai Brantas) dan maritim; perdagangan rempah, beras, dan tekstil ke Tiongkok, India; pajak upeti dari 98 negeri bawahan mendukung kemakmuran.

    Kehidupan Hukum: Hukum adil berdasarkan adat Jawa dan Hindu-Buddha; dharmmadhyaksa menangani kasus agama, dengan prasasti sebagai bukti peradilan raja.

    Kehidupan Militer: Tentara profesional 30.000 prajurit (bhayangkara) dengan tombak, keris, kuda, gajah perang; armada jong hingga 400 kapal untuk ekspansi, diperkenalkan mesiu dari Mongol.

    Pada era Jayanagara (1309-1328), pemberontakan berlanjut tapi stabil di bawah Tribhuwana (1328-1350) dengan Gajah Mada; Hayam Wuruk (1350-1389) menyempurnakan sistem dengan ekspansi Nusantara. Politik terpusat tapi fleksibel, sosial harmonis multietnis, ekonomi boomi via pelabuhan Canggu, hukum ketat tapi adil, militer unggul dengan cetbang.

    Puncak Kejayaan dan Masa Keemasan

    Puncak kejayaan Majapahit terjadi pada masa Tribhuwana (1328-1350) dengan penaklukan awal, tapi masa keemasan sejati di era Hayam Wuruk (1350-1389) didampingi Gajah Mada. Saat itu, wilayah mencapai 98 negeri dari Sumatra hingga Maluku, kemakmuran dirasakan rakyat via perdagangan dan pertanian. Ekspansi Palapa gagal total, ditandai Nagarakertagama yang memuji keagungan.

    Akhir Kerajaan

    Setelah Hayam Wuruk wafat (1389), Majapahit mengalami kemunduran akibat perang saudara seperti Perang Regreg (1404-1406) antara Wikramawardhana dan Wirabhumi, melemahkan kendali atas bawahan. Konflik suksesi berlanjut di era Suhita, Kertawijaya, hingga Brawijaya V (1468-1478), dengan pemberontakan Girindrawardhana dan munculnya Demak di bawah Raden Patah (putra Brawijaya V). Islam menyebar di pesisir, bawahan lepas seperti Malaka; pada 1517 Pati Unus menyerang, dan 1527 Sultan Trenggana menghancurkan ibu kota Daha, mengakhiri Majapahit dengan pelarian ke Bali dan Blambangan. Faktor internal (perebutan takhta) dan eksternal (kebangkitan Islam) menyebabkan runtuhnya, menandai era kerajaan Islam di Jawa.

    Struktur Kerajaan

    Struktur pemerintahan Majapahit terpusat dengan raja di puncak, dibantu dewan penasihat seperti Bhattara Saptaprabhu. Wilayah dibagi bhumi (kerajaan pusat), nagara (provinsi oleh rajya/bhre), dan desa.

    TingkatanJabatan/PejabatTugas Utama
    PusatRaja & Rakryan MahamantriPengambilan keputusan tertinggi
    Gajah Mada (Mahapatih)Eksekutif militer & ekspansi
    DaerahDharmmadhyaksaHukum agama
    Rakryan Mantri Pakira-kiranKebijakan administratif

    Batas Wilayah Utama

    Pada masa keemasan, Majapahit menguasai Jawa sebagai pusat, Sumatra timur dan barat (termasuk Jambi, Palembang, Samudra Pasai, Lamuri), Kalimantan (Kapuas hingga Pasir), Semenanjung Melayu (Pahang, Kelantan, Tumasik/Singapura, Kedah), Bali, Nusa Tenggara (Sumbawa hingga Timor), Sulawesi (Luwuk, Buton), hingga Maluku (Ambon, Seram). Wilayah ini lebih luas dari Indonesia modern kecuali Papua barat laut, dicapai melalui Sumpah Palapa Gajah Mada yang menaklukkan Sumatra, Jawa, dan wilayah timur.

    Pembagian Wilayah

    Struktur kekuasaan menggunakan sistem mandala: bhumi pusat (Jawa Timur), nagara (provinsi oleh adipati), dan desa watan. Negeri bawahan mengirim upeti tahunan, dengan hubungan diplomatik ke Siam, Kamboja, dan Champa.

    Kepulauan/RegionWilayah Bawahan Utama
    SumatraJambi, Palembang, Minangkabau, Samudra, Lamuri
    KalimantanTanjung Kutei, Pasir, Barito, Sambas
    Semenanjung MelayuPahang, Kelantan, Tumasik, Kedah
    Bali-Nusa TenggaraBali, Sasak, Dompo, Bima, Sumba
    Sulawesi-MalukuLuwuk, Buton, Ambon, Seram, Timor

    Peta rekonstruksi modern menunjukkan garis pengaruh maritim hingga Malaka, meski kontrol langsung lebih longgar di wilayah periferi.

    Peninggalan Kerajaan

    Peninggalan fisik meliputi Candi Bajang Ratu, Penataran (Blitar), Tikus, Wringin Lawang, dan gapura Trowulan yang menunjukkan arsitektur punden berundak. Prasasti dan keris sebagai artefak; tradisi seperti wayang, gamelan, dan Sumpah Palapa bertahan hingga kini. Situs Trowulan kini UNESCO candidate dengan kanal irigasi kuno.

    Kesusastraan

    Kesusastraan Majapahit kaya kakawin Jawa Kuno: Kitab Negarakertagama (Mpu Prapanca, 1365, 98 pupuh tentang Hayam Wuruk), Sutasoma (Mpu Tantular, asal Bhineka Tunggal Ika), Pararaton (silsilah raja), Arjunawiwaha, Kunjarakarna, dan Parthayajna. Karya ini campuran sejarah, filsafat, dan epik Hindu-Buddha, diakui UNESCO sebagai Memory of the World.

    Wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit mencapai puncak luasnya pada masa Hayam Wuruk (1350-1389), meliputi hampir seluruh Nusantara dan sebagian Semenanjung Melayu. Informasi ini terutama bersumber dari pupuh 13-14 Kitab Nagarakertagama karya Mpu Prapanca, yang mencantumkan 98 negeri bawahan.

    Kerajaan Majapahit meninggalkan banyak candi sebagai peninggalan bersejarah yang menunjukkan kejayaan arsitektur Hindu-Buddha abad ke-14 hingga 15. Candi-candi ini sering berbentuk gapura, petirtaan, atau teras bertingkat, terutama di kawasan Trowulan, Mojokerto, dan sekitarnya.

    Candi Bajang Ratu

    Candi Bajang Ratu di Trowulan, Mojokerto, berbentuk gapura paduraksa setinggi 16,5 meter dengan relief menyerupai pintu masuk kerajaan untuk bangsawan. Dibangun abad ke-14 untuk menghormati Jayanegara, candi ini memiliki arca Nandi dan motif makara yang khas Majapahit.

    Candi Tikus

    Candi Tikus di Trowulan merupakan petirtaan (pemandian suci) berdenah segi empat dengan kolam dan pancuran air untuk ritual kerajaan pada masa Hayam Wuruk. Strukturnya underground dengan terowongan seperti sarang tikus, ditemukan 1914 oleh bupati lokal.

    Candi Penataran

    Candi Penataran di Blitar, situs terbesar Majapahit, terdiri dari kompleks teras dengan relief Ramayana dan relief pemujaan raja, sering dikunjungi Hayam Wuruk. Dibangun sejak abad 12 tapi berkembang di Majapahit, menampilkan arsitektur punden berundak

    Candi Lainnya Terkenal

    • Candi Wringin Lawang (Trowulan): Gapura pintu masuk dengan relief gajah dan ksatria.
    • Candi Brahu (Trowulan): Tempat kremasi raja Brawijaya abad ke-15.
    • Candi Sukuh & Cetho (Karanganyar, Jawa Tengah): Teras bertingkat dengan relief erotis dan kosmologi Hindu akhir Majapahit.
    CandiLokasiFungsi Utama
    Bajang RatuTrowulan, MojokertoGapura kerajaan
    TikusTrowulan, MojokertoPetirtaan ritual
    PenataranBlitarPemujaan raja
    BrahuTrowulan, MojokertoKremasi

    Tradisi

    Upacara Sraddha (pemuatan arwah) dan konsep “Bhinneka Tunggal Ika” yang lahir dari toleransi Siwa-Buddha.

    Daftar Pustaka

    • Muljana, Slamet. (2005). Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit. Yogyakarta: LKiS.
    • Pigeaud, Th. G. Th. (1960). Java in the 14th Century: A Study in Cultural History. The Hague: Martinus Nijhoff.
    • Ricklefs, M.C. (2008). A History of Modern Indonesia since c. 1200. Stanford University Press.
    • Munoz, Paul Michel. (2006). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Singapore: Editions Didier Millet.
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Rifa Sani

    Related Posts

    Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka

    March 22, 2026

    Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura

    March 22, 2026

    Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan

    March 7, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Recent Posts
    • Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka
    • Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura
    • Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan
    • Komik : Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar: Peninggalan Sejarah dan Filosofi Hidup Masyarakatnya)
    • Komik : Kesultanan Banten (Banten Glory and Betrayal)
    • Komik : Kesultanan Aceh Darussalam (The Evolution of Acehnese Governance and Maritime Influence)
    • Komik : Mataram Islam: Dari Alas Mentaok hingga Perjanjian Giyanti
    Sosial Media
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube
    • Soundcloud
    • TikTok
    • WhatsApp
    Latest Posts

    Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka

    March 22, 202617 Views

    Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura

    March 22, 202610 Views

    Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan

    March 7, 202620 Views

    Komik : Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar: Peninggalan Sejarah dan Filosofi Hidup Masyarakatnya)

    March 4, 202610 Views
    Don't Miss
    Artikel

    Masuknya Islam Di Nusantara

    By Rifa SaniFebruary 8, 202685

    PENGANTAR Proses masuknya Islam ke Nusantara tidak terjadi melalui penaklukan militer, melainkan melalui jalur perdagangan…

    Peristiwa Rengasdengklok: Kronologi Penculikan Dramatis yang Mempercepat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

    February 13, 2026

    Peristiwa Rapat Besar di Lapangan Ikada: Kronologi yang Menggelorakan Semangat Revolusi Indonesia

    February 13, 2026
    Demo
    Archives
    About Us
    About Us

    We're accepting new partnerships right now.

    Recent
    • Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka
    • Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura
    • Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan
    • Komik : Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar: Peninggalan Sejarah dan Filosofi Hidup Masyarakatnya)
    • Komik : Kesultanan Banten (Banten Glory and Betrayal)
    • Komik : Kesultanan Aceh Darussalam (The Evolution of Acehnese Governance and Maritime Influence)
    Most Popular

    Masuknya Islam Di Nusantara

    February 8, 2026679 Views

    Peristiwa Rengasdengklok: Kronologi Penculikan Dramatis yang Mempercepat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

    February 13, 2026396 Views

    Peristiwa Rapat Besar di Lapangan Ikada: Kronologi yang Menggelorakan Semangat Revolusi Indonesia

    February 13, 2026238 Views
    Facebook Instagram YouTube WhatsApp TikTok RSS
    © 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Powered by
    ►
    Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
    None
    ►
    Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
    None
    ►
    Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
    None
    ►
    Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
    None
    ►
    Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
    None
    Powered by