Close Menu
    What's Hot

    Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka

    March 22, 2026

    Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura

    March 22, 2026

    Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan

    March 7, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Facebook X (Twitter) Instagram
    Cerita Saja
    • Home
    • Profil
    • Artikel
      • Kelas
        • Kelas X
        • Kelas XI
        • Kelas XII
      • Legenda
      • Tradisi
      • Mitos
      • Misteri
      • Kota
      • Perundingan/Perjanjian
    • Tokoh
    • Sastra
      • Kitab / Kakawin
      • Suluk
      • Babad
      • Hikayat
    • Komik
    • Kuis
    • Download
      • E-Book
      • Buku Pelajaran
      • Karya Siswa
      • RPP / MODUL AJAR
      • Infografis
      • Slide Presentasi
      • Login
    SoundCloud RSS
    Cerita Saja
    Home»Artikel»Kerajaan Tumapel: Cahaya dari Jawa Timur
    Artikel

    Kerajaan Tumapel: Cahaya dari Jawa Timur

    Rifa SaniBy Rifa SaniFebruary 5, 2026Updated:February 15, 2026No Comments5 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Di sebuah wilayah subur bernama Tumapel, yang terletak di lereng pegunungan di Jawa Timur kuno, hidup seorang pria dari golongan sudra bernama Tunggul Ametung. Ia bukanlah keturunan bangsawan, melainkan anak petani biasa yang tumbuh di tengah kemiskinan desa. Namun, semangat ambisinya membara sejak muda, mendorongnya untuk mencari jalan menuju kekuasaan di bawah naungan Kerajaan Kediri yang megah.

    Kerajaan Kediri saat itu dipimpin oleh Sri Maharaja Kertajaya, seorang raja yang haus akan kesetiaan dan kekayaan dari para adipati wilayah. Tumapel, dengan tanah suburnya yang menghasilkan padi emas, tambang emas, dan rempah-rempah langka, menjadi sumber upeti terbesar. Namun, adipati Tumapel sebelumnya memberontak, menolak membayar upeti penuh, sehingga memicu amarah raja.

    Kertajaya mengirim utusan ke Tumapel untuk menaklukkan pemberontak itu. Di sinilah Tunggul Ametung muncul sebagai pahlawan tak terduga. Dengan sekelompok pengikut setia dari kalangan rakyat jelata, ia memimpin serangan balik yang sengit melawan adipati lama. Pertempuran berlangsung seharian penuh, darah mengalir di sawah-sawah, mayat berserakan di bawah terik matahari Jawa.

    Pada akhirnya, Tunggul Ametung berhasil membunuh adipati lama dengan tangan sendiri. Kepalanya dihantar ke Kediri sebagai bukti kemenangan. Raja Kertajaya terkesan dengan keberanian dan kesetiaannya, segera mengangkat Tunggul Ametung sebagai adipati baru Tumapel, meski asalnya rendah. Gelar akuwu pun diberikan kepadanya, menjadikannya penguasa mutlak di wilayah itu.

    Sebagai adipati, Tunggul Ametung langsung mereformasi Tumapel. Ia membangun benteng-benteng kecil di perbatasan, merekrut prajurit dari desa-desa, dan memaksakan pajak berat pada rakyat. Emas dari tambang dan hasil panen dikeruk habis untuk upeti ke Kediri. Rakyat yang protes dihukum mati, kepala mereka dipajang di tiang-tiang desa sebagai peringatan.

    Kekuasaannya semakin kuat berkat dukungan militer Kediri. Tunggul Ametung sering mengirim hadiah mewah: gajah perang berhias emas, kain sutra dari Cina, dan patung-patung dewa dari perunggu. Kertajaya membalas dengan gelar kehormatan dan pasukan cadangan, membuat Tumapel menjadi benteng terdepan kerajaan.

    Namun, di balik kesetiaan itu, Tunggul Ametung dikenal kejam. Ia merampas harta rakyat kaya, memaksa gadis-gadis desa menjadi selirnya, dan membakar desa-desa yang dicurigai menyembunyikan pemberontak. Suatu malam, ia mengeksekusi 50 petani karena menolak menyerahkan panen lebih awal, meninggalkan jeritan yang bergema di lembah.

    Keistimewaan Tumapel menarik banyak petualang dan bandit. Salah satunya adalah Ken Arok, seorang pemuda tampan dari Suku Bange, yang datang sebagai buruh biasa. Tunggul Ametung melihat potensi di matanya yang liar, mengangkatnya menjadi prajurit istimewa. Ken Arok cepat naik pangkat, menjadi panglima perang di pasukan adipati.

    Hubungan mereka rumit. Tunggul Ametung iri pada pesona Ken Arok yang memikat hati banyak wanita, termasuk istrinya sendiri, Tetep. Tetep adalah wanita cantik dari kalangan ningrat, yang dijadikan selir adipati setelah suaminya dibunuh. Ken Arok sering bertemu Tetep secara sembunyi-sembunyi, memicu gosip di istana kecil Tumapel.

    Suatu hari, Tunggul Ametung memanggil Ken Arok ke kamar pribadinya. Ia memuji keberaniannya dalam menumpas bandit di perbatasan, tapi matanya penuh curiga. “Kau seperti saudaraku,” katanya, sambil memberi keris pusaka bernama Mpu Gandring sebagai hadiah. Keris itu indah, dengan pusaka yang berkilau seperti air terjun malam.

    Ken Arok menerima keris itu dengan hormat, tapi hatinya gelisah. Malam itu, ia bertemu Tetep di tepi sungai. Wanita itu mengaku menderita akibat kekejaman Tunggul Ametung, yang sering memukulinya jika marah. “Dia monster berbentuk manusia,” bisik Tetep, air matanya jatuh. Ken Arok berjanji melindunginya.

    Gosip tentang perselingkuhan mereka sampai telinga Tunggul Ametung. Ia mengamuk, membunuh seorang dayang yang ketahuan mengintip. Kemarahan membuatnya memerintahkan pengawasan ketat terhadap Ken Arok. Namun, ambisinya sendiri membuatnya lengah; ia terlalu sibuk mempersiapkan upeti besar untuk Kertajaya.

    Ken Arok, didorong dendam dan cinta, merencanakan pembunuhan. Ia mendekati Mpu Gandring, empu keris terkenal, untuk melengkapi senjata pusakanya. Tapi rencana utamanya adalah menggunakan keris hadiah itu sendiri. Malam bulan purnama tiba, saat Tumapel merayakan panen.

    Tunggul Ametung mengadakan pesta besar di pendopo istana. Minuman arak mengalir, penari berputar, musik gamelan menggema. Ia duduk di singgasana kayu jati, dikelilingi selir dan prajurit. Ken Arok mendekat dengan hormat, membawa cawan arak sebagai tanda setia.

    Dalam obrolan santai, Tunggul Ametung bercanda tentang keris Mpu Gandring. “Senjata itu akan membunuh pemiliknya yang pertama,” katanya sambil tertawa, mengenang ramalan empu pembuatnya. Ken Arok tersenyum tipis, tangannya meraih gagang keris di pinggang.

    Tiba-tiba, dengan gerakan kilat, Ken Arok menusuk perut Tunggul Ametung. Darah muncrat, adipati terhuyung dari singgasana. Para tamu berteriak, prajurit berlarian. Tunggul Ametung memandang Ken Arok dengan mata penuh kejutan dan pengkhianatan. “Ken Arok… saudaraku…” desahnya.

    Tunggul Ametung jatuh ke lantai, tangannya mencengkeram luka. Keris Mpu Gandring tertancap dalam, racun tak kasat mata dari pusakanya mulai bekerja. Ia menggeliat kesakitan, darah menggenang di sekitarnya. Para selir menjerit, Tetep pucat di sudut.

    Dalam napas terakhirnya, Tunggul Ametung mengutuk Ken Arok. “Cinta ini… membunuhku,” gumamnya, mengingat Tetep. Matanya redup, tubuhnya lemas. Demikianlah akhir Tunggul Ametung, adipati Tumapel yang naik dari debu menjadi raja kecil, tapi jatuh karena pengkhianatan orang terdekat.1miliarsantri+2

    Daftar Pustaka untuk kisah Tunggul Ametung berasal dari naskah sejarah Jawa kuno dan adaptasi modern. Sumber primer utama adalah Pararaton (atau Kitab Pararaton), naskah abad ke-15 yang menceritakan asal-usul penguasa Tumapel hingga Singhasari.kuwaluhan+2

    Sumber Primer

    • Pararaton (Naskah kuno Jawa, ditulis sekitar 1513-1461 M). Mengisahkan Tunggul Ametung sebagai akuwu Tumapel yang dibunuh Ken Arok.wikipedia+2
    • Kakawin Nagarakertagama (oleh Mpu Prapanca, 1365 M). Referensi konteks Kerajaan Kediri dan Singhasari.[historia]​

    Buku dan Adaptasi Modern

    Judul BukuPenulis/PenerbitTahunDeskripsi Singkat
    Hitam Putih Ken Arok: Dari Kejayaan hingga KeruntuhanTidak disebutkan / GramediaTidak disebutkanBagian kisah Tunggul Ametung dan kudeta Ken Arok. [gramedia]​
    Tumapel: Cikal Bakal Majapahit (Edisi Revisi)Tidak disebutkan / Perpusnas2022Seluk-beluk Tumapel hingga Majapahit. [bintangpusnas.perpusnas.go]​
    Novel Ken ArokTidak disebutkan / ScribdTidak disebutkanKisah pembunuhan Tunggul Ametung oleh Ken Arok. [id.scribd]​

    Sumber Web Pendukung

    • “Tunggul Ametung.” Wikipedia Indonesia. Akses: 2026. https://id.wikipedia.org/wiki/Tunggul_Ametung[id.wikipedia]​
    • “Kisah Asal usul Tunggul Ametung dalam Sejarah Tumapel.” Kuwaluhan.com, 2017. https://www.kuwaluhan.com/2017/12/kisah-asal-usul-tunggul-ametung-dalam.html[kuwaluhan]​
    • “Tunggul Ametung – Cerita, Sejarah & Silsilah.” Quipper Blog, 2021. https://www.quipper.com/id/blog/mapel/sejarah/tunggul-ametung/amp/[quipper]​
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Rifa Sani

    Related Posts

    Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka

    March 22, 2026

    Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura

    March 22, 2026

    Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan

    March 7, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Recent Posts
    • Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka
    • Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura
    • Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan
    • Komik : Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar: Peninggalan Sejarah dan Filosofi Hidup Masyarakatnya)
    • Komik : Kesultanan Banten (Banten Glory and Betrayal)
    • Komik : Kesultanan Aceh Darussalam (The Evolution of Acehnese Governance and Maritime Influence)
    • Komik : Mataram Islam: Dari Alas Mentaok hingga Perjanjian Giyanti
    Sosial Media
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube
    • Soundcloud
    • TikTok
    • WhatsApp
    Latest Posts

    Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka

    March 22, 202617 Views

    Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura

    March 22, 202610 Views

    Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan

    March 7, 202620 Views

    Komik : Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar: Peninggalan Sejarah dan Filosofi Hidup Masyarakatnya)

    March 4, 202610 Views
    Don't Miss
    Artikel

    Masuknya Islam Di Nusantara

    By Rifa SaniFebruary 8, 202685

    PENGANTAR Proses masuknya Islam ke Nusantara tidak terjadi melalui penaklukan militer, melainkan melalui jalur perdagangan…

    Peristiwa Rengasdengklok: Kronologi Penculikan Dramatis yang Mempercepat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

    February 13, 2026

    Peristiwa Rapat Besar di Lapangan Ikada: Kronologi yang Menggelorakan Semangat Revolusi Indonesia

    February 13, 2026
    Demo
    Archives
    About Us
    About Us

    We're accepting new partnerships right now.

    Recent
    • Konsep Republik Indonesia Menurut Tan Malaka
    • Komik : Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura
    • Kesultanan Malaka: Gerbang Emas Nusantara yang Tak Terlupakan
    • Komik : Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar: Peninggalan Sejarah dan Filosofi Hidup Masyarakatnya)
    • Komik : Kesultanan Banten (Banten Glory and Betrayal)
    • Komik : Kesultanan Aceh Darussalam (The Evolution of Acehnese Governance and Maritime Influence)
    Most Popular

    Masuknya Islam Di Nusantara

    February 8, 2026679 Views

    Peristiwa Rengasdengklok: Kronologi Penculikan Dramatis yang Mempercepat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

    February 13, 2026396 Views

    Peristiwa Rapat Besar di Lapangan Ikada: Kronologi yang Menggelorakan Semangat Revolusi Indonesia

    February 13, 2026238 Views
    Facebook Instagram YouTube WhatsApp TikTok RSS
    © 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Powered by
    ►
    Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
    None
    ►
    Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
    None
    ►
    Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
    None
    ►
    Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
    None
    ►
    Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
    None
    Powered by