
Di sebuah wilayah subur bernama Tumapel, yang terletak di lereng pegunungan di Jawa Timur kuno, hidup seorang pria dari golongan sudra bernama Tunggul Ametung. Ia bukanlah keturunan bangsawan, melainkan anak petani biasa yang tumbuh di tengah kemiskinan desa. Namun, semangat ambisinya membara sejak muda, mendorongnya untuk mencari jalan menuju kekuasaan di bawah naungan Kerajaan Kediri yang megah.
Kerajaan Kediri saat itu dipimpin oleh Sri Maharaja Kertajaya, seorang raja yang haus akan kesetiaan dan kekayaan dari para adipati wilayah. Tumapel, dengan tanah suburnya yang menghasilkan padi emas, tambang emas, dan rempah-rempah langka, menjadi sumber upeti terbesar. Namun, adipati Tumapel sebelumnya memberontak, menolak membayar upeti penuh, sehingga memicu amarah raja.
Kertajaya mengirim utusan ke Tumapel untuk menaklukkan pemberontak itu. Di sinilah Tunggul Ametung muncul sebagai pahlawan tak terduga. Dengan sekelompok pengikut setia dari kalangan rakyat jelata, ia memimpin serangan balik yang sengit melawan adipati lama. Pertempuran berlangsung seharian penuh, darah mengalir di sawah-sawah, mayat berserakan di bawah terik matahari Jawa.
Pada akhirnya, Tunggul Ametung berhasil membunuh adipati lama dengan tangan sendiri. Kepalanya dihantar ke Kediri sebagai bukti kemenangan. Raja Kertajaya terkesan dengan keberanian dan kesetiaannya, segera mengangkat Tunggul Ametung sebagai adipati baru Tumapel, meski asalnya rendah. Gelar akuwu pun diberikan kepadanya, menjadikannya penguasa mutlak di wilayah itu.
Sebagai adipati, Tunggul Ametung langsung mereformasi Tumapel. Ia membangun benteng-benteng kecil di perbatasan, merekrut prajurit dari desa-desa, dan memaksakan pajak berat pada rakyat. Emas dari tambang dan hasil panen dikeruk habis untuk upeti ke Kediri. Rakyat yang protes dihukum mati, kepala mereka dipajang di tiang-tiang desa sebagai peringatan.
Kekuasaannya semakin kuat berkat dukungan militer Kediri. Tunggul Ametung sering mengirim hadiah mewah: gajah perang berhias emas, kain sutra dari Cina, dan patung-patung dewa dari perunggu. Kertajaya membalas dengan gelar kehormatan dan pasukan cadangan, membuat Tumapel menjadi benteng terdepan kerajaan.
Namun, di balik kesetiaan itu, Tunggul Ametung dikenal kejam. Ia merampas harta rakyat kaya, memaksa gadis-gadis desa menjadi selirnya, dan membakar desa-desa yang dicurigai menyembunyikan pemberontak. Suatu malam, ia mengeksekusi 50 petani karena menolak menyerahkan panen lebih awal, meninggalkan jeritan yang bergema di lembah.
Keistimewaan Tumapel menarik banyak petualang dan bandit. Salah satunya adalah Ken Arok, seorang pemuda tampan dari Suku Bange, yang datang sebagai buruh biasa. Tunggul Ametung melihat potensi di matanya yang liar, mengangkatnya menjadi prajurit istimewa. Ken Arok cepat naik pangkat, menjadi panglima perang di pasukan adipati.
Hubungan mereka rumit. Tunggul Ametung iri pada pesona Ken Arok yang memikat hati banyak wanita, termasuk istrinya sendiri, Tetep. Tetep adalah wanita cantik dari kalangan ningrat, yang dijadikan selir adipati setelah suaminya dibunuh. Ken Arok sering bertemu Tetep secara sembunyi-sembunyi, memicu gosip di istana kecil Tumapel.
Suatu hari, Tunggul Ametung memanggil Ken Arok ke kamar pribadinya. Ia memuji keberaniannya dalam menumpas bandit di perbatasan, tapi matanya penuh curiga. “Kau seperti saudaraku,” katanya, sambil memberi keris pusaka bernama Mpu Gandring sebagai hadiah. Keris itu indah, dengan pusaka yang berkilau seperti air terjun malam.
Ken Arok menerima keris itu dengan hormat, tapi hatinya gelisah. Malam itu, ia bertemu Tetep di tepi sungai. Wanita itu mengaku menderita akibat kekejaman Tunggul Ametung, yang sering memukulinya jika marah. “Dia monster berbentuk manusia,” bisik Tetep, air matanya jatuh. Ken Arok berjanji melindunginya.
Gosip tentang perselingkuhan mereka sampai telinga Tunggul Ametung. Ia mengamuk, membunuh seorang dayang yang ketahuan mengintip. Kemarahan membuatnya memerintahkan pengawasan ketat terhadap Ken Arok. Namun, ambisinya sendiri membuatnya lengah; ia terlalu sibuk mempersiapkan upeti besar untuk Kertajaya.
Ken Arok, didorong dendam dan cinta, merencanakan pembunuhan. Ia mendekati Mpu Gandring, empu keris terkenal, untuk melengkapi senjata pusakanya. Tapi rencana utamanya adalah menggunakan keris hadiah itu sendiri. Malam bulan purnama tiba, saat Tumapel merayakan panen.
Tunggul Ametung mengadakan pesta besar di pendopo istana. Minuman arak mengalir, penari berputar, musik gamelan menggema. Ia duduk di singgasana kayu jati, dikelilingi selir dan prajurit. Ken Arok mendekat dengan hormat, membawa cawan arak sebagai tanda setia.
Dalam obrolan santai, Tunggul Ametung bercanda tentang keris Mpu Gandring. “Senjata itu akan membunuh pemiliknya yang pertama,” katanya sambil tertawa, mengenang ramalan empu pembuatnya. Ken Arok tersenyum tipis, tangannya meraih gagang keris di pinggang.
Tiba-tiba, dengan gerakan kilat, Ken Arok menusuk perut Tunggul Ametung. Darah muncrat, adipati terhuyung dari singgasana. Para tamu berteriak, prajurit berlarian. Tunggul Ametung memandang Ken Arok dengan mata penuh kejutan dan pengkhianatan. “Ken Arok… saudaraku…” desahnya.
Tunggul Ametung jatuh ke lantai, tangannya mencengkeram luka. Keris Mpu Gandring tertancap dalam, racun tak kasat mata dari pusakanya mulai bekerja. Ia menggeliat kesakitan, darah menggenang di sekitarnya. Para selir menjerit, Tetep pucat di sudut.
Dalam napas terakhirnya, Tunggul Ametung mengutuk Ken Arok. “Cinta ini… membunuhku,” gumamnya, mengingat Tetep. Matanya redup, tubuhnya lemas. Demikianlah akhir Tunggul Ametung, adipati Tumapel yang naik dari debu menjadi raja kecil, tapi jatuh karena pengkhianatan orang terdekat.1miliarsantri+2
Daftar Pustaka untuk kisah Tunggul Ametung berasal dari naskah sejarah Jawa kuno dan adaptasi modern. Sumber primer utama adalah Pararaton (atau Kitab Pararaton), naskah abad ke-15 yang menceritakan asal-usul penguasa Tumapel hingga Singhasari.kuwaluhan+2
Sumber Primer
- Pararaton (Naskah kuno Jawa, ditulis sekitar 1513-1461 M). Mengisahkan Tunggul Ametung sebagai akuwu Tumapel yang dibunuh Ken Arok.wikipedia+2
- Kakawin Nagarakertagama (oleh Mpu Prapanca, 1365 M). Referensi konteks Kerajaan Kediri dan Singhasari.[historia]
Buku dan Adaptasi Modern
| Judul Buku | Penulis/Penerbit | Tahun | Deskripsi Singkat |
|---|---|---|---|
| Hitam Putih Ken Arok: Dari Kejayaan hingga Keruntuhan | Tidak disebutkan / Gramedia | Tidak disebutkan | Bagian kisah Tunggul Ametung dan kudeta Ken Arok. [gramedia] |
| Tumapel: Cikal Bakal Majapahit (Edisi Revisi) | Tidak disebutkan / Perpusnas | 2022 | Seluk-beluk Tumapel hingga Majapahit. [bintangpusnas.perpusnas.go] |
| Novel Ken Arok | Tidak disebutkan / Scribd | Tidak disebutkan | Kisah pembunuhan Tunggul Ametung oleh Ken Arok. [id.scribd] |
Sumber Web Pendukung
- “Tunggul Ametung.” Wikipedia Indonesia. Akses: 2026. https://id.wikipedia.org/wiki/Tunggul_Ametung[id.wikipedia]
- “Kisah Asal usul Tunggul Ametung dalam Sejarah Tumapel.” Kuwaluhan.com, 2017. https://www.kuwaluhan.com/2017/12/kisah-asal-usul-tunggul-ametung-dalam.html[kuwaluhan]
- “Tunggul Ametung – Cerita, Sejarah & Silsilah.” Quipper Blog, 2021. https://www.quipper.com/id/blog/mapel/sejarah/tunggul-ametung/amp/[quipper]
