Pangeran yang Melepas Mahkota
Kisah ini bermula di tanah Aceh, di istana Sultan Mughayat Syah. Sang Sultan memiliki dua putra: Raden Takyim dan adiknya, Raden Thoyib. Menjelang masa tua sang ayah, sebuah keputusan besar diambil: takhta justru diserahkan kepada Raden Thoyib, sang putra bungsu.
Namun, Raden Thoyib bukanlah pemuda yang haus kekuasaan. Melihat percikan kecemburuan di mata kakaknya, ia memilih jalan damai. Ia mengembalikan takhta tersebut kepada Raden Takyim demi menjaga kerukunan keluarga. Dengan tekad bulat untuk menimba pengalaman hidup, Raden Thoyib meninggalkan kemewahan istana dan berlayar tanpa tujuan pasti, hingga ombak membawanya mendarat di pelabuhan Jepara.
Sang Penjaga Taman yang Misterius
Di Jepara, yang kala itu merupakan kadipaten di bawah Kerajaan Demak, Raden Thoyib memilih hidup dalam penyamaran. Meskipun ia adalah putra raja sekaligus ahli tasawuf, ia tidak segan melamar sebagai abdi dalem—hanya sebagai seorang tukang kebun.
Ketulusannya luar biasa. Ia selalu membersihkan lingkungan kadipaten saat hari masih gelap gulita, sehingga tak ada yang tahu siapa yang melakukan pekerjaan mulia itu. Namun, “cahaya” kesalehan sulit disembunyikan. Suatu hari, seorang utusan Adipati Kalinyamat menemukan Raden Thoyib sedang beribadah dengan sangat khusyuk di sebuah gubuk. Setelah identitas aslinya terungkap, ia pun dipinang menjadi pendamping Adipati Kalinyamat. Sejak saat itu, ia dikenal sebagai Sultan Hadirin, sang “Pendatang yang Menjadi Raja.”
Mandat Syiar di Tanah Selatan
Pernikahan Sultan Hadirin dengan Adipati Kalinyamat tidak dikaruniai keturunan. Atas kebesaran hati sang istri, Sultan Hadirin kemudian dinikahkan dengan Dewi Prodo Tinaba, putri dari Sunan Kudus. Pernikahan ini menjadi jembatan ilmu; Sultan Hadirin tidak hanya menjadi menantu, tetapi juga murid setia Sunan Kudus.
Melihat potensi sang menantu, Sunan Kudus memberikan tugas suci: menyebarkan Islam di wilayah selatan Kudus. Sultan Hadirin memilih Desa Loram Kulon sebagai pusat dakwahnya, sebuah daerah yang saat itu masyarakatnya masih memegang teguh adat dan budaya Hindu yang kental.
Gapura Ghafur dan Akulturasi Budaya
Sultan Hadirin memahami bahwa dakwah tidak bisa dilakukan dengan paksaan. Ia menggunakan strategi budaya yang cerdas. Pada tahun 1596, ia mendirikan sebuah gapura megah berbata merah yang bentuknya menyerupai pura Hindu.
Gapura ini bukan sekadar hiasan. Secara filosofis, nama “Gapura” diambil dari kata Arab Ghafur (Maha Pengampun), yang melambangkan bahwa siapa pun yang melintasi pintu tersebut akan memasuki gerbang pengampunan Tuhan. Di balik gapura itulah, ia membangun Masjid At-Taqwa. Perpaduan arsitektur Hindu, Buddha, dan Islam ini membuat masyarakat merasa diterima, hingga perlahan-lahan mereka memeluk Islam tanpa merasa asing dengan identitas budayanya sendiri.
Warisan yang Terus Hidup
Hingga detik ini, Masjid At-Taqwa (atau Masjid Wali) tetap berdiri kokoh sebagai jantung Desa Loram Kulon. Gema selawat, pengajian kitab, hingga tradisi berjanjenan dan manakiban masih rutin terdengar, menjaga ruh perjuangan Sultan Hadirin tetap menyala.
Gapura ikonik yang kini berstatus Cagar Budaya tersebut dirawat dengan penuh ketelitian oleh warga. Lebih dari sekadar bangunan fisik, Masjid Wali adalah simbol persatuan. Harapan masyarakat tetap sama dari masa ke masa: agar masjid ini selalu ramai oleh jamaah dan menjadi pemersatu warga, melampaui segala perbedaan pendapat maupun pilihan politik.
DAFTAR PUSTAKA
Vega Ma’arijil Ula (2022). Sejarah Masjid Wali Loram Kudus yang Didirikan Sultan Hadirin. Murianews. (https://share.google/aNJJY6gVJK8SiDZfD)
Dian Utoro Aji (2021). Sejarah Masjid dan Gapura Padureksan Warisan Dinasti di Kudus. detikNews. (https://share.google/hhfChogwekwJpJPCh)
